close [x]
Sabtu, 25 Februari 2017 - WIB Kota SukabumiHujan Sedang, 23 - 32 °C
KURS $ : Jual: 13.280 Beli: 13.110
Follow Us:

Anak Kampung di Sukabumi Lahir 1960-1980, Kangen 10 Hal Ini

Senin, 21 November 2016 - 14:01:31 WIB


Anak Kampung di Sukabumi Lahir 1960-1980, Kangen 10 Hal Ini
© Bagea Awi dan Heni
Ngebak atau mandi di kolam ikan atau sungai berair keruh, adalah aktivitas rutin sepulang sekolah atau saat libur.

SUKABUMIUPDATE.COM - Zaman sudah berubah, waktu pun sudah berganti. Ketika Anda sedang tanggung bulan, kemudian anak-anak ingin pergi berenang atau bermain game di mal, selalu ingin mengatakan: "Bapak atau ayah mah dulu, gak ada yang namanya main harus pakai uang." Tapi itu dulu. Sekarang tentu lain cerita.

sukabumiupdate.com menurunkan tulisan sepuluh hal yang ngangenin bagi anak-anak yang lahir pada 1980 ke bawah, hanya untuk mengingatkan kembali bahwa anak-anak saat ini, hidup pada zamannya. Dan biarkan ke-10 hal di bawah ini menjadi kenangan Anda selamanya. Silakan membacanya sambil mesem-mesem.

1. Maen Bal Tanpa Waktu

Dari dulu, maen bal olah raga terpopuler di masyarakat. Jika yang Anda tahu permainan ini memiliki durasi 2x45 menit dan waktu tambahan, maka anak-anak generasi ini melakukannya sesuka hati. Karena sepak bola dilakukan pada jeda waktu antara pulang sekolah madrasah diniyah dan waktu sholat Maghrib, maka jika belum terdengar beduk, dipastikan permainan masih tetap berlangsung. Terlebih, jika tim "preman" anak-anak dalam posisi kalah, jangan harap bisa berhenti sebelum beduk Maghrib. Paling banter, berpura-pura sakit perut (istilahnya, kalikiben), atau membiarkan gawang kita kebobolan, hingga posisi skor akhir draw.

2. Kaulinan Barudak

Ada banyak jenis kaulinan barudak (permainan anak-anak). Sondah dan lompat tinggi dengan bantuan sejenis tambang dari karet gelang yang dikepang, biasa dimainkan anak perempuan, serta gatrik dan dor-doran atau bebeletokan dari anak bambu dengan amunisi buah cente atau kertas yang dibasahi kemudian digulung kecil-kecil biasa dimainkan anak lelaki. Sebenarnya semua jenis kaulinan tidak stereotif gender, karena juga biasa dilakukan bersama oleh anak perempuan dan lelaki, seperti halnya boy-boyan dan lainnya.

3. Ngaji di Surau

Saat itu, belum ada yang namanya guru mengaji privat datang ke rumah. Pergi mengaji di mushola harus berangkat bersama sahabat, lengkap dengan obor dari batang bambu atau lampu senter. Anak lelaki biasanya akan mengikat dua ujung sarung di leher, menirukan sayap tokoh superhero Batman. Jika sedang serius, maka melafalkan hafalan biasa dilakukan bersama sambil berjalan kaki. Namun jika tidak ada hafalan, maka yang ada adalah jahil anak lelaki menakuti anak perempuan. Paling lazim, dengan menyalakan lampu senter dari bawah dagu menyorot ke atas, sekilas dalam keadaan gelap, seolah menyerupai penampakan hantu.

4. Siduru Pagi di Hawu

Hawu, atau tungku terbuat dari tanah memang masih banyak digunakan sampai saat ini. Tapi bagi anak generasi ini, siduru atau jongkok di depan hawu pagi sebelum berangkat sekolah, adalah hal ngangenin. Suhu pagi hari ketika itu tidak sehangat sekarang, walaupun telah mengenakan seragam sekolah lengkap, siduru adalah ritual rutin sebelum berangkat sekolah.

5. Galendo

Galendo, atau ampas minyak kelapa yang dibuat secara tradisional, aromanya khas, rasanya lezat nian, gurih, dan asin bercampur manis. Galendo biasa digunakan sebagai rekan makan nasi, pengganti lauk pauk. Namun, bisa juga digado.

6. Minyak Kelapa

Saat ini, untuk keperluan goreng-menggoreng, tersedia ragam merek minyak kemasan berharga puluhan ribu. Begitu pun dengan body lotion, tersedia berbagai merek lokal dan impor. Pada era ini, untuk membuat kulit nampak halus dan bersih, cukup menggunakan minyak kelapa asli. Minyak kelapa ini juga biasa digunakan anak-anak sekolah sebagai minyak rambut, agar tetap klimis dan nampak fresh, karena rambut nampak selalu basah.

7. Tutug Uyah

Jika anak sekarang sebelum berangkat sekolah biasa sarapan bubur ayam, nasi goreng, atau bahkan roti tawar dengan taburan cokelat seres atau susu cair dan keju, anak era 1980 ke bawah familiar dengan nasi tutug uyah. Cara membuatnya, nasi yang sudah ditaburi garam kemudian ditumbuk dengan alu berukuran kecil. Lebih yahud rasanya, ketika bubuy pisang muda ditambahkan, kemudian ditumbuk bersamaan. Ketika itu, telor masih tergolong barang mewah.

8. Ngebak

Anak zaman sekarang familiar dengan nama berbagai macam tempat kolam renang. Tapi bagi anak zaman dulu, ngebak atau mandi di kolam ikan atau sungai berair keruh, adalah aktivitas rutin sepulang sekolah atau saat libur. Mandi di leuwi bareng sahabat sangat mengasyikkan, dan biasanya ngebak berakhir ketika bola mata sudah terasa perih dan nampak memerah. Ketika pulang ke rumah, sebagian dari mereka biasanya disambut dengan omelan sang ibu, lengkap dengan gagang sapu yang hinggap di betis.

9. Nembak Cewek dengan Karet Gelang

Mahugi, atau memberikan barang berharga atau disukai lawan jenis yang ditaksir, adalah hal lazim. Pada generasi ini, paling lazim diberikan untuk hadiah, adalah karet gelang. Ketika itu, karet gelang dalam jumlah banyak dikepang hingga membentuk tambang untuk digunakan permainan lompat tinggi. Lucunya, jika masih tahap pedekate, biasanya anak lelaki akan menunggu si gadis incaran melewati jalan tertentu. Ketika si gadis muncul, maka si lelaki berjalan mendahuluinya, ketika yakin tidak ada orang lain di antaranya, si anak lelaki akan menjatuh karet tersebut di jalanan. Jika si gadis memungutnya, artinya cinta direspons si gadis. Jika cara ini gagal, target cinta harus dialihkan.

10. Ngekes dan Nyeker

Ngekes adalah istilah lain untuk mengambil umbi-umbian tanpa mencabut tumbuhan dan pohonnya. Aksi dilakukan dengan cara menggali tanah di mana pohon umbi-umbian ditanam, lalu mengambil salah satu umbi yang paling besar, sehingga pohonnya tetap utuh. Aksi ini dilakukan setiap pulang sekolah, untuk menyiasati uang jajan yang sudah habis. Berangkat sekolah pun ketika itu, hampir tidak pernah mengenakan sepatu, kecuali saat hari kenaikan kelas.

Reporter: Bagea Awi dan Heni/Kontributor
Redaktur: ANISA SITI RIZKIA
Berikan Komentar


Rekomendasi untuk Anda

Rapatkan Barisan untuk Masyarakat, Bayonet 1817 Jadi Ormas
Promoted Content

Rapatkan Barisan untuk Masyarakat, Bayonet 1817 Jadi Ormas