Jumat, 28 Juli 2017 - WIB
Follow Us:

Top 10 Nasional

Kecelakaan Maut Jalan Raya Cimande Menyisakan Luka Mendalam Bagi Keluarga Pengendara Mobil Brio
Pray For Garut, Inilah 17 Korban Meninggal yang Terindentifikasi
Hino Pengangkut Pasir Hantam Lima Mobil, 3 orang Meninggal 3 orang Luka
Tol Sukabumi-Ciranjang-Padalarang Ditawarkan pada Investor Asean
Diperkosa Sejak Usia 16 Tahun, Perempuan Ini Laporkan Gatot Brajamusti ke Polisi
Bupati: Germas HS Mengacu kepada 12 Indikator
Diduga Dibawa Kabur Pria Kenalan di Medsos, Nur Janah (mencaricinta Illahi) Warga Sukaraja Dua Bulan Hilang
Kronologi Kasus Pembunuhan Oleh Dimas Kanjeng Taat Pribadi
Belum Terima THR, Ratusan Pegawai Garmen Mogok Bekerja
Apakah Warga Sukabumi Masih Ingat, Ada Apa dengan 4 Desember?


Kapolri Tito Karnavian Ungkap Alasan Telegram Diblokir

Senin, 17 Juli 2017 - 15:23:32 WIB


Kapolri Tito Karnavian Ungkap Alasan Telegram Diblokir
© mabesajo.com
Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

SUKABUMIUPDAT E.com - Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Tito Karnavian mengatakan mulanya pemerintah tidak ingin menutup aplikasi Telegram di Indonesia. Pemerintah hanya ingin Telegram memberikan akses kepada kepolisian agar bisa melacak komunikasi yang dilakukan kelompok-kelompok terorisme.

Permintaan pemberian akses Telegram itu, kata Tito, telah disampaikan kepolisian kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika. Ia menjelaskan, pihaknya membutuhkan akses Telegram karena hal ini menyangkut keamanan negara.

"Jadi beri kami akses khusus untuk kasus terorisme, tapi tidak dilayani," katanya sebelum rapat dengan Komisi Hukum di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, (17/7).

Karena tidak mendapat tanggapan positif dari pihak Telegram, akhirnya pemerintah memutuskan menutup aplikasi tersebut. Lewat pemblokiran ini diharapkan Telegram mau berkoordinasi dengan pemerintah Indonesia.

"Kami tahu bahwa ini adalah profit oriented bagi mereka, penggunanya jutaan di Indonesia. Begitu kami tutup, mikir mereka," ucapnya.

Tito Karnavian menuturkan dia mendengar pihak Telegram sudah membangun komunikasi dengan pihak Kementerian Komunikasi dan Informatika terkait dengan pemblokiran ini. "Kalau mau dibuka lagi, fine. Tapi kami diberikan akses kalau ada data-data berkaitan dengan terorisme," katanya. 

CEO Telegram Pavel Durov bereaksi terhadap pemblokiran ini. Lewat akun Twitter-nya @durov ia mengaku belum menerima pemberitahuan dari pemerintah Indonesia. "Itu aneh. Kami belum pernah menerima permintaan atau keluhan dari pemerintah Indonesia. Kami akan menyelidikinya dan mengumumkan hasilnya," katanya.

Sumber: Tempo

E-mail Redaksi: sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing: marketingsukabumiupdate@gmail.com





Berikan Komentar