Senin, 20 November 2017 - WIB
Follow Us:

Top 10 DariKenari

Lesbi dan Tren Wanita Sukabumi Aktif di Ruang Publik
Jadi Duta CFD Indonesia 2017, Siswa SD Negeri V Karang Tengah Kabupaten Sukabumi Diberangkatkan ke Jepang
Wanita Sukabumi di Hong Kong Hindari Godaan Pria Asing dan Lesbi
Aksi Penggalangan Dana Rp5.000 untuk Jembatan Pamuruyan
Hati Heti, Gadis Sukabumi Dibunuh Rasa Nyaman
Pengakuan: Mengintip Bisnis Lendir di Ibu Kota Kabupaten Sukabumi
Orang Tua Cerai, Tinggal dengan Nenek, Gadis Kota Sukabumi Ini Pilih Jadi Lesbi
Warga Sukabumi, Hati-hati Akun AkuLaku
Pengakuan: Mengintip Prostitusi di Ciracap Kabupaten Sukabumi
Ditemukan Dompet Warna Coklat di Pamuruyan Kabupaten Sukabumi


Dicari Pahlawan Lingkungan untuk Sukabumi

Jumat, 10 November 2017 - 18:13:34 WIB


Dicari Pahlawan Lingkungan untuk Sukabumi
© Angga FM
Syaefudin Simon.

SUKABUMIUPDATE.com - Air! Itulah kebutuhan utama manusia. Bahkan kebutuhan utama setiap mahluk hidup. Air adalah komponen utama spesies apa pun, flora maupun fauna. Kita tahu, semua makhluk hidup,  minimal, 90% komponen tubuhnya  terdiri dari  air. Menyadari hal itu, kini, banyak sekali perusahaan yang bisnisnya berbasis air. Ini terjadi karena kebutuhan air akan terus meningkat. Tak akan pernah surut!

Dalam kaitan di atas, kita perlu menyoroti perusahaan yang menjual air minum dalam kemasan (AMDK), yang jumlahnya ribuan di Indonesia. Wabilkhusus, kita  harus menyoroti perusahaan AMDK yang “menyedot” air dari wilayah Sukabumi secara besar-besaran. Awal September tahun lalu, misalnya, sejumlah aktivis yang tergabung dalam Komite Nasional Pembaharuan Agraria Sukabumi melakukan aksi boikot terhadap produk sebuah industri AMDK. Mereka menggelar aksi tersebut di kantor Perhutani Sukabumi. Menurutnya, boikot itu merupakan salah satu bentuk perlawanan masyarakat Sukabumi terhadap aksi perusahaan yang menyedot air bawah tanah secara besar-besaran di Desa Babakanpari, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi sehingga merusak lingkungan.

Kenapa Sukabumi perlu disorot? Pertama, karena Sukabumi adalah “tambang uang” perusahaan AMDK untuk mengeduk keuntungan bisnis air. Letaknmya yang dekat dengan ibu kota Jakarta , misalnya, sangat menguntungkan perusahaan karena biaya transportasi murah. Sehingga bisnis AMDK yang konsumen terbesarnya di Jabodetabek sangat menguntungkan.

Kedua, Sukabumi adalah “waduk air bersih” terbesar dan terdekat dari Jabodetabek. Hutan lebat dengan kontur tanah perbukitan; lalu hamparan karst raksasa yang menyimpan air sangat besar; dan morfologi tanah Sukabumi yang menyerap air; menjadikan wilayah sukabumi sebagai sumber air gigantik untuk Jawa Barat.

Dan ketiga, infrastruktur yang bagus karena kedekatannya dengan ibukota Jakarta menjadikan Sukabumi prospek bisnisnya untuk industri AMDK sangat menjanjikan. Dari gambaran itulah, maka Sukabumi pun jadi surga industri AMDK. Harap tahu saja, saat ini lebih dari dua ratus merek dagang AMDK di Indonesia, airnya berasal dari Sukabumi. Apa akibatnya? Sumber air dari wilayah Sukabumi yang dulu melimpah, nyaris habis disedot perusahaan-perusahaan AMDK tersebut.

Selain perusahaan AMDK, di Sukabumi juga terdapat puluhan perusahaan yang produksinya berbasis air, misalnya teh botol dan susu cair. Perusahaan-perusahaan ini pun berebut potensi air sebanyak 34 juta meter kubik per tahun di Cekungan Sukabumi. Perusahaan yang kebanyakan berlokasi di Kecamatan Cicurug, Cidahu, Parungkuda, dan Nagrak itu menyedot air tanah dalam rata-rata 449.141 meter kubik air  per bulan; atau 5,389 juta meter kubik air per tahun. Dalam kondisi riskan tersebut, parahnya, jumlah perusahaan AMDK terus bertambah. Tak terbayangkan, bagaimana nasib rakyat Sukabumi di masa depan. Ibarat kata, seperti ayam bertelur di atas padi, mati kelaparan.

Dengarlah kisah Uun, warga Dusun Cimelati, Kelurahan Pesawahan, Cicurug. Ia menuturkan, keluarganya terpaksa menggunakan limpahan air irigasi sawah untuk keperluan hidup sehari-hari. ”Kami tak mendapat jatah air bersih,” kata Uun.

Aneh? Diberkahi kelimpahan mata air, warga Cicurug dan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, kini kesulitan air. Puluhan perusahaan air minum menyedot air di daerah yang dikelilingi tiga gunung ini, sehingga sumur-sumur dan hamparan sawah  milik warga setempat kering. Warga Dusun Cimelati hanya mendapat air sisa perusahaan. Puluhan mata air di kawasan tersebut telah dibeli oleh perusahaan air minum dalam kemasan.

”Kami hanya mendapatkan air sisa setelah dipakai perusahaan. Debitnya tak cukup untuk seluruh warga,” kata Endang (50), anggota LSM Mitra Cai (organisasi pengelola air) Dusun Cimelati. Perusahaan air tak hanya memanfaatkan mata air dan air permukaan, tetapi juga mengebor air tanah dalam sehingga terjadi penurunan muka air tanah. Akibatnya, sumur-sumur warga mengering.

Fenti Samsudin (47), warga Desa Babakan Pari, Kecamatan Cidahu, menuturkan bahwa sumurnya sedalam 15 meter kekeringan saat kemarau. ”Sebelum sumber air dikuasai oleh perusahaan air, sumur milik warga dengan kedalaman 3 meter tetap berisi air pada musim kemarau,” kata Fenti. Kini, untuk memenuhi kebutuhan minum sehari-hari, Fenti dan ribuan warga yang tinggal di kaki kaki Gunung Salak, Gunung Halimun, dan Gunung Gede- Pangrango ini terpaksa membeli air bersih.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Kecamatan Cicurug, Cece Suparman mengemukakan, selain keringnya sumber air bersih untuk keperluan konsumsi, saluran irigasi juga kering saat kemarau. ”Sepuluh tahun terakhir, sawah kami selalu kekeringan setiap kali musim kemarau. Kami hanya bisa menanam padi sekali setahun. Sebelumnya masih bisa tanam padi dua kali setahun,” kata Cece.

Sukabumi yang  dulu sumber airnya melimpah untuk warga setempat, sekarang airnya mengering. Banyak sawah penduduk yang tak bisa ditanami padi  lagi. Airnya tak ada. Begitu pula sumur-sumur warga, tak lagi mengeluarkan air. Kisah Uun, Endang, dan Fenti menjadi bukti betapa rusaknya lingkungan Sukabumi karena keserakahan para taipan bisnis AMDK.

Kisah di atas, adalah sulitnya air di musim kemarau. Tapi di musim hujan, banjir dan longsong justru menerjang  Sukabumi. Tahun lalu, bencana banjir dan longsor menerjang belasan kecamatan di Kabupaten Sukabumi. Dampaknya, sejumlah rumah warga mengalami kerusakan dan sebagian lainnya terendam banjir. Longsor juga mengurug lahan sawah dan kolam ikan milik petani.

Sukabumi sejatinya adalah daerah wisata alam yang asri, sejuk, dan indah dengan air melimpah. PBB sudah menetapkan Kawasan Ciletuh Sukabumi sebagai salah satu geoprak dunia. Penetapan kawasan Ciletuh sebagai geopark dunia niscaya akan menjadikan Sukabumi sebagai magnet wisata internasional. Jika itu dikelola dengan baik, yakinlah, perekonomian Sukabumi akan berkembang pesat.

Sektor pariwisata kini menjadi andalan ekonomi Indonesia. Dan asyiknya, ekonomi pariwisat penyebaran keuntungannya lebih merata. Mayoritas penduduk bisa menikmati booming ekonomi pariwisata tersebut. Apalagi penduduk lokal di destinasi wisata tersebut.

Dari perspektif inilah, Sukabumi harus berbenah. Penetapan kawasan Ciletuh sebagai geoprak niscaya akan menjadikan Sukabumi sebagai destinasi wisata terkenal di dunia. Tapi jika lingkungan rusak dan sumber-sumber air mengering, berkah geopark itu  akan sirna.

Untuk itulah, saat ini Sukabumi butuh Pahlawan Lingkungan. Yaitu “Pahlawan Lingkungan” yang menjaga konservasi air di wilayah yang terkenal sebagai sumber air kota metropolitan Jakarta tersebut. Pahlawan-pahlawan lingkungan inilah yang akan membuat Sukabumi dengan geopraknya menjadi tujuan wisata lokal, regional, dan internasional di masa depan. Semoga!

E-mail Redaksi: sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing: marketingsukabumiupdate@gmail.com





Berikan Komentar