Senin, 27 Maret 2017 - WIB Kota SukabumiHujan Sedang, 23 - 32 °C
KURS $ : Jual: 13.280 Beli: 13.110
Follow Us:

Cerita Muslim di Pedalaman NTT: Jalan 7 Km untuk Ngaji di Surau

Sabtu, 12 Juli 2014 - 16:49:00 WIB


Cerita Muslim di Pedalaman NTT: Jalan 7 Km untuk Ngaji di Surau
© detik
Cerita Muslim di Pedalaman NTT: Jalan 7 Km untuk Ngaji di Surau

SUKABUMIUPDATE.COM, JAKARTA - Indonesia adalah negara dengan penduduk mayoritas muslim. Tersebar hampir di seluruh wilayah Tanah Air hingga ke pelosok. Namun demikian, tidak semua umat muslim di negeri ini dapat menikmati kenyamanan dalam menjalankan keyakinan mereka. Di pelosok-pelosok, masih banyak umat Islam yang harus berjuang keras untuk mendapatkan pengetahuan tentang agamanya.

Dua dai muda dari Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir, Jakarta, Ramdhan Joni dan Fadli bercerita soal tantangan mereka saat berdakwah di sebuah desa terpencil, yakni di Desa Kaeneno, Kecamatan Fautmolo, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT, hingga Idul Fitri 1435 H.

Semangat yang tinggi untuk mengajak manusia kepada Islam mendorong keduanya memutuskan bergabung dalam program Kafilah Dakwah 2014 Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII).

"Maaf kami belum berani berceramah di masjid, karena jamaah belum bisa berbahasa Indonesia dan kami pun belum bisa berbahasa daerah setempat," kata Fadli dalam rilis yang diterima detikramadan, Sabtu (12/7/2014).

"Warga Kaeneno masih merupakan penduduk asli dan belum bisa berbahasa Indonesia. Orang kabupaten pun banyak yang mengaku tidak tahu dengan keberadaan desa ini," tambah Fadli.

Ia menuturkan, jumlah muslim di Kaeneno hanya 28 keluarga dan merupakan minoritas (15%). Mereka tersebar di kediaman dengan jarak antara 2 hingga 7 kilometer dari satu-satunya surau desa.

"Jamaah harus berjalan kaki sejauh 2 sampai 7 kilometer dari rumahnya menuju masjid untuk mengikuti pengajian," kata Fadli.

Kedua dai muda yang dikirim Dewan Dakwah itu sangat prihatin dengan kondisi jamaah. "Mereka miskin iman dan harta sekaligus," sambung Joni.

Listrik baru masuk ke desa ini sejak tiga bulan lalu. Sedangkan air harus mengambil ke kali di lembah bukit, atau membeli seharga Rp 2.500 per jerigen sedang.

Joni menambahkan, banyak warga muslim yang belum bisa berwudhu dan melafalkan Surat Al Fatihah. "Bahkan karena tidak dibina, ternyata banyak muallaf yang telah murtad," katanya sedih.

Karena kendala bahasa komunikasi, sejak ditempatkan di desa ini awal Ramadan lalu, Joni dan Fadli fokus membina anak-anak dan pelajar. Mereka sudah bisa berbahasa Indonesia walaupun belum lancar.

Anak-anak itu pula yang menjadi penerjemah tatkala kedua dai bersilaturahim dan ngobrol dengan warga dewasa. Namun sejauh ini, Joni dan Fadli mengaku belum pede untuk berceramah di hadapan mereka. "Daripada nanti menimbulkan salah paham kan bisa bahaya," kata Joni sambil tertawa.

Selain memberikan takjil dan paket sembako dari LAZIS Dewan Dakwah, Joni dan Fadli juga mengajak masyarakat untuk membantu pengadaan sarana pertanian sederhana dan pipanisasi air kali ke tandon umum.

"Setelah Program Kafilah Dakwah berakhir, dakwah di Desa Kaeneno harus terus berlanjut dengan menempatkan dai di sini," pungkasnya.

Hal ini sesuai harapan jamaah yang diutarakan melalui seorang warga bernama Sarif Nobisa, "Haimtoet atukus smanaf henokai (Kami minta agar kami terus didampingi dai)."(st-001/hj)

Sumber: Detik.com
Berikan Komentar


Rekomendasi untuk Anda

5,2 Juta Pria dan Wanita Arab Saudi Jomblo, Ini Alasannya
Promoted Content

5,2 Juta Pria dan Wanita Arab Saudi Jomblo, Ini Alasannya