Sabtu, 24 Juni 2017 - WIB
Follow Us:

Top 10 Sukabumi

22 Tahun AQUA Ambil Air di Sukabumi Tanpa Izin
Tewas di Kolam Renang Cimalati, Pelajar SMA N 1 Parungkuda Kabupaten Sukabumi
Lapar Tak Ada Nasi, Bayi di Nyalindung Kabupaten Sukabumi Dilempar Ayah Kandung ke Tungku Api
Bertambah, Korban Jambret Payudara di Bojonggenteng Kabupaten Sukabumi
DPRD Kabupaten Sukabumi Rekomendasikan Penutupan Sementara Pabrik Aqua
Siapa Preman di Balik Kasus Pungli Naker di Pabrik GSI Kabupaten Sukabumi?
Kronologis Rusuh BBRP dan PP di Pamuruyan Kabupaten Sukabumi
Marak Aksi Jambret Payudara, Ini Kesaksian Dua Wanita Bojonggenteng Kabupaten Sukabumi
BBRP dan PP Perang di Pamuruyan Cibadak Kabupaten Sukabumi
Berdarah-darah, Buruh PT Monami Gunungguruh Kabupaten Sukabumi Meregang Nyawa


Tiga Wanita Cipurut Kabupaten Sukabumi Kuli Pecah Batu untuk Mengisi Waktu

Minggu, 18 Juni 2017 - 01:18:41 WIB


Tiga Wanita Cipurut Kabupaten Sukabumi Kuli Pecah Batu untuk Mengisi Waktu
© Ragil Gilang
Ibu-ibu sedang memecah batu.

SUKABUMIUPDATE.com - Proyek pembangunan yang tengah berjalan di wilayah Kabupaten Sukabumi, ternyata menjadi berkah tersendiri bagi sebahagian warga, khususnya warga Kampung Cipurut, Desa Purwasedar, Kecamatan Ciracap.

Proyek yang membutuhkan batu koral tersebut, dijadikan sampingan bagi ibu-ibu, khususnya yang bermukim di Kampung Cipurut RT 38/08.  Rokayah (65) misalnya, sudah tiga bulan ini menjalani profesi pemecah batu. Pekerjaan itu mereka lakukan hanya memanfaatkan waktu saja, karena tidak memiliki aktivitas lainnya.

BACA JUGA : Suami Stroke Anak Gangguan Mental, Sederhana Keinginan Warga Pasiripis Kabupaten Sukabumi Ini

Dalam sepekan, ia bisa mendapatkan upah sebesar Rp50 ribu. 

“Pekerjaan ini saya lakukan daripada menganggur. Kemudian saya mah sudah tak punya suami. Kalau minta terus biaya hidup ke cucu, kan malu. Biar capek, dipaksain saja. Hasilnya halal,” ujar Rokayah kepada sukabumiupdate.com, Sabtu (17/6).

BACA JUGA : Demi Seliter Beras, Janda Tua Ciracap Kabupaten Sukabumi Jadi Kuli Setiap Hari

Pernyataan sama dilontarkan Oop (45), yang masih tetangga Rukayah. Ia menjalani profesi berat itu, karena memiliki waktu luang yang banyak.

“Sekarang sedang tidak musim tanam. Daripada menganggur, mending mencari tambahan uang. Bagi kami uang Rp50 ribu itu sangat lumayan. Kalau dihitung per pengki, upahnya hanya delapan ratus rupiah,” ungkapnya.

BACA JUGA : Janda Empat Anak Kuli Cuci Huni Rumah Bilik di Gunungpuyuh Kota Sukabumi

Sedangkan Riska (25) mengaku sudah menggeluti profesi pemecah batu ini sekitar empat bulan lalu. Hampir sama dengan pengakuan Rokayah dan Oop. Hanya saja, sebut dia, pekerjaan memecah batu ini bisa dilakukan di waktu senggang.

“Ini mah usaha leutik. Tidak tentu tentu kapan dapat uangnya. Kalau batu yang telah dipecahkan diangkat, baru dapat uang,” ujar ibu rumah tangga (IRT) ini.

Reporter: RAGIL GILANG/Kontributor
Redaktur: RUDI RUSMANA
E-mail Redaksi: sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing: marketingsukabumiupdate@gmail.com





Berikan Komentar