Menu

17 Sep 2018, 16:11 WIB

Pabrik Teh Parakansalak Riwayatmu Kini

Irman Firmansyah, Anggota Presidium dan Koordinator Riset-Kesejarahan Paguyuban Soekaboemi Heritages. | Sumber Foto:Istimewa

Oleh : Irman Firmansyah.

*Penulis adalah Ketua Yayasan Dapuran Kipahare dan Kepala Riset dan Kesejarahan Soekaboemi Heritages.

Pada hari minggu tanggal 16 September 2018, dua komunitas baru dibawah naungan badan hukum Yayasan Dapuran Kipahare yaitu Jelajah Sejarah Soekaboemi dan Sosial Adventure mengadakan kunjungan ke bekas Pabrik Teh Parakansalak. Tujuan kegiatan ini adalah menelusuri jejak sisa-sisa kejayaan teh nusantara di masa lalu. Dalam kegiatannya, Yayasan Dapuran Kipahare seringkali menggandeng komunitas pecinta sejarah di Sukabumi seperti Soekaboemi Heritages dan Sukabumi Facebook. Kunjungan ini merupakan salah satu bagian dari kunjungan di tiga tempat yaitu Pabrik Teh parakansalak, Padepokan Sari Oneng dan Situ Sukarame.

Parakansalak bisa disebut sebagai cikal bakal perkembangan produksi teh modern di nusantara. Bahkan tali temali dari pekebun parakan salak ini menjadi rumpun besar Preanger Planters (para pemilik perkebunan kaya) di priangan yaitu keluarga Van Der Hucht, Kerkhoven, Holle, Bosscha, Van Mothman dan Mundt. Konon, nama perkebunan Parakansalak berasal dari Park under Salak, dikaitkan dengan lahan indah di lereng gunung salak.  Namun sebenarnya parakan adalah istilah sunda yang berarti sungai yang dikeringkan atau yang airnya sangat dangkal sehingga bisa dilewati tanpa menggunakan jembatan. Sementara kata Salak konon bukan berasal dari buah salak, tetapi berasal dari kata Salaka yang artinya perak. Seperti juga nama kerajaan Salakanagara dalam versi naskah Wangsakerta yang disebut oleh Claudius Ptolemaeus, seorang ahli bumi masa Yunani Kuno yang menyebutkan sebuah negeri bernama Argyrè (perak) diwilayah ini. Parakansalak dikenal karena keindahannya sehingga etnolog belanda bernama PJ Veth (1882) menyebutkan bahwa parakansalak adalah replikanya surga dan sempat diabadikan dalam lukisan Jan Kleintjes (1913). Keindahan tersebut masih terlihat sisanya disekitar pabrik dan kantor yang sering dijadikan wisata gratis masyarakat.

Parakansalak saat ini merupakan lahan perkebunan yang dikelola PTPN XIII. Pada awalnya wilayah ini dijadikan percobaan penanaman teh yang  mulai dilakukan landclearing  sejak tahun 1841 melalui kapala cutak Cicurug. Namun seperti juga percobaan penanaman teh sebelumnya yang dilakukan sejak jaman VOC, penanaman ini masih menemui kendala. Pada tahun 1844,  Guillame Lois Jacques (William) van der Hucht yang datang dari Belanda bersama keluarganya menyewa lahan tersebut dan mengembangkannya bersama keluarga Holle hingga tahun 1857. Upayanya berhasil meski keluarganya menjadi korban yaitu anaknya,  istrinya, adik ipar, sudara dan keponakannya meninggal disitu akibat suatu penyakit. Sebelum akhirnya dilanjutkan oleh keluarga Adrianus Walraven Holle yang menikah dengan Johanna Adriaana louise van Motman (cucu dari G.W.C. van Motman di Bogor) dan kemudian dikelola oleh NV. Preanger Landbouw sampai menjadi perkebunan swasta sejak tahun 1863. A. Holle dan A.E Holle kemudian menyewa persil selama 20 tahun mulai 1 Januari 1863 seluas 291 bau. Kemudian dilanjutkan oleh Alexander Albert Holle (adik AW Holle) yang juga komisaris NV Nederlandsch Thee.

Parakansalak berkembang  menjadi perkebunan teh yang maju dan produknya  terkenal di seantero Eropa, terbukti dari iklan-iklan Parakansalak yang memenuhi media Eropa pada masanya. Perkebunannya sangat maju dan para administraturnya kaya-raya. Pada masa Mundt (1880) didatangkan gajah ke Parakansalak serta sepeda anak-anak, sepeda jenis ini populer sebagai sepeda pertama di Eropa dan dibuat oleh James Starley di inggris tahun 1870. Sepeda jenis ini mempunyai roda besar di depan dan roda mungil di belakang. Perkebunan Parakansalak juga dilengkapi dengan listrik yang digunakan disalurkan melalui PLTA Parakansalak yang jauhnya kira-kira 8 mil. Saat ini sisa pipa air serta bekas mesin turbin masih teronggok seolah tak bernilai.

Di Parakansalak dibangun landhuis yang megah yang disebut masyarakat sebagai gedung Patamon yang sempat menjadi tempat syuting film Oeroeg, karya novelis Hella S. Haasse yang ditulis berdasarkan surat-surat keluarga Preanger Planters di Parakansalak, Sinagar dan Gambung. Namun sayangnya bangunan tersebut sekarang sudah tidak ada, konon dihancurkan masyarakat. Landhuis ini adalah gedung satu tingkat yang megah pada masanya dengan kolam air mancur dan taman. Saat ini hanya ditemukan bekas fondasi dan tangganya saja.  Landhuis tersebut dulunya pernah ditinggali keluarga Van Der Hucht, Holle, Mundt, Boreel, Eduard Douwess Dekker (Multatuli) yang menikah dengan  Everdine van Wijnbergen (Tina). Bahkan Miel Mundt pesepakbola legendaris Belanda yaitu pemain bola legendaris belanda yaitu Emil Gustav Mundt (Miel Mundt). Sementara Boreel yang terkenal jago berburu pernah mendampingi Pangeran Austria Frans Ferdinand dalam perburuan ke Panumbangan Jampang Tengah dan Cidaun bulan April 1893. Kini lahan bekas bangunan ini dihari libur sering digunakan sebagai tempat hiburan rakyat (korsel) yang berbayar mengingat lokasinya yang strategis dekat dengan pasar dan terminal.

Yang paling fenomenal pada masanya adalah kelompok Gamelan Sari Oneng Parakansalak yang menjadi pengiring peresmian menara Eiffel Paris pada tanggal 3 Maret 1889. Pekerja Parakan Salak yang tergabung dalam Gamelan Sari oneng ini menjadi semacam duta budaya Hindia Belanda dan berkeliling dunia diantaranya ke Amsterdam exposition 1883, Paris exposition 1889 dan Columbian exposition di Chicago 1893. Pemain rebab yang juga pemimpin gamelannya adalah Suminta Mein yang juga mertua Tuan Boreel. Gamelan ini mempengaruhi kreativitas Claude Debussy (1862-1918) seorang Komponis musik Perancis dalam berkarya. Bahkan dalam pagelaran The Java Village Chicago tahun 1893, Gamelan Sari Oneng konon direkam oleh Benjamin Ives Gilman, orang yang pertama kali menggunakan fonograf untuk kepentingan analasis musik secara ilmiah, sehingga rekaman ini merupakan rekaman gamelan tertua di dunia. Dari delegasi kampung jawa dan sari oneng yg dikirim ke paris tahun 1889 selama 6 bulan, ada 22 orang pria parakan salak asli dan 5 penari wanita parakansalak yang dikirim kesana. Penyandang dana untuk kampung jawa dan sarioneng termasuk wayang golek bukanlah pemerintah hindia belanda, tetapi Kerkhoven dari Perkebunan Sinagar dan Mundt dari Parakansalak. Mundt menyediakan gamelan, wayang golek dan para musisinya. Saking lamanya disana sempat ada pemainnya yang hamil, bahkan ada orang parakansalak meninggal dan dimakamkan di paris tahun 1889 yang bernama Aneh, dia ditengarai kena penyakit Ruptured Aneurism sejenis penyakit yang merobek pembuluh darah dan meninggal pada tangal 4 juli 1889 di paris. Kematian dan pemakamannya menjadi perbincangan dan dimuat dalam media-media perancis seperti le Figaro 5 juli 1889 dengan artikel berjudul courrier de'l exposition. laporan kematian juga muncul di beberapa media, bahkan harian Le Rappel 8 juli 1889 memuatnya secara eksklusif dlm kolom l'exposition. Saat ini gamelan tersebut berada di museum Prabu Geusan Ulun Sumedang. Budayawan Parakansalak bernama Abah Tebe mencoba mengangkat kembali kebesaran Sari oneng ini dengan mendirikan Padepokan Sari Oneng yang juga dikunjungi oleh komunitas. Kunjungan ini sekaligus ajang peresmian lembaga dibawah naungan Yayasan Dapuran Kipahare yaitu Jelajah Sejarah Soekaboemi dengan ketua Dida Hudaya dan Sosial Adventure dengan ketua Cecep Sulaeman. Peresmian ini dihadiri pula oleh pengamat kebijakan publik Asep Deni.

Kunjungan kemudian dilanjutkan ke Situ (danau) Sukarame, sebuah danau yang sudah dikenal sejak masa kolonial. Situ ini cukup ramai pengunjung saat akhir pekan. Nama Sukarame sendiri berasal dari nama kampung disekitar danau yang dulunya adalah hutan belantara. Kampung tersebut dibangun oleh pelarian pasukan mataram bernama Ama Sadarina yang lari pasca kegagalan serangan ke Batavia tahun 1628. Ama Sadarina kemudian membuka perguruan silat sehingga hutan belantara akhirnya menjadi ramai dan disebutlah kampung Sukarame. Konon danau ini bukan danau alami tapi danau buatan yang dibangun atas perintah tuan Holle, administratur Parakansalak yang menginginkan tempat untuk bersantai. Berkembang kisah rakyat tentang sayembara untuk membangun danau yang merupakan pertemuan tujuh sungai kecil ini. Pemenang Sayembara adalah Ki Abah Mules yang menggali tanah dimalam hari dengan dibantu oleh jin. Namun sesudah sebulan tanah yang digali selalu longsor, menurut saudaranya hal ini diakibatkan dosa dimasa lalu yang pernah membunuh ular hitam. Ular tersebut sebenarnya adalah raja Siluman dihutan tersebut yang bernama Angger cahya. Untuk menebus dosanya akhirnya Ki Abah Mules menikahi istri siluman bernama Dewi Pulasari. Namun Sang Dewi memberi syarat supaya pembangunan danau bisa selesai yaitu kurban berupa bayi kembar. Tuan Holle akhirnya memberikan bayi kembar siam anak adiknya sebagai kurban sehingga danau bisa selesai dibangun. Konon masyarakat kadang melihat sepasang ikan mas sebesar bayi mucul diwaktu tertentu sebagai jelmaan bayi tadi. Kisah ini mungkin hanya legenda tetapi cukup menarik karena berhubungan dengan sejarah Parakan Salak. Para pengunjung juga menikmati kisah-kisah yang menjadi daya tarik dalam setiap tempat wisata.

Kunjungan wisata komunitas ke Perkebunan sebenarnya bukanlah hal yang baru, pada abad 18 sudah ada program bertajuk Visit Parakansalak and Sinagar, semacam tour wisata ke dua daerah tersebut yg sudah dikenal eropa. Bahkan dibentuk perkumpulan Societe de Culture Parakansalak yang berkantor di Amsterdam, Brussel dan Parungkuda. Holle yang dipanggil masyarakat tuan Buhol sering menyambut turis elit yang datang ke parakan salak. Kegiatan dilakukan melalui tur pegunungan, berkuda, memperkenalkan keramahan desa, kunjungan ke perkebunan, kemudian pagelaran wayang golek dan gamelan. Banyak tokoh internasional yang mengunjungi Parakansalak karna keindahannya dimasa lalu, misalnya A.E Crockewitt pada tahun 1864 yang disambut oleh tuan Holle di pabrik dan gudangnya. Pada saat itu perkebunan Parakansalak dianggap mampu mensejahterakan 2.500 penduduk disana, dan dilengkapi fasilitas sekolah dan mesjid. Menurut Crockewitt Parakansalak sepertinya tempat paling indah di Priangan bahkan diseluruh jawa. memiliki ketinggian 3000 kaki, terhampar kebun teh diperbukitan dan sawah yang diselingi pohon kelapa. Sungai berbatasan dengan hutan dan gunung, apalagi kondisi saat matahari terbit melihat awan di gunung gede sangat indah diiringi kicauan burung. Agak jauh dari rumah  Tuan Holle ada sebuah danau (Situ Sukarame) yang dikelilingi pohon nangka, orang bisa berenang ataupun mencari ikan disitu. Mereka juga disuguhi pagelaran Gamelan dan tari-tarian, musik yang melankolis dengan rebab dua senar. Selain itu, FS Kelly atlit dayung internasional peraih medali emas olimpiade yang juga komposer dan tentara perang dunia I, mengunjungi Parakansalak bulan Oktober 1911. Dilereng gunung salak dia memasuki sebuah bungalow yang dilengkapi lapangan tenis dan taman yang indah dan dikelilingi pohon-pohon  besar. Kemudian dia ditemui oleh Mr Boreel kepala administratur disana seorang belanda yang bisa berbahasa inggris fasih. Mereka berkeliling  melihat-lihat pabrik teh, ditempat ini sudah dilengkapi mesin canggih yang digerakan dengan turbin listrik yang jauhnya 8 mil dari pabrik. Terdapat gudang besar dimana wanita-wanita jawa sunda menyortir teh, sangat indah, pemandangan dari bungalow yang berada 2000 kaki sangat mempesona.

Namun kondisi negatif juga tak luput dari laporan pengunjung misalnya Eliza Ruhamah Scidmore (1856-1928) seorang penulis wanita, fotografer dan ahli geografi dari Amerika, sempat mengunjungi  parakansalak dan mencoba melihat kondisi bekas pekerja yang menjadi musisi saat manggung di amerika, kondisinya ternyata memprihatinkan karena mereka pekerja kasar yang dibayar murah dan mempunyai jam kerja panjang. Mereka tinggal digubuk-gubuk pekerja sehingga ironis dengan peran mereka sebagai duta budaya Hindia Belanda. Kondisi kesusahan ini menyebabkan mereka melakukan pemogokan saat tampil di Dutch National Exhibition of Women’s Labour pada tahun 1898. Peristiwa ini tercatat sebagai pemogokan pekerja jawa pertama yang dicatat media. Karena media-media belanda melakukan kritik tajam sehingga akhirnya pengelola membayarkan upah mereka lebih tinggi dengan mencari dana kolektif dari orang-orang belanda saat mengembalikan mereka ke jawa.

Kisah-kisah indah maupun unik tentang Parakansalak lambat laun akan hilang jika tidak diangkat kembali sebagai literasi wisata. Bukan tidak mungkin pula anak cucu kita tidak akan tahu lagi wujud kebun teh dimasa mendatang.  PT. Perkebunan Nusantara VIII telah lama melakukan ekspor teh ke mancanegara dengan merk Teh "Walini". Namun akibat harga teh yang menurun, sementara biaya operasional meningkat, ditambah suhu yang terus berubah semakin panas mengakibatkan produksi teh menyusut. Saat ini pabrik teh tertua Parakansalak memang sudah tutup alias tidak beroperasi, mesin-mesinnya sudah diangkut ke Perkebunan Gedeh, Cianteh dan Goalpara. Demikian pula sisa produk teh dari situ dibawa ke Cianteh dan goalpara, karyawan kantornya dialihkan ke kebun. Produksi teh sendiri kualitasnya sangat menurun karena sukabumi sekarang cuacanya sudah tidak cocok untuk teh, malah cocok untuk sawit, bahkan mangga dan kelapa yang dulu hasilnya kurang bagus, sekarang mulai manis rasanya saat ditanam disini. Nasib perkebunan teh yang terus berkurang juga terjadi di wilayah sukabumi lainnya seperti Perbawati. Kedepannya pusat teh mungkin hanya akan ada disekitaran bandung, sementara Sukabumi akan kehilangan kejayaan tehnya.

Mengingat nilai historisnya yang kuat di parakansalak, ada baiknya kawasan Pabrik Teh Parakan Salak dilestarikan sebagai tempat tujuan wisata sejarah misalnya menjadi Museum Perkebunan Nusantara. Mengingat disinilah Perkebunan dan pengolahan teh modern pertama yang kemudian merajai pasar teh dunia. Disini pula cikal bakal para Preanger Planters berawal. Parakansaak jauh lebih cocok dijadikan museum perkebunan dibandingkan misalnya Cipetir yang dari segi akses dan nilai strategisnya tidak sebaik Parakansalak. Pemerintah dapat membantu untuk membuat MOU dengan PTPN misalnya mengenai pengelolaan museum, bahkan bisa membuat terobosan dengan mengembalikan gamelan Sari Oneng Parakansalak di Museum Geusan Ulun Sumedang ke Museum Perkebunan Parakansalak.

Email: yayasandapurankipahare@gmail.com

E-mail Redaksi : sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing : marketingsukabumiupdate@gmail.com
Komentar Anda
sukabumiupdate.com tidak bertanggujawab atas komentar yang ditulis. Isi komentar sepenuhnya menjadi tanggujawab komentator seperti yang tertuang dalam UU ITE.

BERITA TERBARU

SUKABUMIUPDATE.com - Dihentikan sementara sejak pandemi virus corona di Eropa pertengahan Maret silam, Liga Champions dan Liga Europa akan menuntaskan format babak gugur langsung dalam "final delapan" yang unik,...

SUKABUMIUPDATE.com - Tersangka kasus eksploitasi secara ekonomi dan atau seksual (child sex groomer) terhadap 305 anak di bawah umur, Francois Abello Camille alias FAC (65) menyasar anak jalanan untuk...

SUKABUMIUPDATE.com - RevoNEX, sebuah motor sport yang dikembangkan oleh pabrikan asal Taiwan, Kymco sempat 'cuma' dianggap sebagai angin lalu lantaran motor ini diduga bakal berakhir menjadi konsep. Dilansir dari suara.com,...

SUKABUMIUPDATE. com - Pencarian wisatawan asal Klaten yang hilang di Pantai Kapitol, Desa Karangpapak, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi oleh Tim SAR Gabungan di hari keempat belum membuahkan hasil. BACA JUGA: Dicari...

Ikuti Berita
Sukabumi Update Lainnya