Jumat, 23 Juni 2017 - WIB
Follow Us:

Top 10 DariKenari

Lesbi dan Tren Wanita Sukabumi Aktif di Ruang Publik
Hati Heti, Gadis Sukabumi Dibunuh Rasa Nyaman
Wanita Sukabumi di Hong Kong Hindari Godaan Pria Asing dan Lesbi
Orang Tua Cerai, Tinggal dengan Nenek, Gadis Kota Sukabumi Ini Pilih Jadi Lesbi
Warga Sukabumi, Hati-hati Akun AkuLaku
Ditemukan Dompet Warna Coklat di Pamuruyan Kabupaten Sukabumi
Berawal dari Teras Masjid
Bupati dan Waria di Sukabumi
Pengakuan: Mengintip Bisnis Lendir di Ibu Kota Kabupaten Sukabumi
Independen


Wanita Sukabumi di Hong Kong Hindari Godaan Pria Asing dan Lesbi

Rabu, 29 Maret 2017 - 04:00:58 WIB


Wanita Sukabumi di Hong Kong Hindari Godaan Pria Asing dan Lesbi
© Bagea Awi Dan Heni
Salah satu event yang diadakan komunitas lesbian Indonesia, dan TKI menggelar dagangan di Victory Park, Hong Kong.

SUKABUMIUPDATE.com – Kota Beton, begitu Daerah Administratif Khusus Hong Kong, sebuah kota terletak di bagian Tenggara Tiongkok di Pearl River Estuari dan Laut Tiongkok Selatan, biasa disebut. Kota ini populer disebut Kota Beton, lebih karena keterbatasan lahan yang tersedia.

Sehingga tidak heran jika sampai kini, kota yang 90 persen penduduknya menggunakan angkutan publik itu, menjadikannya sebagai kota paling vertikal di dunia.

Selain itu, Hong Kong juga terkenal dengan perkembangannya yang cukup ekspansif, dengan kepadatan penduduk kurang lebih tujuh juta jiwa, dan menempati lahan seluas 1.104 kilometer persegi. 

Menurut data Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), jumlah penghuni kota yang 93,6 persen didominasi etnis Tionghoa itu, pada periode Januari-Februari 2017, sekitar 2.869 di antaranya adalah TKI.

Kota yang populer sebagai surganya TKI itu, menjadi tempat subur bagi pesatnya pertumbuhan pelaku lesbian, atau wanita penyuka wanita, atau jika di Kabupaten Sukabumi mulai populer dengan sebutan "jeruk makan jeruk".

Demikian dituturkan Nunung Supenti (42), warga Kampung Pamatutan, Desa Sundawenang, Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi, kepada sukabumiupdate.com, Senin (13/2) malam, pukul 20.12 WIB. Menurut wanita yang sudah sepuluh tahun bekerja di perusahaan agen tenaga kerja lokal di Hong Kong itu, tren lesbi memang bukan lagi isapan jempol.

“Gampang aja sih kalau pengen melihat mereka eksis secara vulgar, setiap akhir pekan tinggal main atau nongkrong di Taman Victoria (Victory Park-red). Wah, kalau akhir pekan itu, ratusan cewek tomboy beraksi mesra bersama pasangannya,” sahabat waktu kecil penulis ini bertutur melalaui video call Whatsapp.

TKI di Hong Kong memang didominasi pekerja di sektor domestik alias pembantu rumah tangga, sehingga wajar jika wanita berwajah oriental itu, kerap bolak-balik ke Hong Kong International Airport (HKIA), untuk menjemput TKI yang baru tiba dari Tanah Air, mengantarnya ke tempat tinggal sementara, menemaninya kursus memasak beberapa minggu, hingga mengantarnya ke keluarga yang membutuhkan jasa TKI.

“Hari Minggu dan public holiday itu jatah libur mereka. Victory Park sudah disebut sebagai Kampung Jawa, tempat berkumpul TKI di saat libur. Jadi aku tuh kalau kangen Sukabumi, ya jalan-jalan sendiri ke Victory. Di sini aku bisa melihat ratusan orang Indonesia menggelar dagangan di lantai taman. Padahal kalau ketahuan dendanya besar lho, tapi ya mereka anggap di kampung sendiri kali ya,” tambahnya.

Lebih jauh, ia mengungkapkan, para penyuka sesama jenis atau biasa menyebut diri sebagai F2F (female to female) itu, mulai cenderung, ia menyebutnya, kurang waras. Untuk alasan yang satu ini ia memberi contoh soal pernikahan sejenis, wanita dengan wanita. “Itu ada penghulunya lho, Fer. Penghulunya itu cewek lesbi yang dituakan di komunitas mereka, atau dianggap senior gitu,” ungkapnya.

Bahkan, satu hal yang menurutnya bentuk “kegilaan” TKI wanita penyuka sesama jenis yang membuatnya geleng-geleng kepala adalah, mereka terobsesi memiliki keturunan. Sehingga banyak di antaranya, jika sudah “menikah”, pasangan lesbian tersebut membeli boneka dan menjadikannya sebagai “anak”.

“Kamu bayangin deh, nggak gila gimana, mereka itu punya “anak-anakan”, dan anaknya itu boneka,” imbuhnya seraya tertawa.

BACA JUGA:

Lesbi dan Trend Wanita Sukabumi Aktif di Ruang Publik

Bupati dan Waria di Sukabumi

Hati Heti, Gadis Sukabumi Dibunuh Rasa Nyaman

Ditambahkannya, suatu ketika, sepasang lesbian asal Jawa Tengah sedang berakhir pekan di Taman Victoria dengan membawa serta “anak mereka”. Tanpa disengaja, rekannya sesama TKI menyenggolnya, hingga si “anak” terjatuh. Spontan saja sang “ibu” berteriak histeris dan menangis, hingga terjadi percekcokan di antara mereka.

Percekcokan memang bisa diselesaikan secara kekeluargaan, namun cerita ternyata tidak berakhir sampai di situ. Yang terjadi berikutnya, “suami istri” tersebut melaporkan kasus “kekerasan” terhadap boneka itu ke pihak kepolisian setempat. “Aku ngakak, Fer. Aku lihat di tivi, tingkah mereka ini menjadi bahan tertawaan polisi Hong Kong. Pikaseurieun lah pokona.”

Dijelaskan wanita berkacamata itu lebih jauh, pasangan lesbian itu, biasa check in di hotel. Di Hong Kong, menurutnya, banyak hotel yang menjadi langganan TKI lesbian, seperti di kawasan Yau Ma Tei dan Cosway Bay. “Sewa kamar termurah seharinya antara 150 sampai 200 Dollar Hong Kong.”

Namun, menurut lulusan salah satu sekolah menengah atas (SMA) swasta di Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi itu, godaan bagi TKI di Hong Kong memang tidak hanya budaya individualism, namun juga modernisasi yang dialami para TKI membuatnya berpikir, betapa mereka bisa dengan cepat menerima pengaruh budaya baru, dari mulai model busana, style rambut, hingga aksesoris yang dikenakan.

Tren lesbian, menurutnya, sudah bukan lagi rahasia di kalangan TKI, dan ia hanya mencoba mengerti dan memaklumi keberadaan mereka. Ditambahkannya, ia tidak pernah tahu sejak kapan tren hubungan sejenis mulai menjangkiti para TKI. Namun, diakuinya, ketertarikan terhadap sesama jenis, banyak yang berawal dari saat masih berada di penampungan, hingga kemudian berlajut di negeri yang nyaris tidak mudah menemukan tanah itu.

Ditambahkan pemiliki kulit putih dengan tinggi badan 161 centimeter dan berat 50 kilogram itu, godaan bukan hanya dari wanita pelaku hubungan sejenis, namun juga pria asing asal Pakistan, India, dan Bangladesh. Menurutnya, akibat sulit mencari pasangan pria seiman, banyak wanita Indonesia menjalin hubungan asmara dengan pria dari ketiga negara Asia Selatan itu.

Namun sayangnya, menurut dia, banyak wanita Indonesia kemudian yang terjerat cinta buta, sehingga mau mengorbankan apa pun yang dimilikinya, termasuk di antaranya meminjam uang dengan bunga besar, untuk diberikan kepada pacarnya tersebut.

Padahal, ditambahkannya, pria-pria dari ketiga negara itu memang selalu mengincar wanita-wanita asal Indonesia. "Alasannya sih sederhana, katanya, wanita Indonesia itu paling gampang diboonginBener kali ya?"

Pada akhir perbincangan, ia menanyakan alasan penulis bertanya ihwal lesbian kepadanya. Setelah dijelaskan bahwa hal tersebut berawal dari salah satu foto dirinya di akun media sosial miliknya, di mana ia tampil dengan potongan rambut tomboy. Untuk hal satu ini ia menjelaskan, jika itu merupakan caranya menghindari godaan pria asing dan wanita-wanita lesbian yang kerap menggodanya.

"Kalau dipotong pendek itu, cewek lesbian butchi (identik tomboy-red) malas godain, dan pria iseng mengira aku lesbian," jelas wanita yang kini berambut sebahu itu.

Terakhir, ia mengaku bersyukur, karena tidak banyak wanita Sukabumi yang bekerja di Hong Kong. Diakuinya, selama sepuluh tahun ia bekerja, ia hanya pernah dua kali bertemu wanita asal Sukabumi. "Cuma dua kali ya, satu orang Palabuhanratu, satu lagi orang Cisaat. Enggak tahu sekarang mereka di mana, mungkin sudah pulang," pungkasnya.

 

FERY HERYADI

Catatan: Wawancara dilakukan dua kali, yang kedua pada Minggu (19/2) petang, pukul 05.15 WIB.

E-mail Redaksi: sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing: marketingsukabumiupdate@gmail.com





Berikan Komentar