Sabtu, 18 November 2017 - WIB
Follow Us:

Top 10 Sainstek

Kiamat 23 September Diklaim Numerologis Berdasarkan Alkitab
Robot Seks Harmony Harganya Setara Mobil LCGC di Indonesia
Hujan Es di Bandung, Ini Perbedaannya dengan Salju
Misteri Perjalanan Manusia Purba dari Afrika ke Eropa Terungkap
Kutu Laut Ternyata Makhluk Pemakan Bangkai
Mahasiswa Unibraw Kembangkan Alat Pendeteksi Kualitas Udara
Kembangkan Pesawat Jet, Honda Habiskan 1 Miliar Dolar AS
Remaja 19 Tahun Ini Raup Ratusan Juta Sebagai Gamer Profesional
Mahasiswa Surabaya Bikin Alat Pengisi Biogas ke Tabung Melon
Instagram Tambahkan Sejumlah Pembaharuan dan Fitur Baru


Penelitian Ilmuwan Amerika: Manusia Indonesia Paling Malas Gerak

Kamis, 13 Juli 2017 - 18:59:42 WIB


Penelitian Ilmuwan Amerika: Manusia Indonesia Paling Malas Gerak
© Aksi.co
Ilustrasi berjalan kaki.

SUKABUMIUPDATE.com - Ilmuwan Amerika Serikat telah mengumpulkan data berskala dunia dari pengguna ponsel untuk melihat seberapa aktif seseorang. Analisis Stanford University terhadap data yang diperoleh menit demi menit itu menunjukkan jumlah rata-rata langkah manusia setiap hari adalah 4.961.

Yang menarik warga Hong Kong menunjukkan rata-rata teratas dengan 6.880 langkah per hari, sementara Indonesia berada di peringkat bawah, hanya mencatat rata-rata 3.513 langkah per hari alias paling mager (malas gerak). Namun, temuan itu juga mengungkap rincian menarik lainnya yang bisa membantu mengatasi obesitas.

Kebanyakan ponsel memiliki accelerometer built-in yang dapat merekam langkah dan para ilmuwan peneliti menggunakan data anonim lebih dari 700.000 orang yang menggunakan aplikasi pemantauan aktivitas Argus.

"Penelitian ini 1.000 kali lebih besar daripada studi sebelumnya pada gerakan manusia,” ujar Scott Delp, seorang profesor bioteknologi dan salah satu ilmuwan peneliti, sebagaimana dilaporkan BBC, Rabu 12 Juli 2017.

"Sebelumnya telah ada beberapa survei kesehatan menarik dilakukan, tetapi penelitian baru kami menyediakan data dari lebih banyak negara, lebih banyak subjek, dan melacak aktivitas masyarakat secara berkelanjutan. Ini membuka pintu untuk cara-cara baru melakukan sains pada skala yang jauh lebih besar dari yang pernah kita lakukan sebelumnya,” ujarnya.

Temuan ini telah diterbitkan dalam jurnal Nature dan penulis penelitian mengatakan hasilnya memberikan wawasan penting untuk meningkatkan kesehatan masyarakat.

Rata-rata jumlah langkah di sebuah negara tampaknya kurang penting terhadap tingkat obesitas, misalnya. Ramuan kuncinya adalah ketimpangan aktivitas. Semakin besar ketimpangan aktivitas, semakin tinggi tingkat obesitas. 

Tim Althoff, salah satu ilmuwan peneliti, mengatakan: "Sebagai contoh, Swedia memiliki salah satu kesenjangan terkecil antara aktivitas orang kaya dan miskin, dan juga salah satu yang memiliki tingkat obesitas terendah.” Sementara Amerika Serikat dan Meksiko keduanya memiliki langkah rata-rata sama, tetapi AS memiliki ketimpangan aktivitas dan tingkat obesitas yang lebih tinggi.

 

Sumber: Tempo

E-mail Redaksi: sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing: marketingsukabumiupdate@gmail.com




TOPIK: SAINSTEK

Berikan Komentar