Senin, 21 Agustus 2017 - WIB
Follow Us:

Top 10 Keluarga

Wanita Sukabumi Wajib Tahu 10 Fakta Selingkuh Ini
Yava Cafe Cicurug, Menikmati Kopi dalam Ruang Multi Konsep
Salah Kaprah tentang Berendam di Air Belerang
Kondom Perempuan, Kisah dan Cara Menggunakannya
Nama yang Paling Banyak Dipilih untuk Bayi Lelaki Sepanjang 2017
Tiga Fashion Item Wajib Dimiliki Wanita Karir
Korban Kosmetik Ilegal Serukan Kewaspadaan Pada Konsumen
Berhijab Bukan Penghalang untuk Tampil Modis dalam Balutan Busana Kerja
Wali Kota: Masyarakat Kota Sukabumi Hobi Belanja
Hijabers Mom Community Sukabumi, Together We Share and Care


Alasan Disarankan Bilas Sebelum Berenang

Minggu, 16 April 2017 - 18:30:43 WIB


Alasan Disarankan Bilas Sebelum Berenang
© LeisureCentre.com
Ilustrasi sekumpulan anak sedang berenang di kolam renang.

SUKABUMIUPDATE.com - Mereka yang berenang mungkin pernah merasa tenggorokan kering dan perih serta sulit bernapas. Tak sedikit yang panik karena mengira itu gejala sesak napas atau serangan jantung. Padahal penyebabnya adalah pengaruh klorin di air kolam renang.

“Lingkungan yang penuh klorin membuat orang merasa seperti tercekik atau sulit bernapas,” kata Dr. James Hull, dokter spesialis pernapasan di RS Royal Brompton di London, Inggris. Tapi dalam banyak kasus, bukan klorin yang memicu masalah tersebut melainkan reaksi kimiawi yang terbentuk ketika klorin ‘bersinggungan’ dengan zat-zat lain. 

Kebanyakan zat lain tersebut dibawa oleh para perenang yang tidak membilas diri dulu sebelum masuk ke kolam. “Zat itulah yang kemudian meracuni air dan membahayakan perenang,” kata Hull seperti dilansir Dailymail. Sebab, dia menjelaskan, klorin yang berinteraksi dengan keringat, air seni, serta produk kecantikan membentuk kloramin yang mengambang di permukaan air dalam bentuk gas dan bisa terhirup.

Kloramin lebih berat dari udara. Zat ini mengapung di atas permukaan air sehingga sangat mudah terhirup. Banyak yang percaya kloramin bisa menyebabkan masalah pada paru-paru.

Sebuah penelitian di Swedia pada 2013 mempelajari kesehatan 146 pekerja di 46 kolam renang dalam ruangan dan 17 persen diantaranya mengalami gangguan pernapasan di tempat bekerja tapi tidak terjadi di rumah.

Sebuah laporan yang dimuat di jurnal Expert Review of Respiratory Medicine pada 2012 menunjukkan sensitivitas yang tinggi terhadap aliran udara di kalangan perenang. Riset para ilmuwan di Kanada tentang paru-paru para atlet renang mendapati setelah latihan, atlet-atlet itu menunjukkan gejala yang mirip asma.

Hull juga menyarankan mereka yang merasa kesulitan bernapas saat berenang segera memeriksakan diri ke dokter, terutama para lansia. Musababnya, bukan tak mungkin kesulitan bernapas itu memang benar berkaitan dengan masalah jantung, bukan sekedar akibat kloramin.

Memilih kolam renang terbuka lebih baik dibanding di dalam ruangan atau tertutup karena sirkulasi udara yang lebih sempurna. Hull mengimbau siapapun yang akan menceburkan diri ke kolam renang sebaiknya membilas diri dulu agar kotoran atau kosmetika di tubuh tak terbawa ke air dan membahayakan pemakai kolam yang lain.

 

Sumber: Tempo

E-mail Redaksi: sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing: marketingsukabumiupdate@gmail.com




TOPIK:Tips LIFE

Berikan Komentar