Menu

17 Jan 2020, 04:00 WIB

Mi Instan Direbus Bersama Kemasannya, Ini Kata Pakar

Merebus Mi Instan. | Sumber Foto:(Shutterstock)

SUKABUMIUPDATE.com - Beberapa hari lalu, jagad Twitter sempat viral dengan aksi tukang bakso yang merebus mi instan bersama dengan kemasannya. Padahal, seperti yang kita tahu, kemasan plastik sangatlah berbahaya jika dipanaskan atau bersentuhan dengan makanan panas.

Lalu bagaimana pendapat pakar soal hal ini? Benarkah kemasan plastik mi instan yang ikut direbus itu bisa mengontaminasi makanan yang direbus bersama dengannya?

Guru Besar Pangan dan Gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, MS membenarkan zat berbahaya plastik yang direbus akan mengontaminasi air dan makanan. Tapi, efeknya tidak akan langsung terasa dalam jangka pendek, melainkan berimbas pada jangka panjang.

"Itu pasti terjadi kontaminasi. Dan plastik itu kan tidak masuk kategori makanan, oleh karena itu dia pasti akan mengganggu kegiatan, bukan dalam jangka pendek, tapi jangka panjang," ujar Prof. Ali saat dihubungi Suara.com, Kamis (16/1/2020)

"Kadang-kadang, orang makan plastik campur bakso itu dia rasa nggak ada masalah. Itu (kalau) sekali, tapi kalau jadi kebiasan?" lanjutnya.

Prof. Ali menyoroti kasus ini pernah terjadi seperti minyak goreng yang dipanaskan bersama dengan bungkus plastiknya, untuk membuat rasa makanan lebih gurih. Padahal, itu tidak boleh, karena sesuatu yang bukan memang sebaiknya tidak diproses sebagai makanan. Ia kemudian meminta para pedagang untuk diedukasi dan diberi pemahaman terkait ini.

Dosen yang yang aktif di Departemen Gizi Masyarakat IPB itu mengatakan zat yang boleh masuk ke tubuh adalah makanan, dan plastik tidak boleh masuk ke tubuh karena dampaknya akan berbahaya.

"Kalau unsur plastik itu kan harusnya bukan makanan, sehingga tentu tidak bisa dikatakan aman saja, karena bagaimanapun kalau dia tidak berupa makanan, tidak boleh masuk dalam tubuh seseorang. Tapi biasanya orang sering kaitkan kanker dan sebagainya," papar Prof. Ali.

Sayangnya, apakah benar hal ini bisa menyebabkan kanker, belum ada penelitian lebih lanjut terkait hal ini. Kata Prof. Ali, kanker bersifat multi faktor, dan bukan single faktor.

"Ini yang terus terang saya belum baca, tetapi diketahui bahwa kanker itu penyakit yang penyebabnya multi faktor, tidak danggap single faktor, artinya kalau sudah kena kanker yang dirasakan, dia harus berobat karena sifat kanker itu yang multifaktor," tutupnya.

Sumber: Suara.com

E-mail Redaksi : sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing : marketingsukabumiupdate@gmail.com
Komentar Anda
sukabumiupdate.com tidak bertanggujawab atas komentar yang ditulis. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggujawab komentator seperti yang tertuang dalam UU ITE.

BERITA TERBARU

SUKABUMIUPDATE.com -  Persib Bandung akan melakukan dua laga uji coba sekaligus pada Sabtu, 19 September 2020.  Dilansir dari Tempo.co, Maung Bandung akan menghadapi Mandala Majalengka FC pada pukul 13.00 WIB...

SUKABUMIUPDATE.com - Satuan Tugas Covid-19 Kabupaten Cianjur melakukan rapid test kepada 15 pegawai yang berada di Terminal Pasirhayam, Jumat (18/9/2020). Hasilnya, satu orang yakni kepala terminal, dinyatakan reaktif. Juru Bicara...

SUKABUMIUPDATE.com - Pemerintah Kota Sukabumi berharap ada peningkatan dalam hal Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah atau SAKIP. Apabila pada tahun 2019 nilai SAKIP Kota Sukabumi predikat BB, di tahun...

SUKABUMIUPDATE.com - Tak lengkap rasanya bila Anda berkunjung ke kawasan Pantai Ujung Genteng Sukabumi, namun belum mencoba olahan yang satu ini. Sembari menikmati keindahan pantai selatan Sukabumi, Anda dapat mencoba...

Ikuti Berita
Sukabumi Update Lainnya