Sabtu, 21 Oktober 2017 - WIB
Follow Us:

Top 10 Nasional

Pray For Garut, Inilah 17 Korban Meninggal yang Terindentifikasi
Hino Pengangkut Pasir Hantam Lima Mobil, 3 orang Meninggal 3 orang Luka
Bupati: Germas HS Mengacu kepada 12 Indikator
Tol Sukabumi-Ciranjang-Padalarang Ditawarkan pada Investor Asean
Diperkosa Sejak Usia 16 Tahun, Perempuan Ini Laporkan Gatot Brajamusti ke Polisi
Kronologi Kasus Pembunuhan Oleh Dimas Kanjeng Taat Pribadi
Diduga Dibawa Kabur Pria Kenalan di Medsos, Nur Janah (mencaricinta Illahi) Warga Sukaraja Dua Bulan Hilang
Belum Terima THR, Ratusan Pegawai Garmen Mogok Bekerja
Apakah Warga Sukabumi Masih Ingat, Ada Apa dengan 4 Desember?
Adjo Tandatangani Kesepakatan Pembentukan DOB Sukabumi Utara


Mi Instan Mengandung Babi, BPOM: Ada di Surabaya dan Manokwari

Senin, 19 Juni 2017 - 15:29:11 WIB


Mi Instan Mengandung Babi, BPOM: Ada di Surabaya dan Manokwari
© Youtube.com
Mie instan asal korea.

SUKABUMIUPDATE.com - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Kusumastuti Lukito mengatakan mencabut izin edar terhadap empat produk mi instan yang terbukti mengandung babi. Keempatnya punya merk Nongshin Shin Ranyum Black, Samyang Kimchi, Samyang U-Dong, dan Ottogi Yeul Ramen yang merupakan impor dari Korea.

 "Importir telah diperingatkan untuk menarik tapi tidak diindahkan, makanya dilakukan penarikan izin edarnya," ujar Penny saat melakukan konfrensi pers di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (19/6).

Menurut Penny, seluruh balai yang dimiliki BPOM di 33 provinsi telah dikordinasikan terkait kebijakan penarikan izin edar. Laporan yang didapatkan sudah 23 provinsi menyatakan telah tidak ada lagi peredaran produk. "Terakhir kami menemukan peredaran pada supermarket di Surabaya dan Manokwari," kata Penny.

Kedepannya, kata Penny akan ada perbaikan proses registrasi yang dilakukan BPOM kepada pengajuan izin edar oleh importir. Proses pemeriksaan dokumen akan lebih diteliti lagi. "Uji kandungan melalui pengambilan sampel bisa diperketat," ujarnya.

Tidak ada pelarangan khusus, kata Penny untuk makanan yang mengandung babi. Makanan seperti itu punya konsumen tersendiri. "Tapi kan harus dipisahkan penjualannya dan dibedakan betul kemasannya," katanya.

BPOM, kata Penny untuk antisipasi hal seperti ini terulang akan mengeluarkan cara retail yang baik. Meminta importir untuk menerjemahkan komposisi bahan ke bahasa Indonesia. Proses edukasi terhadap masyarakat juga kan dilakukan agar lebih berhati-hati. "Produk yang mengandung babi harus memasang gambarnya pada kemasan," ujarnya.

Importir, menurut dia, saat ini telah dicabut izin edarnya. Sanksi tambahan masih akan dikenakan seperti pelarangan melakukan importir sampai waktu tertentu. "Kalau terbukti ada pelanggaran pidana, kami akan berkoordinasi dengan kepolisian," katanya.

 Penarikan produk mi instan mengandung babi yang dilakukan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) dinilai terlambat. Sebab mi instan asal Korea tersebut sudah lama beredar di Indonesia. "Kenapa baru sekarang ada public warning?" kata Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi.

 Tulus menuturkan, BPOM seharusnya tak sekadar memberikan edaran dan menarik produk-produk tersebut. BPOM perlu memberikan sanksi hukum baik secara administrasi maupun pidana.

 "Importirnya patut dicabut izin operasionalnya karena telah memasukkan produk yang tidak memenuhi standar regulasi di Indonesia, yakni proses produksi halal. Apalagi setelah ada UU Jaminan Produk Halal," kata Tulus soal mi instan kontroversial itu.

Sumber: Tempo

E-mail Redaksi: sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing: marketingsukabumiupdate@gmail.com




TOPIK: NASIONAL

Berikan Komentar