close [x]
Sabtu, 25 Februari 2017 - WIB Kota SukabumiHujan Sedang, 23 - 32 °C
KURS $ : Jual: 13.280 Beli: 13.110
Follow Us:

Pengakuan: Labirin Hidupku, Lesbi dan Pria Beristri

Rabu, 09 November 2016 - 00:32:26 WIB


Pengakuan: Labirin Hidupku, Lesbi dan Pria Beristri
© Istimewa
Ilustrasi

SUKABUMIUPDATE.COM - Bagi Lies, begitu saja pemilik tubuh langsing dengan tinggi 160 cm, dan berat 47 kg ini kita sebut, perjalanan hidupnya tak lebih seperti seorang yang tersesat di dalam labirin.

Labirin bukan ruang rahasia. Siapa pun yang tersesat di dalamnya, perlu fokus dan mau belajar dari kegagalan dalam menempuh jalan hidup di masa lalu, agar bisa dengan mudah menemukan pintu keluar.

Lies setuju, pintu masuk ke labirin kehidupannya adalah Rudi. Usai bercerai dari pria itu, hidupnya seperti berputar dari satu ruangan, ke ruangan lainnya. Selalu menemui jalan buntu.

Ketika bertemu Redy, Lies begitu percaya jika pria itu akan membawanya menuju pintu keluar. Tetapi ternyata, Redy layaknya oase dalam perjalanan menuju ruangan tak berpintu berikutnya. Redy, bukanlah pintu keluar yang diidamkan. Dan, Lies kembali terjebak dalam labirin kehidupannya.

Pertemuan pertama Lies dengan Fery Heryadi dari sukabumiupdate.com, berlangsung di sebuah rumah makan, tidak jauh dari teminal baru Jalan Lingkar Selatan, Kota Sukabumi.

Meski tidak belepotan make up, Lies masih nampak cantik pada usia yang tidak lagi muda, 32 tahun. Penampilannya terbilang sederhana. Kali itu, ia mengenakan baju terusan selutut bahan katun warna abu-abu muda. Menurutnya, busana yang dikenakannya, merupakan hadiah ulang tahun terakhir dari Redy.  

Tidak sulit bagi penulis untuk percaya, jika perempuan berkulit langsat ini, seorang keturunan menak Sunda. Ada gelar Raden pada nama depan almarhum ayahnya. Bahkan menurut Lies pula, almarhum kakeknya adalah salah satu seniman dalang Sukabumi.

Kali pertama, penulis dibuat kaget dengan selera makan ibu satu putri usia 15, dan satu putra berumur 12 tahun itu. Bayangkan, Lies nambah nasi sampai tiga porsi. Tapi penulis urung mencandanya, ketika ia berujar: "Naon, nempokeun? Aneh lin?" Tanpa mimik sungkan.

"Dari kecil saya biasa makan banyak gini. Tapi heran juga, gak pernah gemuk," terang warga Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi itu.

Labirin 1: Kembang Layu Sebelum Berkembang

Pengakuan Lies, sejak kecil ia memang cuek, tidak pernah ambil pusing dengan apa pun. Ia juga pembangkang, setidaknya jika dibandingkan dengan kakak laki-laki (35) dan adik perempuannya (25).

Namun, karena alasan sudah mulai sakit-sakitan, Lies tidak berani membantah keinginan sang ayah, ketika meminta dirinya agar menerima pinangan Rudi, seorang pria dari keluarga kaya.

Lies juga tidak menolak ketika pada 1999, sang ayah menikahkan dirinya. Padahal saat itu, ia masih duduk di bangku kelas tiga Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 2 Kota Sukabumi. "Nikahnya di Bandung, biar gak rame, karena saya masih ingin sekolah sampai lulus SMA."

Namun siapa sangka, Rudi yang anak orang kaya itu, seorang pemalas. Setahun berumah tangga, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja, hanya mengandalkan subsidi dari orang tua Rudi. Bahkan untuk menyelesaikan sekolahnya, Lies malah harus disubsidi orang tuanya.

Setahun hidup bersama, tidak jua Lies merasakan bahagia, terlebih bergelimang kemewahan. Setidaknya, itu gambaran yang diterimanya, sebelum ia mengikuti keinginan sang ayah agar menerima pinangan Rudi.

Hingga kemudian, pada tahun 2002, Lies memutuskan menerima permintaan ayah mertua untuk tinggal di rumah mungil, di Sundawenang, Kecamatan Parungkuda. Rumah tersebut pemberian mertua untuk mereka tinggali.

"Mantan sebenarnya lumayan pinter. Komputer bisa, bahasa Jepang dan Inggris juga bisa. Tapi, ya itu. Malasnya gak ketulungan," terangnya seraya menghisap rokok mild-nya.

Kejengkelan Lies kian memuncak ketika dua tahun usia pernikahan, dan telah memiliki seorang anak perempuan, Rudi tetap tidak menunjukkan niatnya untuk mandiri. "Tanpa pertengkaran aja, saya nggak happy. Setelah sering bertengkar, jadi makin nggak happy."

Hingga akhir 2004, atau lima tahun usia bahtera rumah tangga mereka, dan telah dikaruniai anak kedua, Rudi tetaplah Rudi yang dulu. Malas, dan seperti sudah tak memiliki urat malu.

Puncaknya, pada 2005, tiga bulan usai melahirkan anak kedua, Lies menggugat cerai Rudi. Bahtera rumah tangga yang sudah lima tahun berlabuh itupun, akhirnya karam.

Sisi Lain Lies

Pertemuan kedua, Kamis (3/11) sore, sekitar jam 14.30 WIB. Kami janji bertemu di depan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) R Syamsudin, SH., Kota Sukabumi, kemudian Lies meminta obrolan dilanjutkan di Salabintana, Kabupaten Sukabumi.

Hari itu, pemilik rambut panjang bergelombang dan berhidung mancung ini, mengenakan kerudung hitam, bercelana panjang bahan warna hitam motif kotak-kotak kecil, dan jaket katun warna abu-abu muda.

Sesampai di tujuan, Lies memesan nasi goreng, tetapi tidak menghabiskannya. "Gak enak?" Tanya penulis.

"Enak sih. Tapi lagi gak nafsu," jawabnya seraya menyulut sebatang rokok, menghisapnya dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya ke atas.

"Kalau gak nyaman, kita lanjutkan lain waktu aja," penulis, karena mendengar hembusan nafas berat, ketika Lies membuang asap rokoknya.

"Gak apa, sekarang aja," pandangan Lies menuju langit-langit kedai.

"Kalau begitu buka kerudungnya. Gak enak kalau ada yang lihat kamu merokok."

"Biarin. Bapak juga belum mandi, dan pake celana pendek, saya gak usil," kelitnya seraya tertawa.

Labirin 2: Menjadi Lesbi

Setelah menyandang status janda, Lies memutuskan bekerja di salah satu perusahaan garmen (2005-2011), di kawasan Angkrong, Kecamatan Parungkuda.

Bekerja di pabrik memang tidak mudah, apalagi ketika harus lembur hingga larut malam. Terlebih bagi wanita mana pun, termasuk Lies, menyandang status janda memang tidak mudah.

Lies setuju, dunia memang maskulin. Kalau pria salah, itu wajar. Kalau wanita yang salah, itu kurang ajar.

Kultur di masyarakat selalu saja memberi stigma negatif bagi perempuan berstatus janda. Dari gak kepake sama suami, sampai sebutan gatel jika harus keluar atau pulang lebih dari pukul 21.00 WIB, terlebih janda berparas cantik seperti Lies.

Tapi baginya, memikirkan ocehan orang, sama saja dengan membiarkan anak keduanya tidak minum susu. Lies pun tetap fokus bekerja.

Tak mampu membayar pengasuh, Lies meminta orang tua dan adik perempuannya tinggal bersama. Walaupun harus tinggal berdesakkan di rumah mungil pada gang kecil, namun tak melunturkan semangatnya untuk mandiri. Tak lagi berharap mantan kembali, terlebih ngemis ke mantan mertua untuk membeli susu anaknya.

Ketika bekerja itulah, Lies terpikat sesama jenis. Awalnya salam-salaman, hingga kemudian jadian. Hingga akhirnya, keputusan Lies sudah bulat, menjadi feme (lesbian yang mengambil peran perempuan), bagi seorang butchi (lesbian yang mengambil peran laki-laki).

Bukan tanpa alasan, kenapa ia memilih menjalin hubungan sesama jenis. "Dari sisi apa pun nyaman. Seks, kasih sayang, materi. Walaupun nggak besar, tapi lebih bertanggungjawab dibanding mantan. Selebihnya, ya relatif tidak ngundang kecurigaan kalau jalan bareng."

Sampai setahun kemudian, Lies sadar, bukan itu yang diinginkannya. Walaupun sama-sama perempuan, ternyata tidak menjamin bisa saling pengertian. Pertengkaran dan perselingkuhan juga hal biasa terjadi. Hubungan keduanya pun, tamat.

Labirin 3: Pria Beristri

Suatu ketika, kedua orang tua, adik perempuan, dan kedua anaknya, memutuskan pulang ke Cikole, karena keluarga mantan suami meminta keluarga Lies agar meninggalkan rumah tersebut.

Karena jauhnya jarak dari rumah orang tua ke tempat kerja, akhirnya Lies memutuskan kos, tidak jauh dari tempatnya bekerja.

Sebulan setelah cintanya dengan sesama perempuan kandas, seorang teman pria mengenalkan Lies pada Redy. Pria ini tidak kaya, tapi bertanggungjawab, humoris, dan mampu menjadikan hidupnya penuh warna dan tawa.

Sebulan, dua bulan, Lies langsung merasa nyaman. Ia seperti menemukan semangat baru. Namun begitu, ia sadar, tidak mungkin memiliki Redy seutuhnya. Pria yang sudah dua bulan lebih memenuhi rongga rindunya itu, sudah beristri dan ayah bagi dua anaknya.

Kadung cinta, Lies tetap merajut cinta terlarang itu. Cinta yang boleh jadi tidak diinginkannya. Tetapi diakui olehnya, tidak ada perempuan yang mampu menjalani hidup seorang diri.

"Butuh sosok yang menyayangi, pak. Teman curhat, sosok yang bisa membela saat terpojok, dan berlindung dari ancaman, atau apa pun," seraya memesan secangkir kopi hitam.

Lima bulan menjalin hubungan dengan Redy, Lies terhenyak, ia sudah telat menstruasi empat minggu. "Saya kalut. Tapi nggak berani bilang, karena walaupun baik, tapi dia orangnya keras."

Secara mental Lies sudah siap, ketika Redy memintanya menggugurkan kandungan pada bulan kedua usia kehamilan. Menurutnya, sejak awal, mereka memang berkomitmen untuk tidak memiliki anak. Bahkan jika akhirnya harus menikah sekalipun.

Memasuki usia setahun hubungannya dengan Redy, pertengkaran demi pertengkaran mulai terjadi. Terlebih ketika kali kedua, Lies telat menstruasi. "Saya ingin dinikahi, dengan terpaksa sakalipun. Saya jenuh, muak dengan nasib saya. Ingin marah. Tapi nggak berani," Lies menerawang masa empat tahun ke silam. 

Namun sayangnya, Redy justru memintanya kembali menggugurkan kandungan. "Saya sakit hati. Tapi nggak berani melawan," aku Lies seraya menghisap rokoknya.

Lies tidak mau menatap ke arah penulis, tapi penulis tahu, jika bola mata wanita yang juga pernah menjalin cinta dengan dua pria lain sebelum dengan Redy itu, mulai berkaca-kaca. Dua cintanya dengan pria lain, diakui Lies, tidak lebih dari satu bulan dijalaninya.

Pintu Keluar Labirin

Tanpa terasa, hubungan Lies dengan Redy sudah tiga tahun berjalan. Ia tahu, cinta Redy tidak pernah berubah. Tetapi berharap memiliki pria itu sepenuhnya, adalah hil yang mustahal.

"Saya mulai curiga, mungkin bagi dia, saya tidak lebih sekadar pemuas nafsu. Sakit hati, pak." Lies kembali menghisap rokoknya dalam-dalam hingga pipinya terlihat cekung. "Sering dia datang tiba-tiba di tengah malam, saat saya lagi capek, ngantuk, dan ingin istirahat. Dia ngajak ke hotel hanya untuk melakukan itu, memberi saya uang, kemudian pergi lagi."

Bulir-bulir bening menetes dari kedua mata Lies, kemudian perlahan menuruni sisian hidungnya. Beberapa jenak wanita itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Di depan kamu ada tissue," ujar penulis. Namun ia menggelengkan kepala.

"Iya, pak. Sakit hati banget pokoknya. Saya jadi seperti pelacur," tambahnya, tetap tidak mau menatap ke arah penulis.

Menurut Lies, dalam hal cinta dan tanggungjawab, Redy tidak banyak berubah. "Tapi tiga tahun berpacaran, dan tidak berani membuat komitmen, kan aneh. Waktu saya kembali telat (menstruasi-red), ia nyuruh saya ngegugurin lagi. Padahal saya ingin dia menemui keluarga dan bertanggungjawab."

Lies membuka matanya lebar-lebar, seperti tengah melakukan rileksasi emosinya. "Sakit hati, pak. Sampai pernah kepikiran mau bunuh diri. Tapi selalu kepikiran anak-anak di rumah."

Puncak sakit hati Lies adalah, saat Redy tidak datang waktu ayahnya meninggal. "Kalau Lebaran saya maklum, mengkin dia lagi bersama keluarga. Tapi waktu bapak meninggal pun, dia tidak melayat," kenang Lies.

Hingga puncaknya, Desember 2013, Lies memutuskan untuk meninggalkan Redy selamanya. Semua pesan singkat dan telepon dari pria itu, tak lagi digubrisnya. Bahkan ia memutuskan berhenti bekerja, dan kembali ke rumah orang tuanya.

"Dia cuma bilang sudah nitip uang ke ibu kos, lewat es-em-es. Kalau uang saya ambil, kan butuh," diikuti derai tawa, seperti sudah lupa dengan ingatan kelam satu jam lalu.

"Sudah Maghrib, pak," ujar Lies kemudian.

"Ya sudah, selesai. Sekarang rajin sholat, ya?"

"Iya dong. Masa gak bener terus."

Jadi wanita itu harus kuat. Fokus mengejar cita-cita. Jangan terlalu mengandalkan semuanya kepada pasangan. Dan jangan mudah larut dalam pergaulan. Itu jawaban Lies, ketika penulis memintanya agar memberi pesan untuk pembaca.

Pesan Lies yang terakhir untuk pembaca, jika ingin memiliki sesuatu, apa pun, dengan seutuhnya, jangan pernah mengambil hak orang lain. Bahkan memikirkannya pun, jangan!

"Termasuk suami orang?" Tanya penulis.

Lies kembali menderai tawa. Sedikit malu, atau sengaja ingin menyembunyikan gigi putihnya yang berbaris rapi di balik bibirnya yang tipis.

"Turunin saya di depan Yogya aja, pak," pinta Lies.

Waktu menunjuk pukul 17.55 WIB. Dingin menyelimuti kota, membekap erat senja di Salabintana. Semilir angin yang berhembus dari atas bukit, bak jutaan jarum kecil yang dikirim jutaan peri dari Benua Antartika. Menerjang tulang belulang, menusuk hingga lapisan kulit terdalam.

Berikan Komentar


Rekomendasi untuk Anda

FPKS: Saatnya Regenerasi Eselon II di Kabupaten Sukabumi
Promoted Content

FPKS: Saatnya Regenerasi Eselon II di Kabupaten Sukabumi