Jumat, 18 Agustus 2017 - WIB
Follow Us:

Top 10 DariKenari

Lesbi dan Tren Wanita Sukabumi Aktif di Ruang Publik
Wanita Sukabumi di Hong Kong Hindari Godaan Pria Asing dan Lesbi
Aksi Penggalangan Dana Rp5.000 untuk Jembatan Pamuruyan
Hati Heti, Gadis Sukabumi Dibunuh Rasa Nyaman
Orang Tua Cerai, Tinggal dengan Nenek, Gadis Kota Sukabumi Ini Pilih Jadi Lesbi
Warga Sukabumi, Hati-hati Akun AkuLaku
Pengakuan: Mengintip Bisnis Lendir di Ibu Kota Kabupaten Sukabumi
Ditemukan Dompet Warna Coklat di Pamuruyan Kabupaten Sukabumi
Berawal dari Teras Masjid
Pengakuan: Mengintip Prostitusi di Ciracap Kabupaten Sukabumi


Pengakuan: Ayu, Kembang Layu dari Cikembang

Sabtu, 08 Oktober 2016 - 08:19:49 WIB


Pengakuan: Ayu, Kembang Layu dari Cikembang
© Dok. sukabumiupdate.com
Ilustrasi wanita.

SUKABUMIUPDATE.COM - Penulis bersahabat karib dengan narasumber, sebut saja namanya, Ayu. Sehingga wawancara dengan gadis asal Cikembang, Kabupaten Sukabumi ini, lebih dari tiga kali. Termasuk via pesan singkat short message service (SMS), ataupun aplikasi Whatsapp.

Ayu biasa memanggil penulis dengan sebutan pak Fey. Gadis bersuara cempreng keturunan Flores (ayah) dan Sunda (ibu) ini, seorang yang dikenal periang dan cerewet oleh teman-temannya.

Ayu senang berpenampilan sederhana dan apa adanya. Rambutnya hitam panjang, berkulit putih dengan tinggi sekitar 160 cm dan berat 48 kg.

Anak sulung dari empat bersaudara ini, lahir di Sukabumi, 16 Mei 1994. Saat masih duduk di bangku kelas dua salah satu sekolah menengah atas (SMA) favorit di Sukabumi, sang ayah menikah lagi dengan gadis seusianya. Ayah dan ibu tirinya itu, kini tinggal di Jakarta. Walhasil, keinginan Ayu untuk tetap melanjutkan sekolah, kandas sudah.

Dengan terpaksa ia pun memilih untuk berhenti sekolah. Sejurus dengan itu, Ayu pun memutuskan untuk bekerja di salah satu perusahaan garmen di daerah Benda, Kecamatan Cicurug. Ini terpaksa ia lakukan, demi membantu sang ibu dalam memenuhi kebutuhan ketiga adiknya.

Kurang lebih empat tahun Ayu bekerja, berangkat pukul 6.30 WIB pulang jam 20.00 WIB. Bahkan jika harus lembur hingga larut malam pun, tetap ia jalani dengan penuh semangat.

Tetapi empat tahun bekerja, bukannya hidup serba cukup. Namun sebaliknya, justru utang menumpuk di mana-mana, bahkan sampai berurusan dengan rentenir. Namun Ayu tetaplah Ayu. Semangatnya untuk membahagiakan ibu dan ketiga adiknya, tidak pernah pudar.

Seringkali keluh kesahnya ia sampaikan kepada penulis melalui pesan singkat, mengumbar kesedihan, bak burung pipit yang terbang menukik menjauhi langit, sebelum seminggu kemudian kembali melesat ke angkasa degan sejuta cerita bahagia.

Gue harus tegar, pak Fey, jangan sampai orang lain tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pak Fey apal meureun, bapak aing tara ngiriman duit (bapak saya tidak pernah mengirimi uang-red),” ungkap Ayu dengan mata berkaca-kaca kepada Fery Heryadi dari sukabumiupdate.com, Minggu (12/12/2015).  

Dan kini prioritas utama Ayu adalah ibu beserta ketiga adiknya, “Cuma ingin berusaha keras membahagiakan mereka,” tandasnya.

Nyari Sampingan

Selain bekerja di perusahan garmen, untuk nambah-nambah membayar kos-kosan atau membeli rokok, jika libur kerja, Ayu memilih bekerja part time sebagai pelayan di salah satu café di Kota Bogor.

Menurut Ayu, dari sinilah semuanya berawal. Ia mulai mengenal dunia malam hingga menjadi pengunjung setia salah satu nihgt club. Bahkan saking seringnya clubbing, ia sampai dijuluki sebagai Miss Narsis of the Years oleh teman-temannya.

Namun semuanya tidak selalu berjalan mulus. Ujian demi ujian menghampiri, dari mulai mengalami kecelakaan lalu lintas saat pulang dari klab malam, hingga terjatuh dari lantai dua di tempatnya bekerja, dan berakibat ia harus dirawat selama dua minggu di Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Sekarwangi, Cibadak.

Namun semua peristiwa itu, tidak juga membuatnya jera. Ayu justru semakin terobsesi untuk mengetahui lebih banyak apapun yang membuatnya penasaran.

Terjebak

Ayu kini, bukan lagi gadis kampung lugu yang doyan mengagungkan cinta, seperti dalam kisah-kisah sinetron yang biasa menghiasi stasiun televisi swasta. Berbagai cara ia lakukan agar bisa hidup dalam kemewahan, sekaligus untuk menunjukkan, bahwa ia mampu berdiri sendiri, dengan atau tanpa pria yang dicintainya.

Sayang, langkahnya tersebut telah membawanya ke dalam jurang yang nampak indah. Hingga kemudian hadir seorang pria dalam hidupnya. Riko, nama lelaki yang pertama kali menyentuhnya, diberikannya Ayu kemewahan dan kepuasan.

Namun karena berbeda keyakinan, Ayu dituntut untuk mengikuti keyakinan Riko, Nasrani. Bahkan pernah ia dipaksa menggantikan Riko menjadi jemaat gereja, jika Riko tidak bisa hadir. Namun meski selama lima bulan menjalani hubungan dan kerap mengantikan Riko menjadi jemaat gereja, Ayu mengaku, tetap berpegang teguh pada ajaran Islam yang dianutnya sejak kecil. Hingga kemudian hubungan itu pun kandas di tengah jalan.

Dalam kebimbangan hatinya, Ayu kembali bertemu penulis.

“Pak Fey, Ayu mau minta pendapat nih. Jawab ya,” ujar Ayu pada kali kedua perbincangan kami, di tempat kosnya di daerah Legos, Desa Nyangkowek, Kecamatan Cicurug. Matanya menatap tajam kepada penulis, namun mimik wajahnya seperti tengah menahan tawa.

“Oke,” jawab penulis.

“Pak Fey setuju kalau Ayu ngejablay (jual diri-red)?” Setelah itu ia terbahak. Sebuah tawa yang terdengar aneh, seperti baru saja terlepas dari beban berat yang mengungkung hatinya.

“Setuju,” jawab saya ringan.

Astaghfirullah, pak Fey… Masa kakak jawabnya begitu.”

Lha… Kalau saya bilang, jangan, nanti kalau kamu bokek, pasti minta duit sama saya. Ribet jadinya.”

Ayu diam. Entah apa yang tengah dipikirkannya. Mungkin saat itu dia perpikir, penulis bukan lagi teman curhat yang baik. “Ayu harus bangkit, pak. Harus mulai ninggalin sahabat-sahabat yang sekarang.”

Dikhianati Pacar

Jatuh cinta adalah hal yang paling aku benci, karena aku pernah dikecewakan cinta pertamaku. Cinta bagiku omong kosong… Bualan bualan yang menjijikkan... Cinta penuh kemunafikan!!!” Demikian catatan Ayu di buku hariannya yang diberikan kepada penulis.

Pada paragraf berikutnya, Ayu menulis: “Bagi Ayu kini, kalau hanya untuk menyiksa diri, maka cinta itu tidak lebih dari sampah. Hanya saja orang-orang kreatif telah mendaur ulang cinta menjadi seperti alkohol memabukkan… Semuanya mimpi, dan hanya nafsu. Cinta bagiku, adalah kematianku…

Tersesat di Macau

Sebulan sejak pertemuan terakhir, penulis tidak pernah lagi berkomunikasi dengan Ayu. Hingga pada Sabtu (13/8) lalu, Ayu kembali menghubungi penulis sambil mengiming-imingi oleh-oleh.

“Oleh-oleh apaan?” tanya penulis.

“Jam tangan ada, jam meja ada, kaos ada, Dolar Singapura juga ada,” jawab Ayu seraya tergelak bahagia.

“Ya sudah, jam meja aja.”

“Uang dolar gak mau, pak?”

Gak.”

“Kenapa, pak? Haram ya?” Ayu kemali tergelak.

Berikutnya, Ayu ajak penulis bertemu di salah satu komplek perumahan di Benda, Kecamatan Cicurug. Pada pertemuan tersebut, Ayu mulai bertutur perjalanan hidupnya selama di Singapura dan Macau.

Dikecewakan dua orang laki-laki yang begitu dicintainya, sang ayah dan pria yang menjadi cinta pertamanya, telah membuat Ayu benar-benar muak dengan kehidupan yang dijalaninya. Faktor ekonomi hanya salah satu yang mendorongnya menjadi lupa diri.

“Sedikit saja salah langkah akan fatal akibatnya,” ujar Ayu kepada penulis, bak orang tua yang tengah mewanti-wanti anaknya,

Singapura adalah kota di atas air yang sangat ingin dikunjungi Ayu sebelumnya. Namun nasib kemudian membawanya ke Macau. Di Macau, Ayu mengunjungi setiap tempat, sehingga tanpa disadari perbekalan uangnya telah habis. Ayu sadar, bahwa ia tidak mungkin bisa kembali lagi ke tanah air. Selain karena sudah terpisah dari teman-temannya, buku paspor pun dipegang oleh Mami yang membawanya ke Singapura sebelumnya.

Belakangan Ayu menyadari, bahwa ia dikirim ke Macau bukan untuk bekerja di tempat perjudian, tetapi untuk menjadi penjaja seks komersial. Hal itu diketahui dari cerita salah satu temannya yang juga menjadi korban sang Mami.

Namun bukan Ayu namanya, jika tidak nekad dan kehabisan ide. “Ayu kencan sama bule Australia, pak. Lumayan dapat 500 dolar… Hahaha! Habis gitu, beruntung gue diketemuin sama cowok Indonesia… Habis gitu cerita-cerita… Eeehh… Ternyata dia bekerja di Kedutaan Indonesia. Merasa kasian kali dia sama gue, sampai akhirnya gue bisa kembali ke Indonesia… Pokoknya ini pengalaman yang gak mungkin gue lupain, pak,” tutur Ayu dengan mimik sumeringah.

 

Terakhir kami bertemu, Ayu berjanji mau hidup seadanya. Namun tiga minggu lalu, ia mengirim pesan singkat kepada penulis, bahwa ia kini sudah kembali ke Macau. Alasannya, Ayu merasa jenuh di Sukabumi, belum lagi harus mendengar cemoohan teman-teman sepermainannya dulu. Ayu hanya merasa, bahwa  dia tidak boleh lemah karna hidup terus berjalan.

“Trget gue skr kpengen bnyk duit n hidup snang. Gue skr udh bulat! Lagian kl dipikir-pikir, enak hidup di antara orang asing drpd di lingkungan yg kt kenal, bisanya cm ngehina... Pkokny skr cariin kontrakan rmh buat tmn gue... 6 bln lg gue balik bw duit bnyk!” Demikian Ayu dalam pesan singkatnya.

Penyunting: RESITA NOVIANA
E-mail Redaksi: sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing: marketingsukabumiupdate@gmail.com




TOPIK:

Berikan Komentar