Sabtu, 27 Mei 2017 - WIB
Follow Us:

Top 10 Ekonomi

Disedot Online, Penumpang Angkutan Umum di Kota Sukabumi Berkurang Hingga 80 Persen
APBD Kabupaten Sukabumi Rp3,161 T, Ini Komposisinya
Ini Cara Ribuan Karyawan PT Muara Tunggal Kabupaten Sukabumi Tolak Rentenir
Mengintip Masa Depan Jampang dari Secangkir Kopi
Anda Perlu Ayam Kampung? Datanglah ke Cicantayan Kabupaten Sukabumi
Kenikmatan Sebuah Meja Cooking Class di Kota Sukabumi
Kisah Pelipur Lara di Gang Lipur Kota Sukabumi
Dari Nyalindung Menuju Pasar Teh Dunia
Di Sukabumi, si Pleci Bisa Seharga Motor Sport
Happy Juice dari Cibadak, Ketika Kerja Keras Tidak Pernah Mengkhianati Hasil


Happy Juice dari Cibadak, Ketika Kerja Keras Tidak Pernah Mengkhianati Hasil

Minggu, 14 Agustus 2016 - 17:00:06 WIB


Happy Juice dari Cibadak, Ketika Kerja Keras Tidak Pernah Mengkhianati Hasil
© dok.pribadi
Happy Juice dari Cibadak, Ketika Kerja Keras Tidak Pernah Mengkhianati Hasil

SUKABUMIUPDATE.COM - Ade Rahman adalah nama karib Ade Toha, adalah pria kelahiran Cibadak, 21 April 1968 lalu. Setelah lulus SMA, pria ramah dengan tinggi badan 165 cm ini, malah mengaanggur. Kesehariannya hanya diisi dengan nongkrong-nongkrong di jalanan.

Puas bertahun-tahun dengan nongkrong-nongkrong di jalanan sembari menekuni hobi di dunia entertainment dengan menjadi master of ceremony (MC), Ade pun memilih banting profesi menjadi tukang cukur di Royal Babershop, Cibadak, selama tujuh tahun lamanya.

Memasuki usia 20, Ade mulai berpikir serius untuk menata masa depannya. “Kepikiran, masa gini terus. Gara-gara hobi main musik, pernah jadi musisi, pernah jadi tukang cukur, tapi begini-begini aja,” tutur alumni SMA Negeri 1 Cibadak angkatan 1987 itu.

Keinginan merubah nasib tersebut memang tidak muncul tiba-tiba, karena ketika sedang nyaman menjadi tukang cukur itulah, keluarganya mengalami musibah, rumahnya dilalap si jago merah. Seketika perekonomian keluarganya langsung terpuruk.

Namun Ade tak mau menyerah, dia memilih bangkit dari keterpurukan. Ade sadar, bahwa penghasilan dari mencukur rambut jauh dari kata mencukupi. Sejak itulah ia mulai mencari pekerjaan lain, hingga kemudian diterima menjadi asisten lokal sebuah program pemerintah Kecamatan Cibadak.

Setelah kontrak kerjanya habis, Ade bekerja pada sebuah bank perkreditan rakyat (BPR). Dua tahun ia bekerja di BPR sebelum akhirnya terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).

Bosan menjadi pegawai, ditambah kegalauan Ade karena dalam posisi menganggur, ia tetap harus membiayai kehidupan keluarga. Ia pun berusaha mencari ide usaha.

“Pekerjaan gak punya, usaha juga gak ada. Saat itu saya pernah kepikiran untuk jualan. Kalau jualan setiap saat pasti pegang uang,” ujar Ade mengenang masa lalunya. “Waktu main ke rumah saudara di Jakarta, di sana kan cuacanya panas, saya berhenti di warung kecil yang kebetulan menyediakan minuman jus. Saya pesan, dan rasanya segar banget. Lagi panas minum jus, kan mantap.”

Dari pengalamannya berkunjung ke Jakarta itulah Ade seperti mendapat inspirasi, kenapa gak coba jualan jus buah saja?

Dan 2010, adalah tahun bersejarah bagi Ade, ia memulai merintis usaha jual minuman rasa buah. Sebelum menjalankan bisnisnya itu, Ade meracik sendiri bahan-bahannya.

Dari mulai mencari-cari informasi dari buku dan internet, bagaimana cara membuat juice yang enak. Lalu mencoba beberapa kali, dan mengalami gagal pula berulang kali. Selalu ada yang dirasa kurang. Hingga kemudian ia sampai kepada sebuah kesimpulan, bahwa juice yang enak itu jual buah, bukan sari buah.

Selesai untuk urusan resep, Ade mulai serius memikirkan nama dan lokasi outlet. Hingga pada suatu waktu, ketika sedang asyik ngobrol-ngobrol santai di kediamannya, keponakan Ade berseloroh, “happy juice!”

Seketika itu, tanpa memikirkan filosofi apa pun, cuma karena alasan easy listening, Happy Juice dipilih Ade sebagai brand.

Seiring waktu berjalan, kini mulai banyak pelanggan yang datang ke outlet-nya, bahkan banyak dari mereka berasal dari luar Cibadak.

“Sekarang saya percaya dengan sebuah nasehat, setiap kerja keras tidak akan mengkhianati hasil. Alhamdulilah saya mendapat pinjaman dari saudara sebesar 18 juta rupiah. Uang itu saya gunakan untuk mengembangkan outlet jus pertama. Sempat muncul perasaan takut gagal. Bingung, gimana balikin uang saudara?,” ujar Ketua Pengurus Kecamatan (PK) Golkar Cibadak.

Namun pada akhirnya, tuntutan hidup lah yang memupus perasaan was-was Ade. Ia pun memilih fokus menjalankan usahanya. Maju terus pantang mundur, prinsipnya.

Satu hal yang tidak kalah penting bagi Ade dalam berbisnis pelepas dahaga ini, adalah jangan mau untung cepat dan besar.

Alhamdulilah, setelah enam bulan berdagang, saya sudah bisa balikin modal awal ke saudara, sekaligus mampu menutupi kebutuhan keluarga. Sejak itu kehidupan ekonomi keluarga menjadi lebih baik,” terang suami dari Memey Suhaemi (42), dan ayah dari Dea Farhan (21), Dwi Fahmi (17) dan Dara Febrina (14) ini.

Setelah usahanya mulai memperlihatkan hasil memuaskan, Ade pun membuka outlet kedua, ketiga, bahkan hingga kini ia sudah memiliki empat outlet, masing-masing berlokasi di Cibadak, Karang Tengah, Cisaat, dan Nyomplong, Kota Sukabumi.

Walaupun peran Ade bersama istri dan anak pertamanya masih dominan, namun setelah enam tahun usahanya berjalan, kini ia pun mempekerjakan empat karyawan untuk membantunya.

Berbicara mengenai keuntungan usahanya, Ade membuka bocoran keuntungan bersih setiap outlet-nya 300-500 ribu rupiah perhari. Dan ke depan ia juga berencana membuka outlet baru di Palabuhanratu.

Sementara itu, ketika disinggung persoalan kendala yang dihadapi dalam menjalankan usahanya itu, ketersediaan buah-buahan di pasaran menjadi kendalanya, karena beberapa jenis buah bergantung kepada musim.

Keren, Kang Ade!

Reporter: KHOLFI
Penyunting: RESITA
E-mail Redaksi: sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing: marketingsukabumiupdate@gmail.com




TOPIK: Ekonomi

Berikan Komentar