close [x]
Senin, 20 Februari 2017 - WIB Kota SukabumiHujan Sedang, 23 - 32 °C
KURS $ : Jual: 13.280 Beli: 13.110
Follow Us:

Home / Life /

Dari Benda-benda Kuno, Para Remaja Belajar Pendidikan Seks

Minggu, 13 April 2014 - 15:09:17 WIB


Dari Benda-benda Kuno, Para Remaja Belajar Pendidikan Seks
© University of Exeter
Dari Benda-benda Kuno, Para Remaja Belajar Pendidikan Seks

SUKABUMIUPDATE.COM, LONDON - Barang-barang kuno bukan sekadar saksi sejarah. Namun dari barang-barang bisa diambil aneka pelajaran. Salah satu hal yang bisa dilakukan sembari menatap dan mengamati benda-benda kuno adalah mendiskusikan topik tentang seks. Bagaimana caranya?

Seksualitas tidak selalu tentang segala hal yang berhubungan dengan erotisme. Sebab ada pendidikan tentang seksualitas yang memberikan pemahaman pada para generasi muda agar tidak sembarangan melakukan hubungan seks, lantaran ada berbagai bahaya kesehatan dan risiko lain yang mengintai.

Falkultas Seni dan Sejarah University of Exeter-lah yang memberikan pendidikan seks kepada para remaja melalui artefak kuno. Menggunakan sabuk kesucian dan jimat Romawi yang tersimpan di museum, para remaja diberikan pendidikan seks. Remaja yang mendapatkan pendidikan seks ini adalah yang berusia 14 hingga 19 tahun.

Mulanya pendidikan seks dengan menggunakan artefak kuno dikembangkan oleh sekelompok siswa dari Exeter College. Mereka menggunakan objek kuno sebagai ilustrasi untuk mengeksplorasi hal-hal seputar seksualitas. Para akademisi mendukung kegiatan ini dan menganggap kegiatan tersebut merupakan 'lingkungan yang aman' bagi para anak muda untuk membahas hal-hal seputar seksualitas yang memang telah ada sejak zaman dulu.

Dari artefak kuno yang memberikan gambaran terkait kegiatan seks, para remaja akan mendapat pemahaman bahwa ada perubahan terkait praktik seksual sepanjang sejarah. Hal-hal semacam itu bisa memberikan peluang kepada para remaja untuk menyampaikan pandangan dan perhatian mereka terkait seksualitas.

Agar remaja yang terlibat dalam diskusi tidak salah kaprah dalam memahami seksualitas, profesor sejarah dari Exeter, Kate Fisher, bergabung dalam diskusi tersebut. Pengamat seni pun turut dilibatkan. "Artefak dari budaya kuno mampu menjadi stimulus, namun sekaligus juga memberi jarak yang aman bagi para remaja untuk mendiskusikan subjek yang sensitif tanpa rasa malu," papar Prof Fisher seperti dikutip dari BBC, Minggu (13/4/2014).

'Jarak yang aman' itu diperoleh karena sebenarnya para remaja juga membicarakan sejarah. Dengan demikian pendidikan seks yang didapat tidak menjadikan diri mereka sendiri sebagai sorotan, melainkan melihat budaya secara lebih luas.

Pengamat seni yang juga ikut dalam kelompok diskusi, Dr Rebecca Langlands, meyakini bahwa suatu benda merupakan katalis yang sempurna sebagai bahan diskusi. Dengan adanya benda yang dijadikan objek pembicaraan, maka akan lebih mudah memulai diskusi tentang topik yang masih dianggap tabu oleh sebagian orang.

"Secara tradisional, pendidikan seks bisa menjadi pembicaraan yang tidak nyaman baik bagi guru maupun murid. Ditambah lagi di internet ada hal-hal terkait pornografi yang sangat mudah sekali ditemukan, pendidikan seks menjadi tantangan tersendiri," terang Langlands.

Sebenarnya, sambung dia, para remaja sering kali telah menyadari adanya berbaga fakta terkait alat reproduksinya, penyakit menular, ataupun kontrasepsi. Sayangnya, mereka tidak punya cukup kesempatan untuk mendiskusikan isu-isu sosial secara lebih luas terkait citra tubuh, cinta, maupun keintiman. Alhasil banyak remaja yang mencoba mencari tahu sendiri tanpa bimbingan orang dewasa yang lebih memahami tentang seksualitas.

Kegiatan ini juga disambut baik pengajar Etika di Exeter College, Laura Kerslake. Menurutnya suatu benda bisa membantu banyak orang untuk belajar, berbicara, dan mendengar. Pendekatan semacam ini akan mengurangi rasa malu saat membicarakan organ reproduksinya sendiri. "Ini juga cara yang baik untuk membantu guru yang kemungkinan menghadapi 'kebisuan' saat mengajar pendidikan seks," ujarnya.

Artefak-artefak itu berasal dari Wellcome Collection yang dikumpulkan dari seluruh dunia oleh Sir Henry Wellcome pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Benda-benda yang dipamerkan memang berhubungan seksualitas manusia, misalnya saja lukisan erotis di kaca yang berasal dari China dan boneka kesuburan dari Afrika. Benda-benda itu dipamerkan di Museum Memorial Royal Albert dan Galeri Seni di Exeter pada awal April ini.

Wellcome Collection merupakan museum di London yang menampilkan berbagai artefak dari dunia medis dan karya seni. Sehingga museum ini menjadi semacam tempat percampuran barang-barang yang berhubungan dengan obat-obatan, kehidupan, dan seni.(st-001/hj)

Sumber: Detik.com
Berikan Komentar


Rekomendasi untuk Anda

Heri Gunawan Tantang BUMD Bangun Jalan Tol Bogor-Cianjur-Sukabumi
Promoted Content

Heri Gunawan Tantang BUMD Bangun Jalan Tol Bogor-Cianjur-Sukabumi