Jumat, 28 April 2017 - WIB Kota SukabumiHujan Sedang, 23 - 32 °C
KURS $ : Jual: 13.280 Beli: 13.110
Follow Us:

Mang Dedi: Orang Sukabumi Jangan Bicara Budaya Sunda, Benerkeun Heula Basa Sapopoe

Selasa, 18 Oktober 2016 - 18:14:21 WIB


Mang Dedi: Orang Sukabumi Jangan Bicara Budaya Sunda, Benerkeun Heula Basa Sapopoe
© Danang Hamid/Kontributor
Mang Dedi.

SUKABUMIUPDATE.COM - Menyusuri romantika dongeng Sunda bagi sebagian masyarakat Sukabumi adalah bernostalgia ketika batu baterai yang sudah kehabisan energi listriknya, dimanipulasi dengan cara dijemur di bawah terik matahari, dengan harapan suara yang keluar dari radio transistor bisa kembali nyaring. Hal tersebut dilakukan, semata demi mendengarkan lanjutan serial dongeng Sunda yang tertunda pada sore sehari lalu.

Mang Dedi, adalah salah satu dedengkot Carita Sunda di Sukabumi. Dengan ramah dan penuh canda, pensiunan pegawai negeri sipil (PNS) Badan Koordinasi Keluarga Berencana Daerah (BKKBD) Kabupaten Sukabumi ini, menerima Danang Hamid dari sukabumiupdate.com, di sela-sela jadwal siarannya di Radio SMS FM Sukabumi, Senin (17/10) malam, pukul 21.00 WIB.

Pria yang memiliki nama lengkap A. Dedi Muljadi ini, lahir di Jampang Kulon, Kabupaten Sukabumi, 23 Juni 1951. Ia kini sudah dikaruniai lima orang anak dan enam cucu.

Dengan gaya khasnya yang penuh canda dan tawa, ia menjawab semua pertanyaan sukabumiupdate.com. Berikut petikannya:

Bagaimana awal mula menjadi pendongeng Cerita Sunda?

Dulu, selepas lulus STM (sekolah teknologi menengah-red) Negeri Kota Sukabumi (sekarang SMK Negeri 1 Kota Sukabumi-red), karena saya merasa memiliki jiwa seni, saya bersama mang Engkus Samudra sebenarnya sudah mendirikan grup calung Treyasa (Tresna Raksaning Budaya Sunda). Namun pada suatu saat, grup reog Supados kekurangan personel, sehingga akhirnya saya dicomot untuk menggantikan.

Waktu itu bapak Dudung Anggota DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah-red) Kabupaten Sukabumi menunjuk saya, karena peran saya dianggap cocok dengan reog Supados. Tahun 1971 saya menjadi personel tetap di grup reog itu, sehingga harus meninggalkan grup calung Treyasa. Beberapa tahun kemudian grup calung digunakan sebagai tarompet (media promosi-red) Persatuan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), karena saya dan keempat teman saya belum ada pekerjaan tetap, akhirnya ikut tes, dan alhamdulillah saya lulus.

Karena lama tak ada kelanjutannya, hingga suatu saat, ketika saya sedang manggung, sebuah kertas dilemparkan ke atas panggung oleh penonton. Kertas tersebut berisikan pesan kalau saya disuruh mendatangi kantor kebudayaan. Sapopoe sim kuring mikiran eta surat panggilan, sok sieun aya nu nyengcang waktu keur manggung.

Karena ada rasa takut dan khawatir, akhirnya saya memutuskan datang ke Kantor Bupati Sukabumi. Kebetulan bertemu Mang Ocen, pemain gendang sesama seniman Sukabumi. Jadi saat menunggu bertemu bupati tidak menjemukan. Sampai kemudian saya dipanggil Pak Nunung, ia menjelaskan bahwa Bupati Anwari waktu itu, menyuruh saya melamar kerja di kantor bupati sebagai honorer dengan gaji Rp9 ribu rupiah per bulan.

Waktu itu tahun 1972. Saat saya memasuki ruangan di kantor bupati, ada yang menjadi daya tarik buat saya. Saya datang lebih pagi dari orang lain, jam 5.30 saya sudah berada di kantor. Saya melihat-lihat instrument music, seperti calung dan dogdog (alat musik tradisional Sunda sejenis gendang-red), tah eta nu pikaresepeun pikeun sayah mah.

Singkatnya bagaimana Mang?

Saya lulus tes, dan menjadi PLKB (Petugas Lapangan Keluarga Berencana-red) di  BKKBN Kabupaten Sukabumi. Inilah balada hidup, saya dibutuhkan pak Herman Airlangga (pemilik Airlangga FM-red) padahal ketika sengaja melamar ditolak. Ngahaja-haja mah kuring teu ditarima ngalamar teh, keur mah geus boga baju Korpri (Korps Pegawai Republik Indonesia-red) meureun nya dina dada kuring teh.

Apa sebabnya saya ingin mendalami dunia radio waktu itu? Saya merasa tertantang oleh Jamar Media. Jamar itu laki-laki dan bisa menirukan suara perempuan, mengapa saya tidak bisa melakukan hal yang sama? Ketika Mang Dina keluar dari Airlangga FM, kemudian saya yang menggantikan, waktu itu tahun 1987. Mungkin karena saya sering manggung dengan beberapa karakter suara yang saya kuasai, harita teh sora aki-aki, sora awewe, meureun mikirna Herman teh kieu, ah! Mang Dina kaluar si Dedi oge bisaeun.

Waktu itu saya masih kesulitan beradaptasi dengan mic, karena di ruang siar hanya sendiri. Belum terbiasa berbicara sendiri, tapi karena ada kemauan ada bakat, saya terus belajar dan belajar sampai bisa. Dan waktu itu nama Dedi tiada duanya hingga mengharuskan saya siaran lima kali dalam satu hari untuk lima perusahaan, walaupun fee-nya tidak pernah sampai karena ternyata gaji yang saya terima waktu itu berasal dari fee.

Hal inilah yang menyebabkan saya keluar dari radio itu. Kemudian saya ditampung oleh almarhum pak Azis Salim, Radio Sena Cibadak pada tahun 1991. Selepas dari Radio Sena saya pindah ke Radio Menara melalui testing terlebih dulu. Karena pemilik Lita Sari Pak Ii Sudjai belum yakin dengan kemampuan saya, jadi harus mengikuti tes dulu. Pernah juga di Radio Lita Sari, Cimahi Bandung.

Setelah lulus tes dan dianggap layak, akhirnya saya bergabung dengan Radio Menara dari tahun 1992 hingga 2014. Karena Pak Ii meninggal dunia terpaksa saya meninggalkan Menara, kemudian bertemu Mang Dina Mara. Ia bertanya, mengapa saya tidak mendongeng lagi. Beberapa tawaran pun sempat dilontarkan kawan-kawan seperti Adi Sanjaya untuk bergabung dengan Radio Fortuna. Begitupun dengan Pampam Kiwari, eh pak Inoeh (almarhum) yang mengajak saya untuk bergabung, tapi saya jawab tidak bisa, kalau rekaman mah silahkan. Namun pada akhirnya saya memutuskan untuk bergabung bareng Mang Dina di Radio SMS FM (Sinar Mega Swara) hingga sekarang, Ceuk Mang Dina geus jeung aing lah! nya ti harita tos tilu taun jalan meureun dugi ka ayeuna.

Apa pendapat Mang Dedi mengenai dongeng yang notabene dianggap sakral dalam masyarakat kita?

Dongeng itu beda dengan cerita, kalau Mang Dedi sebetulnya tukang bercerita, bukan tukang dongeng sebab saya memainkan beberapa karakter dengan suara yang berbeda-beda. Kalau dongeng itu seperti saat ibu kita dahulu sebelum tidur bercerita tentang sesuatu dengan suara yang sama, begitu-begitu saja tanpa pergantian suara. Itu dongeng namanya. Kalau Mang Dedi mah punya prinsip bahwa saya adalah tukang cerita yang mewakili tiap karakter tokohnya masing-masing, untuk itu saya tidak mau disedut tukang dongeng, tapi tukang cerita.

Berapa karakter suara yang Mang Dedi mampu tirukan?

Mang Dedi bisa menirukan 36 karakter suara, karakter pelaku atau tokoh-tokoh dalam naskah cerita yang dibuat sama pengarangnya.

Karakter suara apa yang paling sulit Mang Dedi perankan?

Nggak ada yang sulit, sudah biasa.

Bagaimana teknik membedakan antara satu tokoh dengan yang lain agar tidak sampai tertukar?

Begini! Umpamanya ada empat orang perempuan sedang berkumpul di pinggir sungai mencuci pakaian, si Ijah, Ijih, Ojoh, Ujuh, hanya membedakan volume dan intonasi suara kemudian saya menandainya dengan batuk kecil, tawa, ngadehem dan lain-lain, adalah kebiasaan yang saya lakukan saat tokoh itu muncul untuk berdialog dengan tokoh lainnya. Ijah mah sok batuk heula kakarak ngomong, Ijih mah kawas nu bengek sorana teh, atawa Ujuh mah sok cicirihilan.

Berapa naskah cerita yang mang Dedi telah bacakan untuk pendengar, dari mana naskahnya?

Wah, udah ratusan! Naskah cerita yang saya bacakan berasal dari pengarang dengan cara sewa di antaranya milik Ki Leuksa dari Sumedang.

Cerita yang pernah dibawakan apa yang paling berkesan?

Wah, hampir semuanya berkesan tapi cenderung sangat menyukai jalan cerita Ali Nu Mawa Pati, Jawara Ti Kuburan, terus Aji Batara Karang.

Ketika masa-masa kejayaan radio, penyiar adalah selebritis lokal sangat digandrungi fans-nya, bagaimana pula reaksi istri Mang Dedi?

Wah ini nih. (Mang Dedi tertawa terbahak). Waktu Mang Dedi keliling dari kampung ke kampung untuk manggung, yang pertama kali dicari oleh warga adalah Mang Dedi. Turun dari mobil baru datang masih capek setelah perjalanan jauh mereka berkerumun untuk menjumpai saya. Dari pada saya keluar bertemu mereka, leuwih hade saya mah nyumput we. Apalagi zaman sekarang, rata-rata ingin foto bareng.

Teu baroga pikiran (kembali tertawa), pan urang teh keur capek heula, tapi da dina hate mah bungah kacida! Ngan cik atuh ari keur cape mah ulah waka. Saat reog manggung yang dicari mang Dedi. Karena apa? Karena Mang Dedi mah sering siaran, kitu. Kalau istri mah cukup pengertian dan tahu betul profesi saya, tapi namanya cemburu mah pasti ada. Tapi istri saya mengerti betul. Kieu, mah wayahna ari dikawin ku kembang buruan mah, aya budak congklak inget ka anak, aya awewe geulis poho ka maneh. Hahahaha.

Menurut Mang Dedi, apa yang membuat Mang Dedi disukai pendengar?

Mungkin tata cara saya saat menyampaikan carita, saya menyertakan sound efect untuk membuat jalan cerita lebih hidup, sehingga membawa ilusi pendengar seolah-olah ada dalam situasi di dalam cerita itu sendiri. Misal sound efect hujan, burung, angin, petir, suara-suara horror, dan musik latar.

Berapa honor yang Mang Dedi dapatkan saat pertama kali bergabung di radio?

Waktu itu seratus sepuluh ribu per bulan.

Instrument musik apa yang Mang Dedi Kuasai?

Gitar dan harmonika berbarengan dimainkan, kemudian suling, kecapi, karinding, dan keyboard.

Pengalaman paling pahit apakah yang Mang Dedi alami selama menjalankan profesi?

Wahhh, pengalaman pahit mah banyak. Misalnya waktu kita main dengan wayang golek Dadah Subardah di Cikanyere, Cibadak. Kan Mang Dedi bawa film keliling dan Mang Dedi sebagai umpannya gitu, terus mulai manggung yang pertama jaipongan, kedua bagian mang Dedi mawakeun carita atau lawakan tunggal tea, mun ayeuna mah stand up comedy, terus wayang golek. Nah pernah ada seseorang dari Cianjur Selatan, dia membawa rombongan kami manggung empat malam berturut-turut di Cianjur. Tapi sialnya uang honor manggung dibawa lari oleh teman sendiri. Terpaksa kami tidur di pinggir jalan. Sedih, mana mobil abis bensin.

Bagaimanakah kesenian tradisional Sunda kini menurut Mang Dedi?

Kondisinya seperti mati suri, hidup segan mati tak mau. Apa lagi jika melihat anak-anak sekarang sepertinya tidak mau mempergunakan bahasa Sunda, komo yang berbahasa Sunda baik dan benar mah, hese! Jangankan anak didiknya, gurunya pun balelol. Makana amang sok dititah ngajar Basa Sunda di sakola-sakola dasar (SD). Itu juga kalau gurunya tidak datang. Euhh barudak ayeuna mah gararengsi we make bahasa Sunda teh. Sedih

Jadi apa yang harus dilakukan?

Jangan dulu bicara kesenian Sunda, bahasana we heula ayeuna mah benerkeun! Kalaupun ada yang kembali menggunakan iket, dan pangsi hideung. Pan kumaha di urang mah kalahkah ditanya rek pencak silat di mana euy? Pan kurang ajar eta! Urang Sundana sorangan ngomong kitu. Jadi, menurut saya, bahasa Sunda dulu lah gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Terus perbaiki penggunaannya, nempatkeun katana, susunan kalimatna, undak-unduk basana pelajari lagi. Betapa kaya bahasa Sunda. Contona kata dahar, neda, tuang, lolodok, jajablog atawa nyatu. Kalau dalam bahasa Indonesia hanya satu kata kerja saja, yaitu makan. Buat siapa pun, makan. Buat hewan makan, buat manusia juga makan, tak ada bedanya.

Pernah ada perhatian dari pemerintah?

Pernah, ada dari Pemerintah Kota Sukabumi ya, berupa alat-alat musik tahun 2013 lalu.

Apakah anak-anak Mang Dedi menurunkan bakat ayahnya?

Kalau jiwa seninya turun, tapi untuk seni saja ya, bukan seni Sunda. Seperti teknik bercerita kan susah mengajarinya sebab vokal yang kita gunakan kan alatnya pita suara, tenggorokan dan mulut kita. Berbeda dengan gitar atau alat musik lainnya. 

Reporter: DANANG HAMID/Kontributor
Redaktur: FIT NW
Berikan Komentar


Rekomendasi untuk Anda

Disperdagkop UKM Kabupaten Sukabumi, Uji Tera Sembilan SPBU
Promoted Content

Disperdagkop UKM Kabupaten Sukabumi, Uji Tera Sembilan SPBU