Jumat, 23 Juni 2017 - WIB
Follow Us:

Top 10 Mereka

Gadis Skuad Timnas Asal Kabupaten Sukabumi: Ingin Obati Mata Ayah Agar Bisa Nonton Saya Main Sepak Bola
10 Pertanyaan untuk Warga Sukabumi yang Diduga Menistakan AlQuran
Mang Dedi: Orang Sukabumi Jangan Bicara Budaya Sunda, Benerkeun Heula Basa Sapopoe
Puri adalah Puri. Pewaris Darah Seni Uyan Asmi
Mak Dini Turun Gunung, Pimpin LSM Kompak Kabupaten Sukabumi
Pebola Wanita Asal Kabupaten Sukabumi Ini, Ditinggal Ayah Saat Ia Terpilih Memperkuat Timnas
Berpuasa di Negeri Orang, Gadis Kota Sukabumi Melawan Rasa Kangen
Kabupaten Tasikmalaya Mandiri di Tangan Santri
Ajengan Genteng, Teman Diskusi Bung Karno dan Guru dari Ki Hajar Dewantara
Dari Cibatu Menuju Bisnis Travel Wisata


Risti Amaliya: Kenalkan Tari di Sukabumi, Lestarikan Khazanah Negeri

Sabtu, 03 Desember 2016 - 08:22:40 WIB


Risti Amaliya: Kenalkan Tari di Sukabumi, Lestarikan Khazanah Negeri
© Dok. Pribadi
Risti Amaliya.

SUKABUMIUPDATE.COM - "Emang di dinya bisa hirup ku seni?” Ungkap wanita berkacamata itu dengan nada tercekat. Pandangannya seketika menerawang, mengingat peristiwa menyesakkan dalam hidupnya.

Risti Amaliya (26) atau karib dipanggil Cicit, dikenal sebagai seorang pengajar seni budaya di sebuah sekolah menengah kejuruan di Kota Sukabumi. Kegiatannya dalam dunia seni, tidak sebatas menjadi guru sekolah. Ia juga aktif mengajar seni tari di lingkungan tempat tinggalnya, Jalan Veteran, Gang Sriwidari 1, Kota Sukabumi.

Selain mengajar, wanita yang mengaku tidak memiliki hobi lain selain menari ini, aktif ngareuah-reuah seni tari Sunda dengan membuat grup seni Lingkung Seni Rama Shinta Etnik.

Ketertarikan Cicit dimulai sejak masih duduk di bangku sekolah dasar (SD), sayangnya, kedua orangtuanya tidak mengarahkan minatnya tersebut dengan memasukannya ke sanggar tari. Alhasil, Cicit remaja berlatih menari secara otodidak.

Selepas sekolah menengah atas (SMA), Cicit mengadu nasib ke perguruan tinggi melalui jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK). Dipilih Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, dengan mengincar Fakultas Seni dan Bahasa, jurusan Pendidikan Seni Tari.

Ibarat pungguk merindukan bulan, keinginan Cicit melanjutkan kuliah, sempat tidak mendapat respon dari sang ayah. Menurut ayahnya, penari dan penyanyi panggung itu memiliki citra yang negatif.

Puncaknya, ayah dan dirinya terlibat konflik, sehingga Cicit memilih tidak pulang ke rumah.

“Ketika Cicit mau masuk ke Kuliah, ayah malah bilang, saencan berhasil tong waka balik ka imah, rek naon balik deui ka imah, rek jadi naon dina seni sok buktikeun, lamun heueuh bisa, balik deui. Pek, lamun henteu, teu kudu teu butuh,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Bermodal setengah ridho orang tua, membuat Cicit berpikir keras untuk berhasil mencapai ambisinya. Di akhir pekan, ia menyibukkan diri mencari penghasilan dengan ikut nabeuh (tampil menari tradisional). Dari satu pernikahan ke pernikahan lainnya, ia lakoni untuk mendapatkan pengalaman, dan pundi-pundi rupiah.

Kebiasaannya nabeuh di setiap kesempatan manggung, membuat kemampuannya semakin terasah, sehingga usahanya pun berbuah manis. Akhirnya, ayah yang sedari awal under estimate terhadap dunia tari, perlahan-lahan mulai terbuka, bahkan justru berbalik mendukungnya.

Belajar dari pengalaman hidup merih. Cicit merasa sangat bersyukur, terutama dengan sikap ayah yang keras terhadapnya. Menurutnya, hal itu menjadi cambuk bagi dirinya untuk pantang menyerah dan serius di dunia seni tari.

Bagi Ibu dari Halwah Kenes Janwar (10 Bulan) ini, pengalaman hidup di Bandung yang setiap pekan nabeuh, membuatnya bisa mandiri seperti sekarang ini. Makanya, setelah menikah, terbersit ide membuat grup seni yang misinya ingin memasyarakatkan seni tari Sunda, utamanya di daerah kelahirannya, Sukabumi.

Bersama sang suami Yadi Janwari (26), Cicit mantap berkegiatan di bidang seni tari. Meski pendatang baru dibandingkan grup seni serupa lainnya di Sukabumi, namun Lingkung Seni Rama Shinta Etnik optimis mampu berkarya menghidupkan seni tradisional Sunda.

Bagi wanita yang akrab dipanggil Bunda oleh anak-anak didiknya ini, jika grup seni yang sekarang dikelolanya, bukan semata ladang untuk mencari penghasilan, melainkan bagian dari bentuk pengabdiannya untuk negeri.

Makanya, ketika ada anak yang ingin belajar menari, Cicit menyarankan untuk terjun belajar terlebih dahulu, menikmati dunia seni tari, tanpa harus babibu mempertimbangkan biaya kursus atau biaya belajar.

Terinspirasi dari kebiasaannya menari dengan menokohkan Rama Shinta ketika nabeuh di Bandung, maka hadirlah Rama Shinta Etnik di Sukabumi yang disesuaikan dengan kreasi Cicit. Ciri khas grup Lingkung Seni Rama Shinta Etnik tidak hanya menghadirkan tarian Rama Shinta yang menjadi sentral pagelaran, tetapi juga Ki Lengser lengkap dengan Ambunya dalam prosesi Mapag Panganten.

Terlepas dari karakteristik khusus yang ditawarkan grup seninya, Cicit menekankan kalau hadirnya Rama Shinta Etnik di tengah-tengah masyarakat Sukabumi, salah keduanya juga sebagai bentuk kegundahan Cicit terhadap remaja, terutama anak-anak Sekolahan yang lebih mengidolakan dance K-Pop.

“Paling utama, jelas ya kalau Cicit mah ingin memasyarakatkan seni tari, makanya sasarannya anak-anak sekolah, ini juga yang menginspirasi Cicit. Kenapa tidak menargetkan masalah nominal biaya, sebab anak sekarang mah, pasti lebih milih beli kuota daripada dipake ke sanggar,” ujarnya sambil tersenyum.

Bagi wanita yang pernah menjadi peserta 24 Jam Menari dalam rangka Hari Tari Sedunia, di Kota Surakarta, Jawa Tengah ini, mengikutsertakan anak-anak dalam pertunjukan nabeuh, bukanlah bentuk eksploitasi, melainkan mengenalkan betapa menyenangkan dunia menari. Tidak hanya hobi, tetapi juga menghasilkan materi, pengalaman, dan menjaga khazanah negeri.

“Target saya, anak-anak sekolah ya... Ya harapannya anak-anak tertarik dengan menari. Manfaatnya banyak, selain pengalaman, juga penghasilan. Meskipun belum seberapa, setidaknya bisa bisa beli kuota lah. Dengan keinginan mereka buat menari saja, saya sudah apresiasi,” pungkasnya mengharu biru.

Reporter: ISTI MURFIA/Kontributor
Redaktur: ANISA SITI RIZKIA
E-mail Redaksi: sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing: marketingsukabumiupdate@gmail.com




TOPIK:

Berikan Komentar