Sabtu, 22 Juli 2017 - WIB
Follow Us:

Top 10 Ekonomi

Disedot Online, Penumpang Angkutan Umum di Kota Sukabumi Berkurang Hingga 80 Persen
APBD Kabupaten Sukabumi Rp3,161 T, Ini Komposisinya
Ini Cara Ribuan Karyawan PT Muara Tunggal Kabupaten Sukabumi Tolak Rentenir
Seluruh Tol Bocimi Ditargetkan Selesai 2019
Mengintip Masa Depan Jampang dari Secangkir Kopi
Di Sukabumi, si Pleci Bisa Seharga Motor Sport
Anda Perlu Ayam Kampung? Datanglah ke Cicantayan Kabupaten Sukabumi
Kisah Pelipur Lara di Gang Lipur Kota Sukabumi
Kenikmatan Sebuah Meja Cooking Class di Kota Sukabumi
Dari Nyalindung Menuju Pasar Teh Dunia


Kisah Pelipur Lara di Gang Lipur Kota Sukabumi

Minggu, 20 November 2016 - 12:03:46 WIB


Kisah Pelipur Lara di Gang Lipur Kota Sukabumi
© Danang Hamid
Aneka pakaian bekas yang menjadi komoditas utama di gang Lipur.

SUKABUMIUPDATE.COM - Beragam cara agar orang bisa menafkahi dan memenuhi kebutuhan hidup keluarga, di antaranya dengan berjualan barang bekas. Pasar loak yang paling tua dan masih eksis hingga saat ini di Kota sukabumi adalah Gang lipur.

Jangan membayangkan pasar yang luas, lokasi pasar ini ada di lorong sepanjang sekira dua ratus meter saja. Terletak di sekitar Pancuran Kembang, Jalan Jend. Ahmad Yani, Kota Sukabumi.

Meskipun berada di gang sempit, sebagian pedagang menempati lapak  atau kios dengan cukup nyaman, ada yang permanen ada juga yang non permanen. Orang Sukabumi lebih sering menyebutnya dengan Gang Lipur ketimbang pasar loak.

“Seingat saya, mungkin sebelum tahun 70-an pasar loak ini sudah ada. Sejak tahun 1978 ketika saya pindah ke sini, Gang Lipur ramai, baik pembeli atau penjual barang bekas,” ungkap Falah Jihan (66), warga yang sehari-harinya berjualan Sembako (sembilan bahan pokok) di sekitar Gang Lipur.

Falah menjelaskan keramaian jual beli barang bekas puncaknya pada 2004 silam. “Kenapa sepi? Entah ya, mungkin karena pilihan produk beragam, pedagangnya banyak, globalisasi, ekonomi dunia yang bebas, mungkin ngaruh ke pasar loak,” jelas Kakek satu cucu berargumen.

Sekarang Gang Lipur sepi pembeli. “Dapat untuk kebutuhan makan saja sudah bagus, aya we lah 20 sampai 50ribu per hari mah,” ungkap Sopyan (65), penjual aneka barang bekas seperti pakaian, jam tangan, sepatu dan lain-lain.

Sopyan yang memiliki lima anak dan empat cucu ini berjualan di lapak seluas 1 x 1,5 meter. “Yang penting ada kerjaan,” tegasnya,

Para pedagang harus menyisihkan Rp10 ribu per hari untuk sewa lapak, uang keamanan dan retribusi. “Alhamdulillah, tiga juta kotor mah dalam sebulan saya dapat,” ungkap Aries Pratama (32), penjual kaca mata di Gang Lipur.

Meski mulai sepi transaksi, pedagang di Gang Lipur tetap dibutuhkan oleh orang yang butuh uang cepat karena terdesak dengan menjual barangnya. “Kalau saya kepepet butuh uang puluhan ribu rupiah mah, Gang Lipur bisa diandalkan, habis pinjam ke orang malu, asal ada barang di rumah yang bisa saya jual, Gang Lipur cukup menghibur,” tutur satu warga Nangeleng yang enggan menyebutkan namanya yang tengah menjual pakaian bekas.

Pasar Loak memang tidak keren, identik dengan transaksi jual beli golongan ekonomi lemah, namun Gang Lipur tetap eksis sebagai lokasi pelipur lara bagi warga yang kepepet butuh uang cepat.

Reporter: DANANG HAMID
Redaktur: FIT NW
E-mail Redaksi: sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing: marketingsukabumiupdate@gmail.com




TOPIK:Sukabumi

Berikan Komentar