Menu

Sabtu, 30 Desember 2017, 16:35 WIB

Gus Dur, Kewalian, dan Sufisme

Syaefudin Simon. | Sumber Foto:Dok. sukabumiupdate.com

SUKABUMIUPDATE.com - Hari ini. delapan tahun lalu Gus Dur wafat. Sekarang, di tengah menguatnya radikalisme Islam di tengah masyarakat, ketiadaan Gus benar-benar benar benar kita rasakan. Nyaris tak ada lagi tokoh Islam yang berani pasang badan untuk menghdapi meruyaknya paham redakalisme Islam di Indonesia.

Di balik keberanian Gus Dur di atas, kita tampaknya belum banyak yang tahu siapa sesungguhnya Gus Dur. Gus Dur yang ucapannya sering memicu kontroversi itu, ternyata kehidupannya menyimpan banyak misteri. Membuka misteri itu ternyata butuh waktu. Dan publik akhirnya membuktikan kebenaran misteri yg dilontarkan Gus Dur tersebut.

Barangkali, tak aka ada tokoh Islam yang lebih unik, lebih kontroversial, lebih liberal, dan lebih sufistik ketimbang Abdurrahman “Gus Dur” Wahid di Indonesia. Penilaian orang terhadap Gus Dur pun beraneka macam. Ada yang sangat menyintainya, ada yang sangat membencinya, dan ada yang sangat membenci kemudian berubah menyintainya. Yang terakhir ini terjadi pada M Dawam Rahardjo, tokoh intelektual Indonesia.

Dawam pada periode tertentu nyaris menjadi musuh bebuyutan pemikiran Gus Dur. Tapi sekarang Dawan mengaggap Gus Dur adalah seorang wali dan ia sangat mengaguminya. Perubahan pendapat Dawam terhadap Gus Dur tak lain karena ia seorang “pembaca dan pencari” ilmu yang sangat intens. Dalam pencariannya itulah, akhirnya seorang penulis dan pemikir prolifik seperti Dawan menemukan mutiara yang ada pada diri Gus Dur.

Tidak seperti orang lain yang ujug-ujug mengagumi Gus Dur karena faktor genealogis dan percaya akan kewaliannya tanpa eksplorasi. Dawam mengangumi Gus Dur setelah melalui pencarian yang panjang. Karena itu, kekaguman Dawam terhdap Gus Dur adalah sebuah legacy dari kebesaran Gus Dur di dunia intelektual.

Greg Barton, Indonesianis Monash University, Australia, dalam bukunya “Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid” menulis bahwa Gus Dur di masa mudanya – ketika meninggalkan Jombang untuk belajar ke luar negeri – adalah seorang yng berpikir keras bagaimana Islam bisa melakukan perubahan dunia.

Menjelang dewasanya, Gus Dur pernah terpaku pada Islamisme radikal. Tapi sepulangnya dari luar negeri (belajar di Mesir dan Irak) , Gus Dur beralih menjadi seorang muslim dengan pemikiran Islam liberal. Menurut Greg Barton, perubahan pemikiran Islam Gus Dur tersebut terjadi akibat pengaruh keluarganya; lingkungannya karena dibesarkan dalam dunia sufistik Islam tradisional (pesantren); dan imbas orientasi budaya masyarakat Indonesia modern yang mengarah pada pluralisme dan egalitarianisme.

Ujungnya, tulis Barton, Gus Dur sangat terpengaruh oleh apa yang dibacanya dan apa dipelajarinya. Kedua hal inilah, ungkap Barton, yang membuat Gus berusaha menyintesakan pemikiran Barat modern dengan Islam.

Berhasil? Barton tidak menyimpulkannya. Tapi Barton – sebagaimana para pengamat dan peminat Islam lainnya – melihat sosok Gus Dur adalah pribadi yang unik. Pinjam istilah Barton, Gus Dur dibesarkan dalam “alam yang sangat memukau”. Memukau karena hal-hal yang bersifat lahiriyah dan batiniah; hal-hal yang bersifat material dan spiritual begitu nyata. Hadir di depan mata.

Ibu Gedong Bagus Oka (almarhumah) – seorang pemikir pembaharu Hindhu -- di Karang Asem, Bali pernah bercerita bahwa Gus Dur setiap datang ke padepokannya selalu “trans” atau “ekstase spiritual”. Kemudian dalam kondisi ekstase tersebut, Gus Dur berdialog dengan ruh-ruh suci yang dihormati masyarakat Bali.

Kemampuan seperti itu, meski dikalangan NU sekalipun, jarang dimiliki santri atau kyai biasa. Itu adalah keistimewaan Gus Dur. Keistimewaan seperti itu pula yang menjadikan Gus Dur terkadang tahu apa yang akan terjadi. Apakah Gus Dur seorang indigo atau clairvoyance, kita tak tahu.

Dalam literasi tradisionil NU, fenomena seperti itu erat kaitannya dengan dunia kewalian. Wali, dalam literasi tradisional NU, salah satu cirinya adalah manusia yang khariqul adat. Mempunyai perilaku di luar adat; di luar kebiasaan umum.

Hal ini, misalnya diungkapkan Ir. Basuki Tjahaja Purnama, mantan Gubernur DKI yang akrab dengan Gus Dur dan Kapolri Jenderal Sutarman, yang pernah menjadi ajudan Gus Dur. Basuki pernah diamalkan akan menjadi gubernur dan Sutarman menjadi kapolri, jauh sebelum kenyataan itu terjadi. Bahkan Gus Dur bisa meramalkan masa depannya sendiri. Tahun 1980-an, misalnya, dalam Majalah Matra, waktu diwawancarai Gus Dur menyatakan bahwa dirinya kelak akan menjadi presiden.

Sebuah pernyataan yang saat itu sangat menyentak dan mengagetkan, mengingat betapa berkuasanya Soeharto saat itu. Dan itu terbukti.

Meski kehidupan Gus Dur pekat dengan masalah “spiritual yang nyata” dan irasional, tapi putra KH Wahid Hasyim ini – kata Barton -- seorang yang berpikir liberal. Ini terjadi, lanjutnya, karena Gus Dur dibentuk oleh pendidikan Islam klasik dan Barat modern. Meski demikian, Gus Dur cenderung menggunakan ungkapan-ungkapan keagamaan yang berdasarkan budaya asli; budaya Jawa atau budaya Indonesia.

Tampaknya ini pula yang kemudian oleh “santri-santri intelektualnya” ditransformasikn menjadi Islam nusantara. Islam Nusantara adalah modernisasi Islam dengan basis dan perspektif budaya nusantara. NU di bawah KH Aqil Siroj tampaknya serius mengusung Islam nusantara ini. Pinjam istilah Sudjiwo Tejo, Islam Indonesia harus “lepas” dari jajahan Arab.

Dalam kerangka menginisiasi Islam nusantara ini, tahun 1980-an, misalnya, Gus Dur menyatakan bahwa Assalamu’alaikum bisa diganti dengan kata Selamat Pagi, Selamat Siang, atau Selamat Malam.
Reaksi umat Islam mayoritas atas pernyataan Gus Dur luar biasa.

Bagi yang menolak, alasannya klasik, kata assalamualaikum adalah doa. Doa dari seorang muslim kepada muslim lainnya. Sedangkan selamat pagi apa?

Gus Dur pun menjawab, selamat pagi juga doa. Itu diucapkan Gus Dur 35 tahun lalu. Bagi orang yang percaya bahwa Gus Dur adalah seorang wali, pernyataan tentang “Salam Selamat Pagi” tersebut merupakan “test the water” terhadap munculnya “Islam Nusantara” yang kini sedang dikampanekan NU.

Gus Dur tampaknya berbicara dengan “melihat” kenyataan masa depan, di mana kata “Assalamualaikum” sekarang (di Era ISIS dan Habib Riziq), bukan lagi sebagai doa seperti yang dikemukakan Hadist Nabi, tapi sudah menjadi “simbol politik identitas”.

Betul bahwa kata Assalamualaikum kini diucapkan oleh “orang-orang yang akan berpidato di depan publik dari agama apa pun” tapi kata tersebut tetaplah sebuah simbol politik identitas yang hanya “milik muslim”. Mereka hanya “pinjam” sementara kepada umat Islam. Sama seperti pendapat mereka (kaum islamis) bahwa Indonesia ini milik kaum muslim. Jika pun nomuslim bisa hidup aman di sini, itu karena kebaikan orang muslim.

Bandingkan misalnya dengan kata Selamat Pagi. Kata terakhir ini, untuk Indonesia, jelas lebih netral. Bersih dari kooptasi simbol politik identitas. Di sinilah letak “pemikiran pembaharuan” Islam Gus Dur.

Banyak sekali pernyataan Gus Dur tentang Islam dan keberagamaan yang memicu kontroversi. Tapi sekarang terbkti “kebenarannya” . Seperti pernytaan bahwa “Tuhan tidak Perlu Dibela” .

Saat Gus Dur menyatakan hal itu, hint-nya adalah FPI. FPI adalah organisasi Islam yang merasa aktivitasnya untuk membela Islam. Membela Islam – bagi para pengikut dan simpatisan FPI – sama dengan membela Allah.Ini karena agama yang diterima Allah – menurut FPI – adalah Islam.

Kita tahu, Gus Dur adalah sedikit tokoh Islam yang berani melawan FPI secara frontal. Dan kita tahu, bagaimaa tindakan-tinakan FPI yang destruktif dalam rangka membela Islam atau Allah tersebut.Itulah sebabnya Gus Dur menyatakan bahwa Allah tidak perlu dibela. Allah sudah Maha Besar dengan dirinya sendiri.

Namun demikian, ada pernyataan Gus Dur yang sampai sekarang masih kontroversal dan belum ditemukan relevansinya dengan problem kekinian. Yaitu, ketika Gus Dur menyatakan Qur’an adalah kitab suci paling porno di dunia. Yakinlah, Gus Dur menyatakan hal itu tidak sekedar bicara. Tapi sudah mengeksplorasinya dengan serius.
Suatu ketika, niscaya zaman akan menjelaskannya.

Namun satu hal, saat ini kita bisa merasakan dan melihatnya, Qur’an adalah kitab suci yang disalhgnakan sebagai pembenar poligami. Bahkan orang yang punya istri lebih dari empat pun, melalui tafsir alternatif pemburu kenikmatan seks, Alquran (Annisa:3) bisa menjadi rujukan.

Yang terakhir ini dengan menerjemahkan (secara serampangan) mastna, tsulat, dan ruba’ menjadi dua kwadra plus tiga kwadrat dan empat kwadrat. Jadi, lelaki bisa punya istri 29. Konon sudah ada muslim yang melaksanakannya. Inikah hint dari pernyataan Gus Dur bahwa Alquran adalah kitab suci terporno di dunia? Wllahu ‘alam.

Jadi, Alquran sebagai kitab suci paling porno itu sebuah sindiran telak Gus Dur kepada tokoh Islam tertentu yg menjadikan Quran sebagai pembenar dari kegandrungan seksnya yg menggelegak dengan mengumpulkan wanita cantik dalam haremnya. Suka atau tidak suka, faktanya fenomena seperti itu terjadi di tengah umat Islam. Pinjam istilah Prof Bambang Pranowo, Guru Besar Sosiologi Islam UIN Ciputat, banyak umat Islam yang tertipu tafsir absurd tadi, sehongga mereka lebih mempercayai kehalalan minyak babi cap unta ketimbang minyak unta cap babi. Tragis. Itulah, mungkin, esensi kritik Gus Dur tersebut.

Bagi yang berpikir positif, pernyataan-pernyataan kontroversi Gus Dur tentang Islam adalah sebuah prediksi yang berbasis kajian mendalam tentang Islam dan kitab sucinya. Juga penglihatan batinnya sebagai serang wali. Pinjam istilah Arie Sudjito, sosiolog UGM, apa yang dinyatakan kontroversial dari pernyataan Gus Dur sesunggguhnya mengusung misi pencerahan. Seperti ketika Gus Dur menyatakan anggota DPR seperti murid taman kanak-kanak -- ternyata, kontroversi itu menghilang setelah faaktanya memang menunjukkan seperti itu. Hanya saja tak ada orang yang menemukan padanan kondisi tersebut bagai anak-anak TK seperti cletukan Gus Dur.

Itulah Gus Dur (7 September 1940-30 Desember 2009), cucu pendiri NU, yang hidupnya sederhana dan punya cita-cita melandingkan Islam di bumi Indonesia. Kini, tugas anak-anak intelektualnya-lah yang akan mewujudkan gagasan-gagasan inovatifnya.

Sumber : Dok. sukabumiupdate.com
E-mail Redaksi : sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing : marketingsukabumiupdate@gmail.com
Komentar Anda
sukabumiupdate.com tidak bertanggujawab atas komentar yang ditulis. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggujawab komentator seperti yang tertuang dalam UU ITE.

BERITA TERBARU

SUKABUMIUPDATE.com - Ibu, ayo mendongeng! Agar anak-anak kita pinter mendongeng. Agar cucu-cucu kita senang dongeng! Begitulah nasehat Kartini kepada ibu-ibu yang ada di kampungnya. Di Jepara sana! Mendongeng kelihatannya pekerjaan sederhana....

SUKABUMIUPDATE.com - Hari ini, Sabtu (14/4), di  di Omah Btari Sri, Ragunan Jakarta, sekelompok aktivis muda Islam, mengadakan tahlilan untuk mendoakan Djohan Effendi, Mensesneg Era Presiden Abdurrahman Wahid, yang...

SUKABUMIUPDATE.com - Jumat (9/12) kemarin adalah Hari Antikorupsi Internasional (HAKI). Di Filipina, HAKI diperingati meriah. Bahkan istana ikut memperingatinya. Begitu pula di Singapura. Masyarakat antusias memperingatinya. Di Indonesia? Hanya KPK yang...

SUKABUMIUPDATE.com - Glegarr! Gunung Agung meletus. Gemuruh letusannya melontarkan debu, pasir, dan batuan ke atmosfir Pulau Dewata.  Bumi Pulau Dewata pun meradang. Redup. Sinar mentarinya terhalang debu erupsi sang gunung....

    © 2017 Copyright. SukabumiUpdate.com. All Right Reserved
Ikuti Berita
Sukabumi Update Lainnya