Senin, 20 November 2017 - WIB
Follow Us:

Top 10 DariKenari

Lesbi dan Tren Wanita Sukabumi Aktif di Ruang Publik
Jadi Duta CFD Indonesia 2017, Siswa SD Negeri V Karang Tengah Kabupaten Sukabumi Diberangkatkan ke Jepang
Wanita Sukabumi di Hong Kong Hindari Godaan Pria Asing dan Lesbi
Aksi Penggalangan Dana Rp5.000 untuk Jembatan Pamuruyan
Hati Heti, Gadis Sukabumi Dibunuh Rasa Nyaman
Pengakuan: Mengintip Bisnis Lendir di Ibu Kota Kabupaten Sukabumi
Orang Tua Cerai, Tinggal dengan Nenek, Gadis Kota Sukabumi Ini Pilih Jadi Lesbi
Warga Sukabumi, Hati-hati Akun AkuLaku
Pengakuan: Mengintip Prostitusi di Ciracap Kabupaten Sukabumi
Ditemukan Dompet Warna Coklat di Pamuruyan Kabupaten Sukabumi


Kekerasan di Sekolah yang Tak Pernah Usai

Senin, 06 November 2017 - 15:29:17 WIB


Kekerasan di Sekolah yang Tak Pernah Usai
© Angga FM
Syaefudin Simon.

SUKABUMIUPDATE.com - Kekerasan di sekolah muncul kembali. Rakaman video viralnya menyeruak ke jagat maya dan warganet seluruh dunia bisa melihatnya. Ini tragedi kekerasan di sekolah yang memalukan. Sekaligus memprihatinkan.

Konon, menurut siaran pers Komisi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), penganiayaan terhadap siswa salah satu SMP di Kota Pangkalpinang, Bangka Belitung itu, beberapa hari lalu itu penyebabnya hanya sepele. Sang siswa --  korban penganiayaan guru matematika  itu – sengaja memanggil guru SMP tersebut tanpa “Pak”. Hanya karena itulah, sang oknum guru marah. Di video terlihat, anak itu dipukul, ditendng, dan kepalanya dibenturkan ke tembok.

“Ini sudah masuk kategori penganiayaan berat, karena tidak sekedar ditampar, tetapi siswa pun dibenturkan kepalanya ke dinding. Diduga akibat benturan tersebut, korban mengalami sakit di kepala,” ujar Retno Listyarti, komisioner KPAI bidang pendidikan di Jakarta, dalam siaran persnya, Senin (6/11). 

Tragedi kekerasan di SMP Pangkalpinang, Babel ini, adalah kasus yang kesekian puluh, bahkan kesekian ratus kali yang terjadi di Indonesia dari tahun ke tahun. Ada kalanya korbannya siswa. Kali lain korbannya guru. Bahkan korbannya, kadang, orang-orang awam yang ada di sekitar sekolah seperti  sopir, tukang ojek, dan pedagang kaki lima; di mana pelakunya, terkadang, anak-anak berseragam pelajar.

Semua  itu menggambarkan satu hal: pendidikan etika dan akhlak di sekolah tidak efektif. Bahkan mengalami kegagalan yang nyaris fatal. Dalam kondisi tertentu, misalnya, bila anak-anak berkumpul di sebuah lokasi di luar sekolah, masyarakat sering menduga bahwa di situ akan ada tawuran atau tindak kekerasan dan anarkisme. Penilian publik tersebut jelas tidak sepenuhnya salah. Ini karena kasus-kasus tawuran dan  kekerasan memang sering  muncul di antara “gerombolan” anak-anak sekolah tersebut.

Kenapa semua itu terjadi? Dalam kasus SMP Pangkalpinang, kenapa hanya karena tidak menyebut kata “Pak” –  kemudian guru matematika itu emosi dan memukul siswa? Di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat,  kasusnya lain lagi. Seorang siswa SMA Negeri 1 Kubu Raya,  dilaporkan ke polisi oleh gurunya sendiri. Sang murid menganiaya sang guru seusai pembagian raport kenaikan kelas,  Juni 2017 lalu. Gegaranya nilai pelajaran guru tersebut buruk sehingga pelaku tidak naik kelas. Sedangkan di Tomohon, seorang siswa terlibat dalam pengeroyokan dan pemukulan terhadap sopir angkot, Agustus 2017 lalu. Penyebabnya, mereka berada dalam kondisi mabuk minuman keras.

Kasus-kasus di atas, di mana guru dan siswa terlibat dalam kekerasan dan penganiayaan, sering kali terjadi di mana-mana, umumnya di perkotaan. Mungkin peristiwa itu terjadi akibat langkanya komunikasi, tiadanya keteladanan, minimnya pendidikan moral, dan kondisi anarkis yang menyeruak di tengah masyarakat.

Dr. Yudi Latif, Kepala Unit Kerja Presiden Bidang Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) dalam seminar Mengenang Cak Nur di UIN Jakarta, Jumat (3/11) lalu menyatakan, di era madsos, anak-anak – bahkan kita semua – terjebak dalam kamar-kamar sempit  komunikasi tanpa sentuhan kemanusiaan.  Kids zaman now, kata Yudi,  sekarang menjadi  zombie  yang berjalan tertatih-tatih tanpa daya dalam hiruk pikuk belantara medsos yang penuh hoak,  ujaran kebencian, dan kekerasan. Dan kekerasan yang muncul di sekolah di mana korbannya menimpa sivitas akademika  -- baik di SD, SMP, SMA, bahkan sampai perguruan tinggi -- adalah dampak negatif dari pengaruh komunikasi sempit ala medsos yang belukar tadi.

Kasus  Pangkapinang, Kubu Raya, dan Tomohon adalah fenomena “superficial dari subculture” yang mendera anak didik dan guru di era medsos yang kering sentuhan kemanusiaan. Teknologi informasi yang seharusnya “membebaskan” -- yang terjadi justru “mengungkung” manusia dalam kamar-kamar sempit dan gelap seperti drama eksistensialisme Sartre. Dalam kegelapan itu, etika dan moralitas bukan lagi menjadi kesepakatan umum, tapi sudah menjadi ilusi pribadi tanpa hati.

Lalu di manakah “sekolah” untuk memperbaiki atau mengkonstruksi etika dan moral? Di masyarakat? Di rumah? Di lingkungan keluarga? Semuanya! Guru di era medsos mungkin lebih peduli pada info-info aktual atau pendapat yang merangsang naluri “kekuasaan” di gadgetnya. Begitu pula siswa, lebih peduli info-info kids zaman now ketimbang pelajaran etika dan moral yang membosankan. Sementara orang tua yang sibuk kerja terpaksa  “menitipkan” anak-anaknya untuk dididik totally di sekolah yang langka kehangatan kemanusiaan. Apa jadinya? Tak hanya anak didik yang menjadi zombie kultural. Tapi masyarakat pun terkena pengaruh zombie-zombie kultural tadi.

Lalu, di bagaimana solusinya! Harus ada pembenahan pendidikan secara menyeluruh! Konsep dan sistem pendidikan harus dirombak total. Seleksi guru, misalnya, tidak hanya berdasarkan ijasah  keilmuan; tapi juga integrasi moral dan kualitas kepribadian. Di pihak lain, sekolah seperti halnya pondok pesantren, butuh kehadiran seorang kyai atau resi yang menjadi suri tauladan bagi seluruh civitas akademika. Konsep pendidikan pesantren di mana “keteladanan kyai hadir 24 jam di lingkungan madrasah” tampaknya layak menjadi pertimbangan untuk menjadi modal pendidikan di sekolah-sekolah umum masa depan

Medsos hanya instrumen. Jika manusia berakhlak yang memakainya, medos akan sangat berguna untuk  menyebarkan kebaikan. Sebaliknya, jika manusia biadab yang memakainya, medos efektif untuk menyebar kejahatan.  Semua itu tergantung niatnya. Al-amaalu binniyat. Tapi niat baik tak akan muncul dari hati yang kotor! Itulah sebabnya membentuk pebribadian manusia yang beretika dan berakhlak mulia seharusnya lebih dikedepankan dalam dunia pendidikan. Untuk menacapainya, semua stake holder pendidikan – ulama, kyai, ilmuwan, orang tua, birokrasi, dan politisi – harus bergerak bersama dan menjadikan dirinya sebagai “teladan” untuk anak-anak kita. Anak-anak zaman milenial yang lebih banyak bertanya kepada mbah google ketimbang bertanya kepada mbah yai.

Kenapa keteladanan itu penting di era milenial? Karena pernyataan dan nasehat sudah padat di medsos. Yang langka adalah sentuhan kemanusian. Itulah sebabnya, keteladan lebih efektif 1000 kali dari pada pernyataan! Ini karena keteladanan bersentuhan langsung dengan konstituen di dunia pendidikan!.

 

E-mail Redaksi: sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing: marketingsukabumiupdate@gmail.com





Berikan Komentar