Menu

22 Jul 2019, 06:30 WIB

Wisata ke Badui Dalam di Banten, Simak Tips Menginap di Sana

Para porter warga Badui Dalam di Cijahe, Banten, Sabtu, 6 Juli 2019. | Sumber Foto:TEMPO /Anwar Siswadi.

SUKABUMIUPDATE.com - Kampung adat Sunda Badui Dalam, Banten, seperti di Cibeo terbuka bagi umum kecuali turis asing. Pengunjung boleh menginap dengan batas waktu hanya semalam.

"Kalau mau lebih dari semalam harus pindah ke kampung lain," kata Suryo, seorang pemandu Minggu, 7 Juli 2019. Secara umum, perlu dua persiapan untuk rencana bermalam seperti di Kampung Cibeo, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten ini.

Pertama persiapan treking atau berjalan kaki pergi - pulang melintasi jalan setapak hutan di lereng perbukitan. Kedua, persiapan menginap yang menyangkut logistik dan akomodasi.

Pengunjung bisa hanya menggendong sebuah tas harian (daypack) berkapasitas 25 - 30 liter berisi pakaian paling untuk tiga hari, senter, powerbank, handuk, jaket, perlengkapan ibadah, dan air minum. Setrum tidak mengalir ke Kampung Badui Dalam, dan mereka juga melarang pemakaian sabun, pasta gigi, detergen. Sikat gigi dibolehkan, tapi memotret tidak.

Bekal makanan bisa bawa sendiri atau minta disediakan tuan rumah. Setiap rumah warga bisa menampung maksimal delapan orang tamu untuk bermalam. Tamu biasanya memberikan uang sepantasnya ke tuan rumah. Selama menginap, tamu harus tunduk pada aturan dan larangan adat.

Akses Badui Dalam melintasi hutan perbukitan dengan jalan setapak berbatu, Ahad, 7 Juli 2019. TEMPO | Anwar Siswadi

Jika harus membawa muatan lebih dari sebuah tas harian, jasa porter siap membantu. Warga Badui Dalam akan mengangkut tas bawaan pengunjung baik dari titik Cijahe maupun Ciboleger ke rumah penginapan. Pengunjung biasa memberikan uang Rp 50 ribu atas jasa itu.

Adapun persiapan treking yang utama adalah kondisi tubuh yang prima. Sekali jalan bisa selama 2 sampai 4 jam. Tanjakan dan turunan lewat jalan setapak yang berkelok menguras stamina. Apalagi dalam kondisi medan yang licin seusai disiram hujan.

Pelintas harus ekstra hati-hati karena bisa terpeleset hingga terjengkang. Tongkat juga sepatu gunung sangat membantu untuk perjalanan yang aman dalam kondisi itu dibandingkan memakai sendal gunung, sepatu lari, atau sneakers.

Sumber: TEMPO.CO

E-mail Redaksi : sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing : marketingsukabumiupdate@gmail.com
Komentar Anda
sukabumiupdate.com tidak bertanggujawab atas komentar yang ditulis. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggujawab komentator seperti yang tertuang dalam UU ITE.

BERITA TERBARU

SUKABUMIUPDATE.com - Pihak PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 8 Surabaya kembali mengoperasikan dua perjalanan kereta api (KA) jarak jauh dari Surabaya ke Jakarta dan Bandung mulai Jumat 3...

SUKABUMIUPDATE.com - Jumlah pasien positif Covid-19 Kabupaten Sukabumi bertambah 1 orang. Dari data gugus tugas Covid-19/Corona Kabupaten Sukabumi, pada hari ini Jumat (3/7/2020), jumlah total positif  Covid-19 menjadi 52 orang...

SUKABUMIUPDATE.com – Partai Gerindra membocorkan salah satu syarat wajib bagi figur yang akan diusung pada Pilkada Kabupaten Sukabumi mendatang. Kandidat harus memiliki kemampuan menarik partai koalis karena partai besutan...

SUKABUMIUPDATE.com - Sebuah rumah di Kampung Cibojong RT 02/06, Desa Jayabakti, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi hancur tergerus longsor, Jumat (3/7/2020). Peristiwa ini terjadi Jumat pukul 00.05 WIB. Pemilik Rumah, Heri...

Ikuti Berita
Sukabumi Update Lainnya