Senin, 20 November 2017 - WIB
Follow Us:

Top 10 Sainstek

Kiamat 23 September Diklaim Numerologis Berdasarkan Alkitab
Robot Seks Harmony Harganya Setara Mobil LCGC di Indonesia
Hujan Es di Bandung, Ini Perbedaannya dengan Salju
Misteri Perjalanan Manusia Purba dari Afrika ke Eropa Terungkap
Kutu Laut Ternyata Makhluk Pemakan Bangkai
Mahasiswa Unibraw Kembangkan Alat Pendeteksi Kualitas Udara
Kembangkan Pesawat Jet, Honda Habiskan 1 Miliar Dolar AS
Remaja 19 Tahun Ini Raup Ratusan Juta Sebagai Gamer Profesional
Mahasiswa Surabaya Bikin Alat Pengisi Biogas ke Tabung Melon
Instagram Tambahkan Sejumlah Pembaharuan dan Fitur Baru


Muntahan Paus Bernilai Tinggi, Peneliti LIPI Khawatir

Selasa, 14 November 2017 - 16:03:46 WIB


Muntahan Paus Bernilai Tinggi, Peneliti LIPI Khawatir
© Wikimedia
Ilustrasi ambergris atau muntahan paus.

SUKABUMIUPDATE.com - Sekar Mira, Peneliti Paus di Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, mengakui  bahwa Ambergris atau muntahan Paus Sperma memiliki nilai yang tinggi dan menjadi incaran kolektor luar. Namun dia mengingatkan bahwa mamalia ini termasuk hewan yang dilindungi.

Sekar mengatakan Ambergris yang merupakan sekresi saluran cerna Paus Sperma (Physeter macrocephalus) yang banyak digunakan untuk membuat wewangian. Saat ini, menurutnya, produk sintetis untuk Ambergris juga sudah banyak. “Namun mungkin untuk kalangan kolektor memang masih ada yang mau bayar tinggi,” ujarnya kepada Tempo, Selasa 14 November 2017.

Sekar mengatakan dirinya pernah didatangi beberapa orang dari Ambon yang berkonsultasi soal Ambergris ini. “Mereka berniat baik ingin memberdayakan masyarakat lokal mencari Ambergris karena ada orang Eropa yang mau menampung dan membelinya,” ujarnya.

“Saya sampaikan bahwa Paus Sperma termasuk dalam mamalia laut yang sepenuhnya telah dilindungi di Indonesia, meskipun mungkin di Eropa masih legal untuk menjual-belikan Ambergris,” ujarnya.

Tak hanya itu yang membuat Sekar menentang utusan masyarakat Ambon itu. “Secara global pun kalau dilihat di daftar merah dari IUCN ((International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources), Physeter macrocephalus ini telah masuk kategori vulnerable atau rentan,” ujarnya.

Ambergris atau muntahan Paus Sperma ini mencuat setelah Sukadi, nelayan asal Bengkulu, menemukannya sebanyak 200 kilogram awal November ini. Sukadi mengaku secara tidak sengaja melihat benda berwarna putih tersebut mengapung di atas laut saat melaut di sekitar Pulau Enggano.

Sukadi, berniat menjual muntahan paus atau Ambergris itu. "Rencananya dijual Rp 22 juta tiap kilogram," kata Sukadi saat dihubungi Tempo, Senin, 13 November 2017.

Sumber: Tempo

E-mail Redaksi: sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing: marketingsukabumiupdate@gmail.com




TOPIK: SAINSTEK

Berikan Komentar