Jumat, 21 Juli 2017 - WIB
Follow Us:

Top 10 Sainstek

Robot Seks Harmony Harganya Setara Mobil LCGC di Indonesia
Hujan Es di Bandung, Ini Perbedaannya dengan Salju
Remaja 19 Tahun Ini Raup Ratusan Juta Sebagai Gamer Profesional
Headphone Beat Meledak di Wajah, Apple Tolak Beri Kompensasi
Kembangkan Pesawat Jet, Honda Habiskan 1 Miliar Dolar AS
Mahasiswa Unibraw Kembangkan Alat Pendeteksi Kualitas Udara
Dua Alasan Nokia 3310 Klasik Tidak Berfungsi di AS
Samsung Galaxy S8 Dikabarkan Dilengkapi Fitur Pengenal Wajah
Hadapi Ransomware WannaCry, Jangan Hanya Andalkan Antivirus
Hindari Mengunggah 6 Hal Berikut di Facebook


Hasil Riset Terbaru: Kiamat Kehidupan di Bumi Kian Dekat

Rabu, 12 Juli 2017 - 13:48:54 WIB


Hasil Riset Terbaru: Kiamat Kehidupan di Bumi Kian Dekat
©
Ilustrasi kiamat.

SUKABUMIUPDATE.com - Kiamat kehidupan bumi kian dekat. Boleh percaya boleh tidak. Namun, setidaknya itu (11/7).

Dalam studi berjudul "Biological annihilation via the ongoing sixth mass extinction signaled by vertebrate population losses and declines" itu, tim ilmuwan mengungkapkan bumi kian kekurangan sumber daya alam. Musababnya, kepadatan populasi dunia dan gaya hidup manusia yang berlebihan.

Tim terdiri dari Gerardo Ceballosa, pakar ekologi dari Universitas Mexico City; dan, Paul Ehrlich dan Rodolfo Dirzo, pakar biologi lingkungan dari Universitas Stanford, Amerika Serikat.

"Fakta-fakta tersebut merupakan indikator bumi mendekati kiamatnya," tulis tim dalam jurnal.

Ceballosa, Ehrlich, dan Dirzo memakai metode analisis terhadap 27.600 mamalia, reptil, dan amfibi. Mereka menemukan penurunan sekitar 43 persen sejak 1993. Jika hal tersebut terus terjadi, menurut tim, kehidupan di bumi akan terjadi lebih cepat daripada yang diprediksi sebelumnya. Alias kiamat kehidupan kian dekat.

Selama milenium terakhir, tulis tim, sejumlah spesies di bumi juga mengalami kepunahan 100 kali lebih cepat ketimbang milenium sebelumnya. Rata-rata ada dua spesies hewan vertebrata (bertulang punggung) punah tiap tahunnya dalam 100 tahun terakhir.

Jelas itu sangat mengkhawatirkan, terlebih sejumlah satwa yang dalam periode sebelumnya memiliki status aman telah menjadi rentan punah. Itu karena sekitar 50 persen dari sejumlah hewan yang dulu berbagi kehidupan dengan manusia sudah lenyap.

"Kepunahan massal sudah di depan mata," tulis tim dalam jurnal.

Dalam jurnal tim juga menunjukkan beberapa indikator yang menunjukkan ancaman yang memicu kiamat keanekaragaman hayati di bumi. Hilangnya banyak spesies di planet ini berperan besar dalam efek kiamat atau katastropik ekosistem. Hal itu, menurut tim, memiliki konsekuensi besar dalam banyak aspek, seperti ekologi, ekonomi, dan sosial.

Sejak 443 juta tahun terakhir, kehidupan di bumi telah mengalami lima kali kepunahan masal. Kepunahan pertama terjadi pada periode akhir Ordovician, 443 juta tahun lalu. Pada periode itu, Bumi dilanda musim es membeku, dengan 60-70 persen spesies mengalami kepunahan.

Kepunahan kedua terjadi pada periode awal Devonian, tepatnya pada 360 juta tahun lalu. Perubahan iklim ekstrem membuat 70 persen spesies punah.

Bank benih di Svalbard, Norwegia, tempat harapan terakhir sebelum kiamat kehidupan di bumi benar-benar datang. (croptrust.org).

Ketiga terjadi pada pertengahan periode Permian-Triassic, 250 juta tahun lalu. Sebabnya adalah erupsi gunung berapi masif. Peristiwa itu membuat 95 persen spesies punah. Kepunahan keempat terjadi pada masa Triassic-Jurassic, sekitar 200 juta tahun lalu. Akibat erupsi gunung berapi, tiga perempat spesies lenyap dari muka bumi.

Terakhir, pada masa Cretaceous-Tertiary, 65 juta tahun lalu. Penyebabnya adalah meteor raksasa yang menghantam bumi, membuat spesies dinosaurus lenyap seutuhnya.

Sumber: Tempo

E-mail Redaksi: sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing: marketingsukabumiupdate@gmail.com




TOPIK: SAINSTEK

Berikan Komentar