Sabtu, 25 November 2017 - WIB
Follow Us:

Top 10 DariKenari

Lesbi dan Tren Wanita Sukabumi Aktif di Ruang Publik
Jadi Duta CFD Indonesia 2017, Siswa SD Negeri V Karang Tengah Kabupaten Sukabumi Diberangkatkan ke Jepang
Wanita Sukabumi di Hong Kong Hindari Godaan Pria Asing dan Lesbi
Aksi Penggalangan Dana Rp5.000 untuk Jembatan Pamuruyan
Hati Heti, Gadis Sukabumi Dibunuh Rasa Nyaman
Pengakuan: Mengintip Bisnis Lendir di Ibu Kota Kabupaten Sukabumi
Orang Tua Cerai, Tinggal dengan Nenek, Gadis Kota Sukabumi Ini Pilih Jadi Lesbi
Warga Sukabumi, Hati-hati Akun AkuLaku
Pengakuan: Mengintip Prostitusi di Ciracap Kabupaten Sukabumi
Ditemukan Dompet Warna Coklat di Pamuruyan Kabupaten Sukabumi


Tafsir Kontekstual Sumpah Pemuda

Minggu, 29 Oktober 2017 - 16:24:55 WIB


Tafsir Kontekstual Sumpah Pemuda
© Dok. Sukabumiupdate.com
Kang Warsa, Guru MTs Riyadlul Jannah.

SUAKABUMIUPDATE.com - Ada dua sumpah yang pernah diucapkan baik secara perorangan juga oleh sebuah kelompok sosial dan ini ditetapkan sebagai sumpah fenomenal,  yaitu Amukti Palapa, sumpah seorang Gajahmada untuk membebaskan nusantara dari pengaruh kekuasaan asing sebelum dia lengser atau purna dari jabatan sebagai seorang patih Majapahit. Sumpah Palapa ini diucapkan pada tahun 1336 M, saat Kerajaan Wilwatikta atau Majapahit berada di puncak kejayaan. Dalam versi Babad Tanah Jawi, Amukti Papala ini diucapkan oleh Gajahmada pada tahun 1334 M.

Beberapa ahli sejarah masih memiliki penafsiran berbeda terhadap makna di balik Amukti Palapa  serta peristiwa yang terjadi saat Gajahmada mengucapkannya. Secara bahasa, sejarahwan ada yang menafsirkan Amukti Palapa diucapkan oleh Gajahmada setelah ia meminum air kelapa, penafsiran kelapa ini merujuk pada arti Palapa. Namun sumber lain menyebutkan, arti dari Amukti Palapa adalah purna tugas, atau selesai memegang jabatan. Dengan kalimat sederhana dapat ditafsirkan, Gajahmada tetap akan mempersatukan nusantara sampai ia selesai menunaikan tugas sebagai seorang patih.

Upaya Gajahmada –menurut Babad Tanah Jawi – dapat dikatakan cukup berhasil, pada tahun 1365 M, 31 tahun setelah Amukti Palapa diucapkan, hampir seluruh kepulauan di nusantara dapat dikuasi oleh kerajaan Majapahit (Majapait, versi Babad Tanah Jawi), antara lain; Tanah Jawa Wétan lan Tengah, Sumatra, wiwit Lampung tekan Acih (Perlak), Bornéo (Banjarmasin), Sélebes (Banggawai, Salaiya, Bantaiyan), Florès (Larantuka), Sumbawa (Dompo), saparoning Malaka lan sabageyaning Nieuw Guinéa (Van Rijkevorsel, 1925:17).

Hanya Tanah Sunda yang tidak pernah ditaktlukkan oleh Majapahit sebagaimana termaktub di dalam buku tersebut: “Tanah Sundha ora ditelukaké. Kang jumeneng ratu ana ing tanah Sundha mau ajejuluk Prabu Wangi, putrané putri dilamar Prabu Ayam Wuruk iya dicaosaké, ananging Prabu Wangi banjur pasulayan karo Patih Gajahmada, nganti dadi perang.” (Tanah Sunda tidak dapat ditaklukkan. Strategi yang dilakukan oleh Hayam Wuruk adalah dengan melamar putri Prabu Wangi.  Raja Tanah Sunda itu tidak menerimanya kemudian ditafsirkan oleh Gajahmada bahwa penaklukkan Sunda harus diakhiri dengan perang). Sampai saat ini, sejarah tentang Perang Bubat bahkan keberadaan Gajahmada sendiri masih merupakan hal yang samar.

Dua versi yang saling bertolak belakang terhadap sikap Gajahmada itu tidak hanya berlangsung saat ini, di akhir abad ke-19, tepatnya pada tahun 1894, Sejarahwan Hindia Belanda, Biegman menulis - di dalam buku Hikajat Tanah Melajoe - bahwa upaya Kerajaan Majapahit untuk memperluas wilayah kekuasaannya itu disebut sebagai bentuk penjajahan atas kerajaan-kerajaan lain yang telah ada di nusantara. Kalau orang Madjapahit singgah di tanah jang asing, maka atjap kali diboetnja kampoeng disitoe, diantara kampoeng itoe ada jang mendjadi Bandar  jang ramai, sebab itoe djadjahan Madjapahit bertambah-tambah loeas (Biegman, 1894: 11). Tentu saja kalimat yang ditulis dalam pandangan seorang Hindia Belanda berbeda dengan sudut pandang kaum aristokrat pra kemerdekaan. Dalam pandangan kaum terpelajar Indonesia, penaklukkan oleh Gajahmada merupakan upaya untuk menyatukan nusantara, dengan konteks saat itu telah datang orang-orang asing ke wilayah ini.

Sumpah kedua yang sangat fenomenal yaitu Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, diikrarkan saat kongres pemuda se-Indonesia ke II di Jakarta. Sumpah itu berisi; para pemuda mengaku bertumpah darah satu, tanah air Indonesia, berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, dan berbahasa yang satu, bahasa Indonesia.

Ketiga unsur yang dicantumkan dalam Sumpah Pemuda itu merupakan dua dari empat syarat  berdirinya sebuah negara, adanya tempat dan rakyat. Sumpah Pemuda merupakan tekad dari para pemuda untuk merdeka dan lepas dari pemerintahan Belanda. Pesan kepada dunia tentang tunas negara baru telah mulai tumbuh.

Kita bukan merupakan pelaku sejarah saat itu, tetapi dengan membaca dan meneliti fakta-fakta sejarah tentang Kongres Pemuda di Jakarta dapat membuat diri kita –terutama para pemuda – sangat merinding sebagai tanggapan terhadap tekad mereka untuk lebih mengedepankan semangat persatuan dan tujuan bersama dari sekadar egosentrisme kelompok dan keakuan, rasa bangga terhadap golongan.

 Para pemuda waktu itu menyadari, persatuan dan kesatuan merupakan hal berbeda, sebab persatuan merupakan sebuah proses yang harus dijalani. 17 tahun setelah Sumpah Pemuda, tekad persatuan ini telah mengilhami para founding father negara ini dengan menempatkannya pada sila ke-3 dari Pancasila, Persatuan Indonesia.

Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 merupakan tonggak sejarah semangat inklusivitas dengan mengabaikan eksklusivitas masing-masing kelompok. Jong Java tidak merasa lebih agung dari Jong Celebes, Jong Islamieten Bond yang didirikan di Batavia pada tahun 1925 tidak merasa lebih suci dari Perkumpulan Pemuda Kristen. Para veteran Jong Islamieten Bond seperti Kasman Singodimedjo, Mohammad Roem, Syafrudin Prawiranegara, dan Mohammad Natsir merupakan pemuda-pemuda yang memiliki andil di dalam merumuskan ideologi negara ini.

Kesadaran baru dari para pemuda dan kelompok-kelompoknya terbuka pada dekade kedua di abad ke-20. Pemerintah Hindia Belanda pada dekade pertama memberikan keleluasaan terhadap pendirian berbagai organisasi kepemudaan tidak sekadar untuk menggali potensi pemuda Hindia Belanda saja, kecuali itu dilatarbelakangi juga untuk menumbuhkan  sikap eksklusif para pemuda atas etnisitasnya. Jong Java merasa bangga dengan kesukuannya terjebak dalam romantisme kejayaan leluhur mereka.

Jong Sumatera pun demikian, mereka merasa diri sebagai pemuda superior karena bahasa Melayu yang telah menjadi bahasa pergaulan di nusantara merupakan bahasa milik mereka. Pada tahun 1925, barulah kesadaran baru lahir, sebuah kesadaran ideologis untuk mempersatukan seluruh unsur pemuda dari berbagai latar belakang, agama, suku, dan golongan.

Sumpah Pemuda merupakan ikrar suci tentang satu ikatan, satu tumpah darah, satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Dengan sikap rendah hati, Jong Sumatera tidak merasa kecewa bahasa Melayu diganti dengan sebutan baru, Bahasa Indonesia. Di dalam A Short History of Indonesia disebutkan:

The language that the Congress called ‘Indonesian’ was a modernized  form of a much older language, Malay, originating from the Riau area of Sumatera and the southern part of the Malay Peninsula.  It was the first language of only a small proportion of the inhabitants of the Indies. However, Malay was widely spoken throughout the archipelago, being the language of inter-ethnic trade and of Islam. It was also largely a non-hierarchical language, and thus one that appealed to the spirit of modernity and democracy which inspired many of those who attended the Youth Congress (Collin Brown, 2003:107).

Bahasa yang disebutkan dalam kongres itu yaitu bahasa Indonesia, merupakan bentuk modern dari bahasa lama, Melayu, bahasa yang bersumber atau berasal dari Riau dan Sumatera, dan bagian selatan Malaya. Bahasa ini telah banyak dilafalkan dari pulau ke pulau, telah menjadi bahasa antar etnis di dalam dunia perdagangan dan Islam, bahasa ini menunjukkan semangat kemajuan dan demokrasi kemudian menjadi landasan berpijak penyelenggaraan Kongres Pemuda.

Pemuda-pemuda bersama lembaga-lembaganya telah mewujud menjadi manusia-manusia terbuka. Apalagi jika kita membaca isi pertama dari Sumpah Pemuda, mengaku bertumpah darah satu, tanah air Indonesia. Syair dalam lagu Indonesia Pusaka akan membuat kita termenung, Kenapa Ismail Marzuki menuliskan: Di sana tempat lahir beta (?) Tidak menggunakan kata tunjuk dekat: di sini? Hal itu dimaksudkan untuk menunjukkan tempat dengan cakupan yang lebih luas, tidak sekadar di sini sebagai tempat dengan cakupan yang lebih kecil.

Untuk itu, sesuai dengan penggalan sejarah yang dituliskan di atas, menjadi keniscayaan, para pemuda di zaman sekarang dengan berbagai organisiasi, kelompok, dan golongan harus membuang sikap eksklusif atas kelompoknya. Seperti halnya pemuda-pemuda di negara ini yang telah membuang sikap keakuan-nya pada tahun 1928. Mereka diakui bukan hanya oleh kita, juga oleh dunia. Maka sangat benar, pemuda-pemuda yang dihasilkan oleh pergolakan sejarah pada dekade ke dua abad 20 merupakan sosok-sosok seperti unggakapan Bung Karno: “Berikan aku sepuluh pemuda maka akan aku guncangkan seluruh dunia”.

E-mail Redaksi: sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing: marketingsukabumiupdate@gmail.com





Berikan Komentar