Rabu, 22 November 2017 - WIB
Follow Us:

Top 10 Keluarga

Bawang Putih Efektif Sembuhkan Impotensi, Ini Pengakuan Warga Sukabumi
Wanita Sukabumi Wajib Tahu 10 Fakta Selingkuh Ini
Yava Cafe Cicurug, Menikmati Kopi dalam Ruang Multi Konsep
Salah Kaprah tentang Berendam di Air Belerang
Nama yang Paling Banyak Dipilih untuk Bayi Lelaki Sepanjang 2017
Korban Kosmetik Ilegal Serukan Kewaspadaan Pada Konsumen
Berhijab Bukan Penghalang untuk Tampil Modis dalam Balutan Busana Kerja
Hijabers Mom Community Sukabumi, Together We Share and Care
Wali Kota: Masyarakat Kota Sukabumi Hobi Belanja
Tak Cuma Seksi, Tidur Telanjang Ternyata Banyak Manfaatnya


Bayi Boleh Makan Setelah 6 Bulan, Simak Penjelasan Dokter

Senin, 21 Agustus 2017 - 11:35:04 WIB


Bayi Boleh Makan Setelah 6 Bulan, Simak Penjelasan Dokter
© whattoexpect.com
Ilustrasi Bayi Makan.

SUKABUMIUPDATE.com - Air susu ibu (ASI) sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi. Dokter Spesialis Gizi Klinik, Elvina Karyadi pun menekankan pentingnya ASI ekslusif selama 6 bulan. 

"Setelah itu ditambah MPASI (makanan penunjang ASI) dengan ASI yang diteruskan sampai usia 2 tahun atau 24 bulan," kata Elvina beberapa waktu lalu.

Ketua Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI) DKI Jakarta ini menjelaskan setelah usia 6 bulan, perkenalkan anak dengan makanan lembut sampai usia 12 bulan. "Setelah usia satu tahun, mulai makan di meja makan bersama keluarga dengan family food, walapun porsinya kecil," ujarnya.

Pada usia 1-3 tahun porsi family food atau makanan keluarga semakin besar dan porsi susu semakin berkurang. "Susu hanya 20- 35 lersen, 65-80 persennya makanan dengan gizi cukup," kata dia.

Menurut Elvina, kecukupan gizi dan proporsi pemberian makan anak disesuaikan dengan kelompok usianya. Pada usia 0-6 bulan ASI eksklusif. Usia lebih dari 6 bulan yakni 80 persen ASI dan 20 persen makanan penambah ASI atau MP-ASI. 

Untuk bayi berusia 8-10 bulan,  berikan 50 persen ASI dan 50 persen MP-ASI. Sedangkan usia 12 bulan, 20-35 persen ASI dan 65-80 persen makanan.

Adapun, syarat makanan anak yakni memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi. "Disesuaikan dengan pola gizi seimbang, kebiasaan makan, dan selera anak," ujar Elvina.

Bentuk dan porsinya juga disesuaikan dengan daya terima, toleransi dan keadaan tubuh anak. "Tiap anak berbeda, ada yang makan sedikit-sedikit tapi sering. Jangan dipaksakan makan banyak seperti jadwal makan pada umumnya," kata Elvina.

Sumber: Tempo

E-mail Redaksi: sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing: marketingsukabumiupdate@gmail.com





Berikan Komentar