Minggu, 24 September 2017 - WIB
Follow Us:

Top 10 Nasional

Kecelakaan Maut Jalan Raya Cimande Menyisakan Luka Mendalam Bagi Keluarga Pengendara Mobil Brio
Pray For Garut, Inilah 17 Korban Meninggal yang Terindentifikasi
Hino Pengangkut Pasir Hantam Lima Mobil, 3 orang Meninggal 3 orang Luka
Bupati: Germas HS Mengacu kepada 12 Indikator
Tol Sukabumi-Ciranjang-Padalarang Ditawarkan pada Investor Asean
Diperkosa Sejak Usia 16 Tahun, Perempuan Ini Laporkan Gatot Brajamusti ke Polisi
Kronologi Kasus Pembunuhan Oleh Dimas Kanjeng Taat Pribadi
Diduga Dibawa Kabur Pria Kenalan di Medsos, Nur Janah (mencaricinta Illahi) Warga Sukaraja Dua Bulan Hilang
Belum Terima THR, Ratusan Pegawai Garmen Mogok Bekerja
Apakah Warga Sukabumi Masih Ingat, Ada Apa dengan 4 Desember?


Apakah Warga Sukabumi Masih Ingat, Ada Apa dengan 4 Desember?

Minggu, 04 Desember 2016 - 05:17:48 WIB


Apakah Warga Sukabumi Masih Ingat, Ada Apa dengan 4 Desember?
© youtube.com
Film Dokumenter: Meisjesschool Bandoeng.

SUKABUMIUPDATE.COM – Jika anak-anak tingkat sekolah dasar (SD) sekarang ditanya tentang siapakah Kartini? Mereka rata-rata bisa menjawab dan langsung ingat lagu Ibu Kita Kartini ciptaan W.R. Supratman. Tentu saja dengan penjelasan sedikit panjang mengenai sosoknya yang dianggap telah berkontribusi besar dalam memperjuangkan kesetaraan gender di Indonesia, hingga dikenal sebagai pejuang emansipasi wanita.

Namun, cobalah tanyakan pada anak-anak SD di Sukabumi, siapakah Dewi Sartika? Mungkin mereka akan mengernyitkan dahi untuk menemukan jawabannya.

Nggak, tahunya ibu Kartini,” jawab Aurel, siswi kelas dua salah satu sekolah dasar swasta di Kota Sukabumi kepada sukabumiupdate.com, Sabtu (3/12). “Dewi Sartika, nama pahlawan, aku tahunya itu,” sambung Nurul Hikmah Azzahra (8) rekan Aurel.

Lebih parah lagi, menurut pengakuan Avicena Sobari (12), siswa kelas enam, SD Negeri Bojonggenteng 1, Kecamatan Bojonggenteng, Kabupaten Sukabumi, dirinya sama sekali tidak tahu siapa Raden Dewi Sartika, “Beneran, om, aku nggak tahu, di sekolah juga nggak pernah dikasih tahu, tahunya R.A Kartini,” terangnya.

Hal tersebut diamini Holidah Sugiarti (39), guru kelas lima di SD Negeri Bantar Badak, Kecamatan Cibadak. “Ada beberapa mata pelajaran yang berhubungan dengan sejarah para pahlawan, tapi hanya dijelaskan sekilas saja dalam buku, kecuali mata pelajaran sejarah di tingkat sekolah lanjutan. Perlu inisiatif guru untuk mengenalkan nama nama pahlawan yang tidak setenar Pangeran Diponegoro atau founding father kita, Bung Karno. Misalnya Dewi Sartika ini, atau Christina Martha Tiahahu,” ungkap Sugiarti, Sabtu.

Dewi Sartika, sesungguhnya memiliki kontribusi besar di bidang pendidikan pada perempuan Indonesia. Pada masa penjajahan Belanda, wanita masih belum mendapatkan hak sama dalam bidang pendidikan.

Dewi sartika mengajarkan perempuan untuk memiliki keterampilan dan memberdayakan dirinya. Akhirnya, Dewi berjuang keras mewujudkan pendidikan layak bagi wanita dengan mendirikan Sakola Istri di Bandung pada 16 Januari 1904.

Sakola Istri dalam bahasa Sunda berarti Sekolah Perempuan, kemudian berubah nama menjadi Sakola Kautamaan Istri. Di kemudian hari, sekolah ini kembali diubah namanya menjadi Sakola Raden Dewi Sartika pada 1929, yang kemudian menyebar ke luar Pulau Jawa.

“Perkembangan Sakola Istri pada masa itu cukup pesat, selain teori dan keterampilan para wanita, diajarkan pula praktik berbahasa Melayu, saat itu belum ada bahasa Indonesia,” ungkap Phinera Wijaya Anggota Fraksi Partai Golongan Karya (Golkar) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Barat.

”Awalnya berkembang di Kabupaten Pasundan, lalu menyebar ke Tasikmalaya, Garut, dan Purwakarta,” imbuh politikus yang akrab disapa Icak tersebut.

Dewi Sartika berusaha keras mendidik anak-anak gadis masa itu, agar kelak menjadi ibu rumah tangga yang baik dan mandiri. Berdiri sendiri, terampil, dan luwes. Untuk itu, pelajaran yang berhubungan dengan urusan rumah tangga pun diberikan kepada para wanita, seperti memasak, merenda, teknik menjahit, dan baca dan tulis.

Sama halnya seperti para pejuang dan pahlawan lainnya, beliau memiliki cita-cita besar untuk kaum wanita di Indonesia agar kehidupannya lebih baik dan maju.

“Raden Dewi Sartika sendiri sebenarnya tidak asing lagi, khususnya di Bandung. Sayangnya, tidak banyak yang tahu, beliau yang lahir di Cicalengka ini, merupakan sosok yang patut dibanggakan, dijadikan inspirasi, dan panutan bagi perempuan masa kini, ” terang Kang Icak.

Hari ini 4 Desember, ia sangat menyayangkan tidak adanya peringatan hari kelahiran Raden Dewi Sartika di Jawa Barat. Menurutnya, mengingat jasa pahlawan untuk mengobarkan kembali semangat juang generasi muda masa kini, sangat penting, agar memiliki spirit dalam membangun bangsa Indonesia.

Reporter: DANANG HAMID
Redaktur: Anisa Siti Rizkia
E-mail Redaksi: sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing: marketingsukabumiupdate@gmail.com




TOPIK: NASIONAL

Berikan Komentar