Sabtu, 21 Oktober 2017 - WIB
Follow Us:

Top 10 Ekonomi

Ini Cara Ribuan Karyawan PT Muara Tunggal Kabupaten Sukabumi Tolak Rentenir
Disedot Online, Penumpang Angkutan Umum di Kota Sukabumi Berkurang Hingga 80 Persen
APBD Kabupaten Sukabumi Rp3,161 T, Ini Komposisinya
DPC GSBI Sukabumi: UMK Tahun 2018 Dipastikan Naik 8,71 Persen
Di Sukabumi, si Pleci Bisa Seharga Motor Sport
Anda Perlu Ayam Kampung? Datanglah ke Cicantayan Kabupaten Sukabumi
Seluruh Tol Bocimi Ditargetkan Selesai 2019
Mengintip Masa Depan Jampang dari Secangkir Kopi
Kisah Pelipur Lara di Gang Lipur Kota Sukabumi
Dari Nyalindung Menuju Pasar Teh Dunia


"Gerakan Tanam Cabai Sejuta Polybag" Untuk Kemandirian Pangan

Sabtu, 07 Januari 2017 - 21:15:17 WIB


"Gerakan Tanam Cabai Sejuta Polybag" Untuk Kemandirian Pangan
© Antara.
Ketua Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) Taruna Bhumi HM Arum Sabil (bertopi putih) bersama Wakil Direktur Utama Bank Negara Indonesia (BNI) Suprajarto (di sebelah kanannya) usai penandatanganan MOU "Gerakan tanam cabai sejuta polybag" di Padepokn HM Arum Sabil di Jember Jawa Timur pada 6 Januari 2017.

SUKABUMIUPDATE.com - Ketua Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) Taruna Bhumi, HM Arum Sabil baru-baru ini melakukan penandantanganan Nota Kesepahaman (MOU) Kerjasama "Gerakan tanam cabai sejuta polybag" bersama Wakil Direktur Utama Bank Negara Indonesia (BNI) Suprajarto.

Dalam keterangan tertulis yang diterima Antara di Jakarta, Sabtu, Arum menjelaskan, penandatanganan MOU Kerjasama gerakan menanam cabai untuk kemandirian pangan itu dilaksanakan di Padepokan HM Arum Sabil di Jember Jawa Timur pada 6 Januari 2017.

Ia mengatakan, ide gerakan terkait terus naiknya harga cabai itu dilontarkan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dalam pertemuan dengan Ketua P4S Taruna Bhumi dan Pemprov Jatim yang diwakili Kepala Dinas Perdagangan pada 5 Januari 2017 di Kota Batu.

Dalam pertemuan itu Menteri Perdagangan mengemukakan perlunya melakukan budi daya cabai untuk setiap kepala keluarga dengan menggunakan polybag guna mengatasi persoalan terus naiknya harga cabai yang merupakan salah satu komoditas penting bagi masyarakat.

Apabila setiap kepala keluarga menanam cabai lima polybag, maka mereka akan dapat memenuhi kebutuhan cabainya sendiri tanpa harus membeli cabai di pasar.

Ide Menteri Perdagangan itu disambut baik Ketua P4S yang kemudian melakukan penandatanganan MOU Kerjasama "Gerakan tanam cabai sejuta polybag" bersama Wakil Direktur Utama BNI Suprajarto pada 6 Januari 2017.

Pada penandatangan MOU itu juga hadir CEO BNI Malang Yessy Kurnia, Vice Presiden BSL Bambang Suryaatmodjo, dan Vice Presiden Corporate Communication dan PKBL Melly Meliana. Acara diawali dengan pertemuan silaturahim dan penanaman Buah Nusantara Jenis Manggis.

Menurut Arum, jika harga cabai terus meroket, tak lama lagi Indonesia akan diserbu cabai impor yang nantinya akan berdampak kepada petani dan masyarakat. Maka, menurut dia, ide Mendag terkait penanaman cabai itu merupakan ide solutif yang harus terus didorong agar berhasil.
Ketua Bidang Pemberdayaan Petani DPP HKTI itu juga mengemukakan, tanaman cabai dalam polybag itu nantinya didistribusikan kepada masyarakat sebagai wujud nyata mengajak masyarakat untuk bisa mewujudkan "Budaya Rumah Pangan Lestari".

Dalam pelaksanaan gerakan tersebut juga akan dibangun sinergi antara masyarakat, Kementerian BUMN yang dalam hal ini diwakili oleh BNI, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian serta pihak peneliti dan akademisi yang diwakili oleh Politeknik Negeri Jember.

Ketua P4S juga mengemukakan bahwa Rini Soemarno selaku Menteri BUMN merespons positif gerakan tersebut dan menyatakan bahwa Kementerian BUMN akan mendukung gerakan itu dengan melibatkan keluarga besar BUMN.

Siapapun yang merasa menjadi bagian dari keluarga besar BUMN adalah agen "Gerakan tanam cabai sejuta polybag" dan aneka sayuran lainnya di sekitar tempat tinggal mereka yang nantinya bisa menjadi "Rumah Pangan Lestari".

Arum juga mengemukakan, melonjaknya harga cabai di Indonesia bukan merupakan sesuatu yang baru, walaupun dengan penyebab yang berbeda. Namun karena Indonesia merupakan salah satu negara dengan konsumsi cabai yang besar, maka cabai merupakan komoditas strategis.
"Apabila gerakan ini bisa dilakukan di seluruh negeri, bukan tidak mungkin pada waktunya nanti Indonesia menjadi negara mandiri pangan, karena kemandirian pangan bukan hanya tanggungjawab negara, namun juga tanggung jawab seluruh rakyat Indonesia" karanya.

Pada awal tahun 2017 ini harga cabai sudah mencapai antara Rp150 ribu sampai Rp200 ribu per kg, diduga penyebab utamanya adalah cuaca. Cabai yang tidak bisa tumbuh dengan baik pada cuaca dengan curah hujan tinggi menyebabkan komoditas itu busuk pada saat dipanen.
Akibathya, pasokan cabai berkurang karena mulai pertengahan tahun 2016 hingga awal 2017 curah hujan cukup tinggi di berbagai daerah di Indonesia, terutama di Pulau Jawa yang merupakan sentra produksi cabai nasional.

Mengingat cabai merupakan komoditas strategis, kenaikan harga cabai juga bisa memicu timbulnya inflasi dan kenaikan inflasi juga dapat berpengaruh terhadap daya beli masyarakat.
Sementara itu Wakil Direktur Utama BNI mengatakan, persoalan kenaikan harga cabai merupakan persoalan bersama dan pengaruhnya cukup dominan terhadap inflasi, sehingga berbagai pihak harus peduli terhadap masalah ini.

Menurut dia, "Gerakan tanam cabai sejuta polybag" yang diawali di Kabupaten Jember ini bisa menjadi tonggak untuk gerakan di seluruh Indonesia, dan pihak BUMN melalui BNI hadir dalam gerakan itu untuk kepentingan rakyat Indonesia.

Di sisi lain Kementerian Pertanian melalui Dirjen Hortikultura Sputnik Sujono Kamino juga membuat langkah-langkah dalam mengatasi persoalan cabai, di antaranya dengan membangun kawasan cabai seluas 6.764 Ha yang tersebar di 21 Provinsi dan cabai rawit merah 6.342 Ha di 22 Provinsi.

Sumber: ANTARA
E-mail Redaksi: sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing: marketingsukabumiupdate@gmail.com




TOPIK: NASIONAL

Berikan Komentar