Jumat, 28 Juli 2017 - WIB
Follow Us:

Top 10 Sainstek

Robot Seks Harmony Harganya Setara Mobil LCGC di Indonesia
Hujan Es di Bandung, Ini Perbedaannya dengan Salju
Remaja 19 Tahun Ini Raup Ratusan Juta Sebagai Gamer Profesional
Headphone Beat Meledak di Wajah, Apple Tolak Beri Kompensasi
Kembangkan Pesawat Jet, Honda Habiskan 1 Miliar Dolar AS
Mahasiswa Unibraw Kembangkan Alat Pendeteksi Kualitas Udara
Dua Alasan Nokia 3310 Klasik Tidak Berfungsi di AS
Samsung Galaxy S8 Dikabarkan Dilengkapi Fitur Pengenal Wajah
Mahasiswa Surabaya Bikin Alat Pengisi Biogas ke Tabung Melon
Hadapi Ransomware WannaCry, Jangan Hanya Andalkan Antivirus


Bakteri Bermutasi, Kebal Antibiotik dan Disinfektan

Sabtu, 15 Juli 2017 - 18:23:49 WIB


Bakteri Bermutasi, Kebal Antibiotik dan Disinfektan
© nurseassistantschoolyaya.com
Ilustrasi Bakteri.

SUKABUMIUPDATE.com - Bakteri bermutasi jadi lebih kebal dan kuat. Selain kebal terhadap antibiotik kuinolon, yang berfungsi sebagai penghambat pembentukan DNA bakteri, kini juga tahan terhadap disinfektan triclosan. Bahan kimia antibakteri ini biasa digunakan sebagai bahan dasar larutan pembersih lantai. 

Menurut studi yang terbit dalam Journal of Antimicrobial Chemotherapy edisi 3 Juli 2017, tim ilmuwan mengungkap antibiotik kuinolon sebetulnya membawa dampak paradoks. Memang, antibiotik ini bisa memperlambat perkembangan DNA bakteri, tapi pada waktu yang sama juga mengaktifkan mekanisme pertahanan diri dari bakteri.

"Kami menemukan ini bisa terjadi di bakteri Escherichia coli," tulis tim dari Institut Mikrobiologi Universitas Birmingham, Inggris, Quadram Institute, dan John Innes Centre, dalam jurnal. Menurut tim dalam jurnal, kita sekarang kekurangan obat-obatan yang efektif untuk memerangi bakteri. 

Dalam sejarahnya, Mark Webber, anggota tim dari The Quadram Institute, menjelaskan, antibiotik diciptakan untuk memanipulasi bakteri. Namun ternyata, menurut dia, hal tersebut membuat mekanisme pertahanan tubuh mereka meningkat.

"Kekhawatirannya, ini sangat bisa terjadi dalam kasus triclosan," kata Webber. 

Anggota tim dari Universitas Birmingham, Laura Piddock, mengatakan bahwa hubungan antara bakteri dan triclosan sangat penting. Sebab, dalam 20 tahun terakhir, bahan ini bisa ditemukan di manapun, termasuk tubuh manusia.

"Asalnya bisa dari sabun untuk mandi dan cuci muka," ujar Piddock. Berbagai limbah produk yang mengandung triclosan, menurut Piddock, terakumulasi di lingkungan manusia. Sehingga, kata dia, tak menutup kemungkinan bakteri bisa belajar kebal dari persinggungan tersebut. Di beberapa negara Eropa dan Amerika, penggunaan triclosan dalam sabun wajah dan tubuh sudah dilarang.

Sumber: Tempo

E-mail Redaksi: sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing: marketingsukabumiupdate@gmail.com




TOPIK: SAINSTEK

Berikan Komentar