Minggu, 18 Februari 2018 - WIB
Follow Us:

Top 10 Sainstek

Kiamat 23 September Diklaim Numerologis Berdasarkan Alkitab
Robot Seks Harmony Harganya Setara Mobil LCGC di Indonesia
5 Prediksi Stephen Hawking Soal Bumi: Neraka hingga Donald Trump
Misteri Perjalanan Manusia Purba dari Afrika ke Eropa Terungkap
Pasarnya Hingga ke Luar Negeri, Modifikasi Motor Custom di Kadudampit Kabupaten Sukabumi
Kutu Laut Ternyata Makhluk Pemakan Bangkai
Hujan Es di Bandung, Ini Perbedaannya dengan Salju
Melirik Teknologi Simulator Ciptaan Anak Bangsa di Kabupaten Sukabumi
Mahasiswa Unibraw Kembangkan Alat Pendeteksi Kualitas Udara
Kembangkan Pesawat Jet, Honda Habiskan 1 Miliar Dolar AS


Fosil Kelelawar Raksasa 19 Juta Tahun Ditemukan di Selandia Baru

Kamis, 11 Januari 2018 - 22:06:16 WIB


Fosil Kelelawar Raksasa 19 Juta Tahun Ditemukan di Selandia Baru
© ndtv.com
Para ilmuan menemukan fosil kelelawar raksasa yang hidup jutaan tahun yang lalu telah ditemukan di Selandia Baru.

SUKABUMIUPDATE.com - Periset telah menemukan sisa-sisa fosil kelelawar penggali berumur 19 juta tahun di Selandia Baru.

Gigi dan tulang kelelawar yang telah punah itu kira-kira berukuran tiga kali ukuran rata-rata kelelawar hari ini. Gigi dan tulang itu ditemukan dari sedimen berusia 19 sampai 16 juta tahun di dekat kota St Bathans di Central Otago di South Island.

Kelelawar penggali adalah jenis yang aneh karena mereka tidak hanya terbang. Mereka juga berlarian merangkak melewati hutan di bawah serasah daun dan di sepanjang cabang pohon, saat mencari makanan.

Dengan perkiraan berat sekitar 40 gram, fosil kelelawar yang baru ditemukan itu adalah kelelawar penggali terbesar yang diketahui. Kelelawar itu juga merupakan genus kelelawar pertama yang ditambahkan ke fauna Selandia Baru selama lebih dari 150 tahun.

Fosil itu ditemukan oleh tim ilmuwan internasional yang dipimpin oleh University of New South Wales Sydney.

Kelelawar penggali saat ini hanya ditemukan di Selandia Baru, tapi mereka juga pernah tinggal di Australia. “Kelelawar penggali lebih dekat kaitannya dengan kelelawar yang tinggal di Amerika Selatan daripada yang di Pasifik barat daya,” kata penulis studi dari UNSW, Profesor Sue Hand.

"Mereka terkait dengan kelelawar vampir, kelelawar berwajah hantu, kelelawar pemakan ikan dan pemakan kodok, dan kelelawar pemakan nektar, dan merupakan anggota superfamili kelelawar yang pernah membentang di daratan selatan Australia, Selandia Baru, Amerika Selatan dan mungkin Antartika,” tambahnya.

Sekitar 50 juta tahun yang lalu, daratan ini terhubung sebagai sisa terakhir dari Gondwana superkontinen selatan. Saat itu suhu global mencapai 12 derajat Celcius lebih tinggi dari hari ini dan Antartika adalah hutan dan bebas dari salju.

Dengan fragmentasi Gondwana, iklim mendingin dan menyebabkan pertumbuhan lapisan es di Antartika, sehingga kelelawar Australasia ini terisolasi dari kerabat Amerika Selatan mereka.

Studi tersebut, oleh periset dari Australia, Selandia Baru, Inggris dan Amerika Serikat, diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports.

Kelelawar tersebut dinamai Vulcanops jennyworthyae, mengikuti nama anggota tim Jenny Worthy yang menemukan fosil kelelawar itu, dan nama Vulcan, dewa api dan gunung api mitologis Romawi, mengacu pada sifat tektonik Selandia Baru, namun juga ke Hotel Vulcan yang bersejarah di pertambangan kota St Bathans.

 Sumber: Tempo

E-mail Redaksi: redaksi@sukabumiupdate.com
E-mail Marketing: marketing@sukabumiupdate.com




TOPIK: SAINSTEK

Berikan Komentar