Jumat, 28 Juli 2017 - WIB
Follow Us:

Top 10 Nasional

Kecelakaan Maut Jalan Raya Cimande Menyisakan Luka Mendalam Bagi Keluarga Pengendara Mobil Brio
Pray For Garut, Inilah 17 Korban Meninggal yang Terindentifikasi
Hino Pengangkut Pasir Hantam Lima Mobil, 3 orang Meninggal 3 orang Luka
Tol Sukabumi-Ciranjang-Padalarang Ditawarkan pada Investor Asean
Diperkosa Sejak Usia 16 Tahun, Perempuan Ini Laporkan Gatot Brajamusti ke Polisi
Bupati: Germas HS Mengacu kepada 12 Indikator
Diduga Dibawa Kabur Pria Kenalan di Medsos, Nur Janah (mencaricinta Illahi) Warga Sukaraja Dua Bulan Hilang
Kronologi Kasus Pembunuhan Oleh Dimas Kanjeng Taat Pribadi
Belum Terima THR, Ratusan Pegawai Garmen Mogok Bekerja
Apakah Warga Sukabumi Masih Ingat, Ada Apa dengan 4 Desember?


Mengapa Telegram Disukai Teroris ? Berikut Analisis Polisi

Senin, 17 Juli 2017 - 15:08:30 WIB


Mengapa Telegram Disukai Teroris ? Berikut Analisis Polisi
© Twitter.com
Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

SUKABUMIUPDAT E.com - Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengungkapkan ada sejumlah hal mengapa aplikasi Telegram disukai teroris. Domain layanan percakapan telegram sendiri diblokir pemerintah atas referensi dari Polri dan diberikan dengan sejumlah catatan.

"Apa yang kami putuskan, berbasis analisis intelijen yang cukup lama," kata Tito, Minggu (16/7).

Menurut Tito,  hasil analisis tim kepolisian menunjukkan teroris dan kelompok radikal menggunakan aplikasi telegram karena dianggap aman dan lapang. Aman karena memiliki fitur enkripsi dan lapang bisa menampung ribuan member untuk penyebaran doktrin atau radikalisasi.

Fitur enkripsi itu, menurut Tito mempersulit kerja intelijen cyber Polri untuk menyadap percakapan kelompok radikal dan mengantisipasi aksi mereka. Karenanya, tindakan tegas (pemblokiran) diambil agar Telegram menyadari bahaya dari saluran percakapan kelompok radikal yang mereka tampung.

"Grup di Telegram bisa menampung hingga 10 ribu orang dan mampu menyebarkan paham-paham di sana. Akhirnya, terjadilah fenomena yg disebut lone wolf serta self radicalization yaitu radikalisasi melalui media online," ujar Kapolri.

Dimintai tanggapan soal pro kontra yang muncul akibat pemblokiran Telegram, Kapolri menyatakan hal itu biasa dan bisa dimaklumi. Dan, akan dibahas langkah untuk merespon pro kontra itu. "Akan kami bahas," ujarnya menegaskan.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, domain Telegram diblokir oleh pemerintah Indonesia karena dianggap menampung saluran percakapan kelompok-kelompok radikal. Adapun domain Telegram diblokir per Sabtu kemarin sebagai bentuk peringatan dari Indonesia agar Telegram segera merespon hal yang dianggap Indonesia sebagai ancaman itu.

Sumber: Tempo

E-mail Redaksi: sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing: marketingsukabumiupdate@gmail.com




TOPIK: NASIONAL

Berikan Komentar