Jumat, 24 November 2017 - WIB
Follow Us:

Top 10 Sainstek

Kiamat 23 September Diklaim Numerologis Berdasarkan Alkitab
Robot Seks Harmony Harganya Setara Mobil LCGC di Indonesia
Hujan Es di Bandung, Ini Perbedaannya dengan Salju
Misteri Perjalanan Manusia Purba dari Afrika ke Eropa Terungkap
Kutu Laut Ternyata Makhluk Pemakan Bangkai
Mahasiswa Unibraw Kembangkan Alat Pendeteksi Kualitas Udara
Kembangkan Pesawat Jet, Honda Habiskan 1 Miliar Dolar AS
Remaja 19 Tahun Ini Raup Ratusan Juta Sebagai Gamer Profesional
Instagram Tambahkan Sejumlah Pembaharuan dan Fitur Baru
Mahasiswa Surabaya Bikin Alat Pengisi Biogas ke Tabung Melon


Penelitian Terbaru: Daratan Mars Terlalu Beracun bagi Kehidupan

Minggu, 09 Juli 2017 - 12:15:05 WIB


Penelitian Terbaru: Daratan Mars Terlalu Beracun bagi Kehidupan
© globalnews.ca
Planet Mars.

SUKABUMIUPDATE.com - Planet Mars dinilai kurang bersahabat untuk ditempatkan oleh manusia. Selain dingin, Mars juga memiliki atmosfer yang rendah dan radiasi yang tinggi. Tanah yang berada di daratan planet tersebut juga telah dikonfirmasi bisa mematikan. Tanah yang mematikan itu memiliki bahan senyawa bernama perklorat, campuran klorin yang dapat menghancurkan bahan organik seperti sel jika dipanaskan.

Peneliti dari Universitas Edinburgh menelusuri bagaimana sebuah mikroorganisme melawan senyawa perklorat. “Kita memang sudah tahu bahwa kehidupan apa pun di sana akan sangat susah untuk selamat, dan studi ini juga membuktikan itu”, kata Dirk Schulze-Makuch, seorang ahli astrobiologi dari Washington State University yang tidak terlibat dalam studi tersebut.

Studi tersebut juga menguji bakteri Bacillus Subtilis yang merupakan bakteri yang biasanya mengkontaminasi pesawat ruang angkasa sebagai dummy tes. Bakteri-bakteri tersebut dipaparkan oleh berbagai kondisi yang ada di Mars seperti radiasi UV, kondisi tanpa oksigen, dan suhu rendah. Berbagai kondisi tersebut lalu dites dengan adanya senyawa perklorat. Hasil dari studi itu akhirnya dipublikasikan di Scientific Reports.

Karena Mars memiliki atmosfer yang rendah, planet tersebut tidak bisa terlindung dari radiasi. Peneliti ingin melihat bagaimana mikroba di lab tersebut dapat bertahan jika menggabungkan perklorat dengan radiasi UV seperti di planet Mars. Pada studi itu, radiasi UV sendiri membunuh banyak bakteri. Namun setelah terkena perklorat juga, semua bakteri-bakteri tersebut langsung mati dalam hitugan 30 detik. Sementara, bakteri yang hanya terkena perklorat namun tidak terkena radiasi masih hidup setelah satu jam.

Dengan suhu rendah dan batu buatan, tingkat keselamatan bakteri meningkat sedikit. Namun kombinasi radiasi UV dan perklorat tidak dapat menyelamatkan bakteri-bakteri tersebut.

Para peneliti juga menguji apakah oksida besi dan hidrogen peroksida akan mendukung perklorat yang sudah terkena radiasi untuk membuat daratan di Mars menjadi tidak cocok untuk kehidupan. Kedua kimia tersebut juga dapat ditemukan di Mars. Hasil menunjukan bahwa kombinasi tersebut juga menyebabkan kematian yang tinggi pada bakteri Bacillus Subtilis.

Akhirnya, peneliti menyimpulkan bahwa daratan yang ada di Mars saat ini berbahaya untuk sel karena adanya gabungan oksidan yang beracun, oksida besi, perklorat, dan radiasi UV. 

Namun, kehidupan di Mars masih bisa ditemukan jika peneliti menggali lebih dalam. “Walaupun daratan Mars tidak bisa dihuni, masih ada potensi di bawah daratan tersebut untuk ditelusuri,” kata penulis studi astrobiologi Jennifer Wadsworth yang merupakan mahasiswa PhD astrobiologi. Dia dan rekannya, Charles Cockell masih mencari bagaimana kombinasi radiasi UV dan perklorat dapat membunuh organisme. Untuk saat ini, mereka belum tahu pasti seberapa besar efek kombinasi tersebut. Namun masih ada kemungkinan bahwa efeknya tidak hanya di daratan saja.

“Jika memang itu kasusnya, kita harus terus menggali daratannya lebih dalam untuk memastikan bahwa level radiasinya relatif rendah,” katanya. “Jika memang rendah, mungkin kehidupan bisa ada.”

Schluze-Makuch juga setuju bahwa robot-robot yang kita gunakan saat ini perlu menggali lebih dalam untuk mencari kehidupan atau daerah yang terlindungi dari radiasi. Daerah-daerah tersebut termasuk gunung lava, kerak es, atau daerah dengan aktivitas hidrotermal.

NASA juga masih berupaya untuk membersihkan pesawat ruang angkasanya dari mikroba agar tidak mengkontaminasi planet lain sebelum diluncurkan ke planet Mars. Walaupun mikroba yang diuji di bumi langsung mati karena terkena perklorat dan radiasi, pesawat tersebut masih perlu dibersihkan. “Mikroba itu masih bisa bertahan dalam cuaca ekstrim. Bakteri yang kita uji di sini itu bukan bakteri extremophile, jadi masih ada kemungkinan bahwa bakteri-bakteri lain bisa bertahan di cuaca ekstrim.” 

Eksperimen di stasiun internasional ruang angkasa menunjukkan bahwa bakteri bisa bertahan selama beratus-ratus hari setelah dipaparkan ke perubahan cuaca yang ekstrim, radiasi yang tinggi, serta ruangan vacuum. Schulze-Makuch juga menambahkan bahwa Mars merupakan planet yang besar. Oleh karena itu, ada kemungkinan bahwa perkloratnya tidak ada di semua bagian Mars.

Dengan studi yang telah ditemukan, mendirikan sebuah tempat riset di Mars masih berbahaya. “Dalam lingkungan rumah kaca, sebagian besar radiasi UV akan menurun,” kata Schulze-Makuch. “Perklorat juga akan hilang jika disiram air. Namun kita harus menyiapkan dari awal tanah yang digunakan untuk menanam tanaman di rumah kaca itu, karena akan lebih sulit pastinya.”

“Perklorat berbahaya untuk manusia, jadi kita harus memastikan bahwa kita menyimpannya dengan hati-hati,” kata Wadsworth. “Tapi menurut saya ancaman lebih besar dan cepat bagi koloni Mars adalah jumlah radiasi yang mencapai di daratan permukaan.”

Sumber: Tempo

E-mail Redaksi: sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing: marketingsukabumiupdate@gmail.com




TOPIK: SAINSTEK

Berikan Komentar