Minggu, 24 September 2017 - WIB
Follow Us:

Top 10 Ekonomi

Disedot Online, Penumpang Angkutan Umum di Kota Sukabumi Berkurang Hingga 80 Persen
APBD Kabupaten Sukabumi Rp3,161 T, Ini Komposisinya
Ini Cara Ribuan Karyawan PT Muara Tunggal Kabupaten Sukabumi Tolak Rentenir
Di Sukabumi, si Pleci Bisa Seharga Motor Sport
Seluruh Tol Bocimi Ditargetkan Selesai 2019
Anda Perlu Ayam Kampung? Datanglah ke Cicantayan Kabupaten Sukabumi
Mengintip Masa Depan Jampang dari Secangkir Kopi
Kisah Pelipur Lara di Gang Lipur Kota Sukabumi
Dari Nyalindung Menuju Pasar Teh Dunia
Happy Juice dari Cibadak, Ketika Kerja Keras Tidak Pernah Mengkhianati Hasil


Cadangan Devisa Triwulan I 2017 Tembus 121,8 Miliar Dolar AS

Jumat, 19 Mei 2017 - 10:11:16 WIB


Cadangan Devisa Triwulan I 2017 Tembus 121,8 Miliar Dolar AS
© Bagea Awi
Ilustrasi SU.

SUKABUMIUPDATE.com - Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan cadangan devisa di akhir triwulan I 2017 tercatat US$ 121,8 miliar. Menurut Agus, angka ini meningkat di akhir April menjadi US$ 123,2 miliar.

"Angka ini sama dengan kecukupan membiayai 8,9 bulan impor," kata Agus Martowardojo saat ditemui di Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (18/5). 

Agus Marto menuturkan posisi cadangan devisa saat ini juga sama dengan 8,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. "Angka ini berada di atas standar kecukupan internasional, yaitu sekitar 3 bulan impor.”

Menurut Agus Marto, neraca pembayaran Indonesia di triwulan I 2017 juga tercatat surplus. Hal ini ditopang oleh surplus transaksi modal dan finansial. 
Surplus NPI berada di angka US$ 4,5 miliar dan relatif sama dengan triwulan sebelumnya, namun lebih baik dengan triwulan sama di tahun sebelumnya secara year on year. Kemudian aliran modal asing yang masuk ke Indonesia juga cukup besar, sehingga surplus neraca modal dan finansial meningkat menjadi US$ 7,9 miliar.

Peningkatan ini sejalan dengan membaiknya pertumbuhan ekonomi dan persepsi positif investor terhadap perekonomian Indonesia. Agus Marto mengungkapkan defisit transaksi berjalan tercatat sebesar US$ 2,4 miliar atau 1 persen dari PDB, didorong oleh defisit neraca perdagangan migas dan pendapatan primer yang lebih besar dari kenaikan surplus neraca perdagangan non migas.

Adapun peningkatan defisit neraca perdagangan migas dipengaruhi oleh naiknya harga minyak dunia di tengah lifting minyak yang menurun. Sementara kenaikan defisit neraca pendapatan primer seiring dengan jadwal pembayaran bunga surat utang pemerintah yang lebih tinggi.

 

Sumber: Tempo

E-mail Redaksi: sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing: marketingsukabumiupdate@gmail.com




TOPIK: Ekonomi

Berikan Komentar