Menu

Sabtu, 30 November 2019, 19:45 WIB

Kotaku Dulu Baru Kamu

| Sumber Foto:Istimewa

Hamdan Sanjaya

(Pemerhati Sosial)

Jatuh Cinta 

Dulu, sebelum negara api padam, nun jauh di sana ada sebuah kota bernama Bencilangit. entah apa yang ada di pikir, melintas di batok para leluhurnya sehingga tempat tersebut diberi nama begitu rupa.

Kota kecil yang kaya akan potensi manusia dengan berbagai keterampilannya seakan bertolak belakang dengan namanya sendiri, warga Bencilangit sungguh dikaruniai, mendapat porsi special dari tuhan. doa yang dipanjatkan menjelang fajar, proposal tebal yang disampaikan via malaikat-malaikat di bolongnya siang, atau munajat yang didendangkan di pekatnya malam, terbang tanpa halang merangsek ke angkasa dengan begitu mudah.

jika kalian pernah dengar di negeri ini konon ada kota dengan berceceran tamantaman indah yang diciptakan tuhan sambil tersenyum maka tidak berlebihan, bisa saya katakan bahwa Bencilangit tercipta saat tuhan sedang jatuh cinta.

Presta City 

Di kota itulah setiap orang bermandi harapan. Semacam inkubator yang menetaskan mahluk-mahluk dengan kemampuan tak biasa. Tangan-tangan ajaib warganya mampu menyulap sampah menjadi permata. Satu sama lain berkolaborasi, bahu membahu, berdaya cipta, dan hari-harinya didominasi dengan inspirasi. Hampir tidak se-gram pun energi yang terbuang sia-sia. Keren belaka. 

Tentu kondisi itu tidak lepas dari peran administratur kota yang begitu bersahaja juga para dewan, wakil rakyat yang mantap menancapkan di masing-masing dadanya janji bakti pada tiap jengkal tanah air serta yang ada di dalamnya. Aparat penegak hukum yang ramah, melayani melindungi juga mengayomi. ormas-ormas yang santun, klubklub kendaraan bermotor yang saling menyayangi satu sama lain, atau para pengusahanya yang senantiasa bersinergi adalah lagu indah yang terdengar tembus ke setiap penjuru negeri. 

Tak ada cela. Semua nyaris sempurna sesuai dengan apa yang dipresentasikan perencana kota pada tiap kesempatan, terukur dan nyata. tidak heran jika saban tahunnya negara banyak mengguyurkan piala, mengguratkan nilai dalam rapor dengan tinta emas, menjadikan Bencilangit sebagai kota yang wajib dicontek, ditiru, dijadikan sebagai tolok ukur peradaban yang gemilang. 

PACINKO (pasukan cinta kota) 

Kota yang damai tak perlu algojo atau apalagi satuan pertahanan sipil yang hampir tiap malam buta mengusir bosan dan kantuknya, mentungin tiang-tiang listrik menciptakan static beat, menyebalkan. Apalagi kebutuhan warga selain rasa aman, nyaman, sejahtera? di kota itu seluruhnya terpenuhi sudah.   

Saat mentari mulai merayap, sinarnya menyentuh ujung-ujung daun, riuh-rendah bocah di gerbang sekolah berebut waktu untuk jadi yang pertama menduduki bangku di kelas yang lantainya bersih tanpa noda. Di tempat lain gunungan sampah tumpahan dari truk mulai dipilah. Petugas kebersihan kota sejak dini hari sudah menyikat habis kotoran-kotoran yang membuat wajah kota jerawatan. Sampai saat matahari menghangatkan punggungnya sampah-sampah itu diolah tanpa sedikit pun merasa jijik. Mungkin karena sumpah jabatan kuat sudah tertanam dalam diri. 

Warga tidak ada yang menganggur. Dari pagi hingga subuh lagi tiap orang punya porsi. masing-masing berperan untuk senantiasa mengoptimalkan diri dan menjaga harmonisasi, karena memang itulah yang menjalar dalam dirinya, cinta. 

Molek 

Bencilangit juga memiliki kesejukan yang khas. Udara gunung yang merambat tak tertahan menyelusup ke sudut-sudut kota. Saat warga sedikit jengah butuh memanjakan telapak kakinya dielus pasir laut, cuma perlu sedikit mecut kuda besi tak lebih dari 2 jam, atau yang mudah reumatik bisa menumpang bis dengan harga murah menuju pantai selatan. Memang kota tak punya gunung, goa, rimba, sungai, pantai, sungai, laut, tapi kota sanggup menyambut para pelancong untuk sejenak istirahat, meluruskan pinggang, rebahan dan menginap sementara untuk melanjutkan petualangan menuju destinasi-destinasi wisata yang direncanakan.  

Dari segala keelokkan yang dimilikinya, Bencilangit tentu menjadi medan magnet yang menyedot kuat. Juragan-juragan dari ibukota juga luar negeri dulu-duluan mematok wilayah kekuasaan. Bak janda molek tanpa anak yang punya kolam koin emas juga rekening gemuk di semua bank. Sangat menggoda, memesona sekujur tubuhnya. Siapa pun bersedia melepas nyawa untuk bisa meminangnya. Kalau perlu ngantri pun tak apa asal ada jatah menyemprotkan sperma, membuahi si janda dengan harap bisa melahirkan putra-putri berbakti sebagai investasi nyata.  

Sulit disudahi cerita tentang prestasi kota. Dengan luas wilayah alakadarnya justru menjadikan karya-karya penghuninya menjadi kentara dan sangat terasa. Saya sendiri tidak berminat untuk bercerita sejarah kota. Banyak sudah penulis lokal mau pun luar negeri membedah kisahnya. Tak jarang mereka berdiskusi keras walau tak sampai saling lempar gelas. Masing-masing pada berebut simpatisan atas karyanya. Bagus, sebuah kompetisi yang kini dianggap berkelas, intelek.  

Ngomong-ngomong perkara intelek, di kota ini juga semakin marak, hampir separuh warung kopi di kota menjadi ajang adu bacot. Akademisi yang nyaris frustasi, para praktisi yang laptopnya hampir kehabisan space memory, bahkan orang-orang dinas yang mau tidak mau terseret nuansa manis-dialogis dibungkus dengan nama kolaborasi. Tujuannya sama, sangat mulia. Ingin memajukan kota. Membangun peradaban baru, menyikut kebiasan-kebiasaan lama yang dianggap residu, lalu bersinergi, bahu membahu meningkatkan kualitas diri dan kondisi lingkungan tercintanya. Kurang hebat apa?. 

Bisa kita saksikan di layar kaca, bapa tua dengan suara sengaunya dengan cerdas merangsang peserta untuk senantiasa berkata-kata. Tentang uang, manusia, bendera, bahkan binatang yang perlu dijaga dari kepunahan. Di kota itupun tak jarang terjadi hal yang serupa. Sajian materi-materi celotehan kelas tinggi bukan hanya jadi teman ngopi, bahkan warung sate di sana tak jarang menjelma arena terbuka untuk saling bicara. Dan yang pasti, tidak ada jeda pariwara. 

Lalu apa yang diinginkan sesungguhnya? Tidak ada. Bergiga-giga data yang ditangkap jurnalis saat acara pun terkonversi sederhana dengan tampilan seadanya di beranda sosial media. Mungkin ini juga bukti kasih terhadap tanah air tercintanya. Meski senantiasa peduli dan tabah mengupas habis apa pun yang menyangkut kebijakan publik, anggaran daerah, mutasi jabatan dan lain sebagainya, pikiran orang-orang di sana hanya fokus dalam wacana. Tidak lebih. 

Telur Balada 

Dari sini bisa dibayangkan bagaimana perilaku adik-adik mahasiswanya. Tentu mereka tak kalah tangkas. Melihat warga yang gemar berwacana, anak-anak kampus lebih tekun lagi mengoperasi setiap sendi anatomi pemerintahan kota. Murni, tanpa pesanan dari alumni apalagi pengurus nakal partai oposan yang sakit gigi. Tidak seperak pun anggaran kota luput dari analisa. Tak penting jurusan apa yang mereka pilih di fakultas, selama kebijakan pemda wajib dikritisi, mereka segera membanting tugas kuliah, menyondongkan jidatnya ke meja dinas terkait, mengaudit tanpa tolelir, berkata lantang menembus cakrawala, berteriak kencang merobek jagat raya, bila perlu menodong dan meludahi hidung penguasa yang tidak becus bekerja. Kerja, kerja, kerjaaa… (gema) 

Mungkin agak beda dengan pimpinan kota di belahan dunia lain, wali kota Bencilangit amatlah senang jika warganya sering protes. LSM, ormas, siapa saja yang unjuk rasa, turun ke jalan menjadi corong rakyat kecil, jelas sangat diapresiasi. Bagaimana pun bentuknya, ruh demokrasi di kota itu memang ketat didekap. Tak jarang kelakuan orang-orang pemda jadi buah bibir di media sosial atau headline di media massa, pokoknya aspirasi harus terdengar sampai ke lubang kuping para pejabat.

Setiap orang berkekuatan untuk bisa menjitak tempurung oknum dinas yang serakah. Kalau orasi masih tidak diindahkan, bolehlah demo diwarnai sedikit atraksi merubuhkan pagar balai kota atau membakar ban mobil bekas. Yang penting kondusif. Water canon standby, polwan cantik berjajar, sound system sekedarnya nyaring melengking. Tidak ketinggalan air minum kemasan, tentu dengan sekepal nasi plus telor balado tanpa kerupuk untuk makan siang usai beraksi di lapangan. Anarki? tidak pernah terjadi. 

Super Survey  

Indeks happiness bilang, Bencilangit meraih ranking tertinggi. Bagaimana tidak, kebutuhan warga di sana sudah terjawab sampai dengan piramida teratas, aktualisasi diri. Orang tidak akan pernah kekurangan fasilitas. Lingkungan asri, jalanan kota tertata rapih. Tidak ada tem-an angkot yang membuat penumpang murka, tidak ada pedagang kaki lima yang serobot hak pengguna jalan. Pedestrian dimanjakan dengan trotoar luas, cantik berhias ragam bunga. Pastilah tukang survey juga tim ahli terpukau saat mereka mulai input data seraya bergumam, anjir, ini kota luar biasa. 

My Secret Identity 

Seiring dengan trend yang terus merangkak, negara mulai menuntun tiap daerah untuk kemudian mempunyai nama, identitas kota yang menjadi inisial kuat untuk ditarungkan dengan daerah-daerah yang ada. Tetangga yang dekat ibu kota dengan bangga menyatakan kotanya adalah kota yang dicintai, ada juga yang berani mengklaim sebagai friendly city, kota cerdas, bahkan ada yang dengan kerendahannya tegas memberi simbol bahwa kota tersebut adalah spirit of java. Bencilangit sendiri bukan tidak geregetan mencari-cari julukan yang pas, tentu yang mengisyaratkan dan mewakili apa-apa yang terkandung di dalamnya, tapi entah atas pertimbangan apa, satu abad lebih umurnya, Bencilangit belum juga mendeklarasikan apa pun terkait identitasnya.

Besar kemungkinan seluruh penghuni mafhum semata pada kotanya yang tidak perlu kata-kata, nama, atau sejenisnya. Biar orang lain bicara karena kita memang begini adanya. Apalah arti sebuah nama? Seperti halnya cinta, tak cukup berjuta kosa kata sanggup menggantikannya. Cukup rasakan apa yang mengalir di dalamnya. Pasti setiap lidah takkan berdusta saat menjilat bumbu-bumbu kota atas apa pun yang ditaburinya.  

Ada saja yang bilang, Bencilangit mempunyai kearifan lokal yang mendekati sempurna, wanitanya. Jangan pernah bandingkan dengan perempuan dari daerah manapun karena memang tidak akan dijumpai hal serupa. Bukan hanya bentuk badan, garis wajah, atau warna kulit, wanita Bencilangit konon beraroma khas, siapapun yang sempat menciumnya tidak akan pernah lupa dan selalu rindu untuk kembali mencumbunya.  

Entahlah ini sebuah kebanggaan atau justru aib yang terpaksa disandang. Padahal di sana padat sekali akan karya dalam wujud yang beraneka. Misal; setiap kota boleh mempunyai tukang mie goreng, tapi warga bersepakat bahwa mie goreng bikinan tetangganyalah yang paling lezat seantero jagat, tiada banding, tiada tanding. Atau bubur ayam, semua lidah setuju tidak akan ada lagi kocekan bubur se-enak bubur ayam di kota itu walau harganya pun boleh jadi termahal se-nusantara. Ada juga kue, sejenis kue balok atau kue pancong, Band rose namanya.

Jangan dulu mencicipi, untuk bisa duduk di lapaknya saja orang sudah pada girang. Dinikmati di pinggiran bercampur debu jalanan, melapangkan dada untuk bersabar karena antrian amat Panjang tak beraturan, menyiapkan nyali juga karena di malam-malam tertentu tak jarang sekitaran lapak dagang tersebut disemuti muda-mudi bermotor yang mudah naik pitam, tak ragu menghantam siapa saja tanpa alasan.  

Pertanyaan yang timbul kemudian, kenapa harus wanita yang menjadi penilaian? 

Sedangkan masih banyak warisan benda atau tak benda yang menghiasi tubuh kota. Memang sulit dipungkiri, dengan luasan 48 KM2 penghuni tiap hari amat senang bergumul di sekitaran kota. Meninggalkan kebun ubinya, mengacuhkan kolam ikan atau kandang kambingnya, meliarkan ladangnya, merelakan tanahnya yang mengering dihisap pembangunan, yang penting bisa nongkrong di kota, selesai perkara.  

Kamu Saja 

Entah apa yang merasuki, kaum Adam pun Hawa di sana pada gila kopi. Tidak kurang dari 64 biji kedai kopi di kota itu beroperasi tiap harinya. Di jalan-jalan protokol, di tiap tikungan, warung makan si uni mundur teratur diganti posisi oleh tukang seduh. Jelas tak sama, biasanya orang pagi-pagi pada ngopi di teras rumah sembari baca koran usang, sesekali ngintip bini menyiram kembang selepas anak berlari ke madrasah di ujung gang. Tukang dagang gorengan mulai ngiter di kampung berharap banyak perempuan-perempuan malas yang tak sempat bikin sarapan.

Kondisi kuno seperti itu tidak terjadi di Bencilangit. Mau sediakan suami makan tinggal pencet tombol pesan. Tidak ada aliran teh panas atau kopi pahit di ruang depan. Di pusat kota semuanya sudah disediakan sekaligus pelayan dan teman kencan, jika berminat, tentu. Yang tua hingga bocah ingusan di kota itu paham betul mana arabika mana robusta. Cuma mengendus tanpa nyeruput mereka sudah tau persis biji kopi itu dipungut dari kebun negara bagian mana, edan kan? 

Balik lagi, kenapa harus wanita yang menjadi wacana yang kuat terkait? Entahlah, saya sendiri kurang begitu tertarik untuk membahasnya, Mugkin lain waktu. 

Membahas kopi? Kamu saja.  

Afgan  

Sempat terlintas curiga, banyak tangan-tangan jahil yang kepingin Bencilangit menjadi sebuah wilayah yang kejepit. Fitnah, tudingan ini-itu memang berat dibendung. Kabar burung bilang; ada yang menyihir aliran sungainya menjadi comberan, membuntingi udaranya dengan berbagai racun mengerikan, menggelontorkan hasut ke setiap telinga agar warga rajin bertengkar, bahkan yang lebih sadis, gosipnya kota sengaja diisolir oleh kabupaten dengan dibangunnya pabrik-pabrik besar di tiap perbatasan. Aksesnya disumbat dari empat penjuru mata angin. Jalanan penghubung antar wilayah dibikin mampet sehingga warga sulit berkoneksi dengan kota lain. Siapa pula yang berpikiran sekejam itu? Sepertinya tidak ada. Memang begitulah jadinya. 

Terbentuk alami setelah terbentur berkali-kali.  

Urat Batu 

Kota adalah nadi negara. Salah satu pilar penyangga yang tak boleh goyah walau diterjang tornado. Dari waktu ke waktu pemerintah pusat tak segan mengucurkan dana untuk kemajuannya. Bermacam-macam program sekaligus rencana penganggaran disusun untuk kemudian diserap sempurna. Tidak boleh didominasi oleh para bajingan yang doyan nelen anggaran. Penghuninya harus senantiasa sehat lahir-bathin, tunduk patuh pada peraturan-peraturan yang telah susah payah disusun manusia-manusia terhormat di gedung dewan dan pemerintahan. Semua elemen masyarakatnya akur, tak boleh bertempur. Yang besar menyayangi yang kecil, yang kecil diupayakan untuk menjadi besar. Setelah sama-sama besar tak boleh saling membentur. 

TUKUL  (Tunjangan Kuli)  

Karena negara butuh percepatan dalam pelbagai pembangunan, pergerakan dari semua lini haruslah diperhatikan. Ini jelas tersangkut kuat pada kinerja penyelenggara pemerintahan, di pusat mau pun di daerah. Dibutuhkan kerja yang dinamis, tepat sasaran dan yang pasti semua wajib terukur kebermanfaatannya. Sebagian orang berpikir bahwa akselerasi membutuhkan energi tambahan, dan ini yang kemudian diamini oleh pihak pemerintah di Bencilangit. Setiap aparatur sipil negara kudu diberi asupan gizi ekstra agar terhindar dari sakit pinggang atau gampang loyo kalau-kalau harus pada ngoceh di ruang rapat sampai larut malam. Dan untuk menjaga asam lambung meninggi, mulut musti disinggahi lapis legit, lemper ayam, kalau bisa martabak telor bebek, nasi goreng kambing pun tak masalah yang penting tak sampai kekenyangan, tidak baik untuk kesehatan. Di kolong langit ini tidak ada yang gratis. 

Tak adil juga jika memang keringat yang keluar begitu deras hanya dibalas dengan ucapan terima kasih. Terima gaji, itu yang paling utama. Singkirkan jauh-jauh khawatir dalam kepala, negara tak mungkin menyengsarakan pegawainya. Bila sakit melanda karena kerja, dari mulai panu, kadas, kurap, gatal-gatal, batuk berdahak hingga serangan angin duduk, negara jelas akan membayarkan kamar rawat sekaligus melunasi obat-obatnya. Kulkas tidak lupa diisikan lauk-pauk untuk keperluan minimal 

26 hari kerja, bayaran sekolah, cicilan rumah, semua tentu diamankan oleh negara. Nah, di luar gaji dan tunjangan dari tetek sampe bengek, pemkot Bencilangit dengan ikhlas menjejalkan lagi ke tiap lubang saku ASN yang namanya TUKUL, alias Tunjangan Kuli. Ada keterangan mengatakan ”berikanlah upah sebelum keringatnya mengering.” Tapi itu bukan jadi masalah prinsip bagi mereka. TUKUL hanya bonus, dedikasi merekalah yang terpenting. Etos kerja yang baik, keteguhan hati dalam bertugas, juga tertib adminsitrasi yang kaku sudah mengurat kencang di sekujur tubuhnya.  

Akselerasi harus terjadi. Toh syarat untuk mendapatkan TUKUL pun tidak sampai membuat punggung melengkung. Cuma tiga unsur penilaian agar pegawai bisa terima itu; absensi elektronik atau kehadiran, kinerja atau capaian kerja, dan kedisiplinan. Tak perlu diiming-imingi TUKUL pun ASN di Bencilangit memang sudah begitu semata. Juara!!! pa Gubernur bilang. Di kota itu tidak satu pun pekerjaan yang yang mangkrak. PPTK, PPK pada gesit seperti penari salsa, Kepala dinas selalu berinovasi, memanfaatkan anggaran menjadi mahakarya yang amat berguna. Yang boleh bergerak lamban hanya keong racun dan ulat bulu. Seluruh pegawai harus tangkas bak kucing garong. Memiliki kesehatan prima, kalau bisa staminanya melebihi atlit lari marathon.

Sigap merespon omelan warga, mantap melaksanakan kegiatan di berbagai medan, tegar menghadapi nyinyiran para oposan, tabah menerima panggilan dari kepolisian atau kejaksaan karena ada saja pekerjaan yang harus diluruskan. Memang manusia hanya berupaya untuk sempurna, setelah kelar koordinasi, serahkan sisanya saja pada yang berwenang. Maka dari itu untuk yang menginjak usia senja, sering encok, bersin-bersin dan batuk kering, silahkan berbakti pada negara di lingkungan rumahnya saja. Kan masih bisa menjadi Ketua Rukun Tetangga, Rukun warga atau jadi pengurus Dewan Kemakmuran Masjid.

Lumayan, ada waktu kumpul-kumpul sambil melahap gorengan di teras usai gowes santai bareng para pensiunan, siapa tahu bisa jadi juru bijak di tengah pengurus yang doyan rebutan pengeras suara saat ada acara pengajian atau menjelang hari-hari lebaran, karena pengabdian itu pada dasarnya sama saja. Dan lagi-lagi negara tidak jadi lupa, masih ada dana pensiun yang mengalir untuk masa tua juga para bini meski sang suami sudah pulang ke pangkuan-Nya. Untuk yang punya bini lebih dari satu tak usah khawatir kedodoran, selalu ada kadeudeuh per bulan dari adik angkatan yang sempat dibantu naik jabatan, dan jelas itu bukan sogokan, hanya tanda terimakasih dan upaya menjaga tali silaturahmi dan mengokohkan persaudaraan. 

Manucipality Fiskal (silent, safety, haha hihi)  

Tidak jarang tamu dari luar kota yang datang ke Bencilangit walau di awal pekan. Warga agak heran, apa tujuan mereka? Penginapan kelas kambing sampai hotel mewah berbintang di sana tak pernah sepi pengunjung. Belakangan baru diketahui bahwa banyak yang sengaja studi banding. Sepertinya orang pada takjub dengan derasnya aliran urang di sana, padahal pabrik atau pergudangan tidaklah banyak, tidak ada mall besar atau gedung perkantoran yang menjulang, malah kota tidak memiliki pasar induk atau pasar tradisional, karena setelah pembongkaran waktu silam hingga sekarang tak pernah lagi berhasil terbangun. 

Lantas, apa yang ingin para tamu itu dapatkan di Bencilangit? Tidak lain tidak bukan, diam-diam mereka mengintip pola bisnis yang ada. Melakukan uji petik, buka meja makan malam di restoran kelas bangsawan, bersilaturahmi dengan para pesohor, koordinasi dengan aparatur, nyanyi-nyanyi bareng di ruang sempit dengan pemborong lokal, bila ada jodoh bolehlah memperistri satu-dua mojang, jaga-jaga daripada kebelet nahan kangen desahan ibunya anak-anak di rumah, lumayan buat cadangan lobang untuk pelepasan, jadi tak perlu banyak jajan. 

Pola bisnis apa yang sesungguhnya berjalan di sana? Tak berpola. Itu polanya. Persetan dengan Kerangka Acuan Kerja, Feasibility Study, Business Plan, atau peta jalan usaha. Yang terpenting dari bisnis adalah kesepakatan. Masing-masing pihak musti sama-sama senang. Bersedia bagi hasil, artinya rela bagi untung atau bagi rugi. Urusan administrasi bukan makanan pengusaha, toh di sana bejibun ronin-ronin sarjana yang biasa ngotak-ngatik perencanaan hingga proses pembuatan laporan akhir kerja. Aman, terukur dan rasional. Oom-oom pemborong tak perlu repot bolakbalik ke kantor dinas.

Bikin stampel dadakan, isi ulang tinta printer, bahkan transaksi pun cukup dilakukan anak buah yang pintar bersiul dan piawai dalam menangani pihak-pihak yang hobi malak. Walhasil, uang terbawa ke dapur jarang yang melalui mekanisme ijab-qabul yang benderang. Mungkin sang bandar masing-masing punya kemaluan cukup besar hingga bisnisnya tak mau diketahui banyak orang. Pokoknya tiap perut sekalian di bawahnya musti aman, tak perlu tahu progres atau proses pekerjaan, asal komisi dan uang dengar lancar, Lapan anam. 

Yang saya bicarakan di atas itu memang pola bisnis gedean, bukan kelas pedagang eceran. Warung kopi sari rasa, tukang seblak, gorengan, atau tukang kangkung tak masuk hitungan. jenis usaha yang tentunya perlu dokumen penting, legalitas dari negara. NPWP, Ijin Usaha, profil perusahaan, atau bukti aset kekayaan yang senantiasa terbundel rapih, siap disodorkan dalam setiap pertemuan.  

P A D (Pendapatan Ajib Daerah) 

Sebagai kota yang teramat tertib, tak satu pun pengusaha yang pura-pura pikun dalam urusan pajak. Pemborong alat tulis kantor, gedung pemerintahan, batik seragam ASN, alat kesehatan hingga gorong-gorong tak pernah alpa setor. Yang punya tempat karaoke, restoran juga hotel pada tak mau ketinggalan, bahkan pedagang asongan dan pengamen jalanan bila memang diberlakukan untuk dipajak mereka dengan senang hati untuk bayar full walau dengan sedikit recehan. Masih banyak lagi pendapatan ajib daerah yang bisa dikumpulkan dalam brankas kota. Papan reklame yang tersebar indah menghiasi wajah kota pun tak luput dalam hitungan. Siapa yang berani bilang bahwa sebenernya itu merupakan sampah visual? 

Kalau pun ada, pastilah itu gerombolan yang tidak kebagian jatah uang jajan. 

Struktur anggaran pendapatan dan belanja daerah Bencilangit sangat sempurna. 

Sanggup mengcover semua kebutuhan dan keinginan warga. Ditambah Corporate Social Responsibility yang dikucurkan tiap perusahaan, warga kota sangat beruntung karena tidak seperak pun dari pundi-pundi uang itu mengalir percuma, apalagi nyelonong ke kantong pribadi anggota dewan, dinas curang, atau ormas yang garang. 

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat betul-betul diindahkan.  

Kenyataan Dalam Dunia Funcity 

Di kota itu mereka hidup dan bekerja, di kota itu mereka makan dan berbahagia. Di tanah yang indah itu bersemilah cintanya yang abadi. Di kota indah itu mereka tersenyum manis. mereka membicarakan kenyataan dalam dunia yang tak kumengerti. Mereka membicarakan kepasrahan dalam spektrum yang hitam dan putih. Mereka merasa benar-benar pintar memasyarakatkan keagungan itu. Mereka  membicarakan kenyataan dalam dunia fun city. 

Aku tak butuh pengertian kotanya. Aku bukan bagian dari sejarah yang mereka tulis, bingkiskan untuk anak dan cucuku. Aku tak butuh penjelasan. Aku bukan bagian dari kebanggan yang membuat mereka berpenghasilan melimpah-ruah. 

Nasionalisme adalah tempat tinggal yang mereka bela. Nasionalisme di kota itu adalah keyataan. Nasionalisme menuntun mereka menuju kesejahteraan. Nasionalisme untuk mereka adalah kenyataan.  

To be ..come one… ….

E-mail Redaksi : sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing : marketingsukabumiupdate@gmail.com
Komentar Anda
sukabumiupdate.com tidak bertanggujawab atas komentar yang ditulis. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggujawab komentator seperti yang tertuang dalam UU ITE.

BERITA TERBARU

SUKABUMIUPDATE.com - Polisi turut meringkus seorang juru parkir dalam kasus dugaan pesta sabu-sabu di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Iskandar Muda, Nagan Raya, Provinsi Aceh, Senin (2/12). "Seorang juru...

SUKABUMIUPDATE.com - Menteri BUMN Erick Thohir telah memecat Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Askhara gara-gara ketahuan menyelundupkan motor Harley-Davidson di kabin pesawat. Meski dikenal sebagai kolektor motor gede itu,...

SUKABUMIUPDATE.com - Jangan becanda berlebihan di dalam pesawat. Apalagi menyebut soal bom dan bahan peledak. Seorang pria berinisial TH, penumpang pesawat AirAsia, di Bandar Udara Internasional Adisutjipto, Yogyakarta, harus menanggung...

SUKABUMIUPDATE.com - Longsor melanda Kampung Cidadap RT 10/02 Desa Muaradua, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, Jumat (6/12/2019) malam, sekitar pukul 20.30 WIB. Longsor terjadi menyusul hujan deras yang mengguyur kawasan...

    © 2017 Copyright. SukabumiUpdate.com. All Right Reserved
Ikuti Berita
Sukabumi Update Lainnya