Minggu, 24 September 2017 - WIB
Follow Us:

Top 10 Sainstek

Kiamat 23 September Diklaim Numerologis Berdasarkan Alkitab
Robot Seks Harmony Harganya Setara Mobil LCGC di Indonesia
Kronologi Temuan Harimau Jawa di Ujung Kulon
Hujan Es di Bandung, Ini Perbedaannya dengan Salju
Remaja 19 Tahun Ini Raup Ratusan Juta Sebagai Gamer Profesional
Kembangkan Pesawat Jet, Honda Habiskan 1 Miliar Dolar AS
Mahasiswa Unibraw Kembangkan Alat Pendeteksi Kualitas Udara
Mahasiswa Surabaya Bikin Alat Pengisi Biogas ke Tabung Melon
Headphone Beat Meledak di Wajah, Apple Tolak Beri Kompensasi
Hadapi Ransomware WannaCry, Jangan Hanya Andalkan Antivirus


25 Varian Baru WannaCry Siap mengancam

Selasa, 16 Mei 2017 - 20:06:32 WIB


25 Varian Baru WannaCry Siap mengancam
© Quartz
Program malware ransomware wannaCRY yang menyerang komputer secera masal di 99 negara.

SUKABUMIUPDATE.com - Serangan ransomware WannaCry kepada jaringan internet global dinilai memberikan dampak peningkatan security awareness pada setiap instansi dan individu. Kepedulian tersebut akan dapat meminimalkan jumlah korban cybercrime tersebut. 

“Salah satu wujud dari security awareness adalah tindakan internet blackout yang dilakukan pada 15 Mei 2017 lalu,” kata Kepala Pusat Studi Digital Forensik Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta Yudi Prayudi dalam siaran pers di kampusnya, Selasa (16/5).

Sejak serangan WannaCry yang terdeteksi pada (12/5), lalu, ransomware itu telah menginfeksi lebih dari 230 ribu komputer di 100 negara lebih dengan 134 pembayaran per (14/5),lalu.

Yudi pun mengingatkan, meskipun penyebaran Ransomware WannaCry sempat dihentikan lewat penemuan program kill switch oleh ahli komputer Inggris berusia 22 tahun, tetapi hanya bersifat sementara.

Bahkan kini ada 25 varian baru WannaCry yang mengancam. Varian itu diduga muncul setelah ada penemuan sampel malware yang diperlukan untuk reserve engineering.

“Satu sisi dari sampel bisa diketahui karakteristik infeksi dan penyebarannya. Sisi lain dipakai untuk memperbaiki celah kelemahan WannaCry,” kata Yudi.

Varian baru WannaCry tidak lagi menggunakan domain kill switch yang sudah terdeteksi. Melainkan varian itu bekerja dengan logika terbalik dari program kill switch.

Dalam internet blackout, sebagian besar instansi dan individu berusaha mematikan koneksi internetnya untuk mengurangi potensi terkena serangan WannaCry. Akibatnya layanan publik yang mengandalkan jaringan computer ikut terganggu.

Dampak lainnya adalah peringatan kepada pengelola sistem dan penggiat keamanan komputer, bahwa Ransomware WannaCry menjadi tantangan utama cybercrime dan cyberattack mendatang. Selain itu memunculkan kepedulian terhadap security update dari system.

Akibatnya, muncul dorongan dari pengguna aplikasi untuk menggunakan versi berbayar agar mendapat dukungan security update dari vendornya. “Kalau tidak, penggunaan opensource bisa jadi alternatif dan solusi utamanya,” kata Yudi.

Yudi menjelaskan, apabila dapat melakukan koneksi langsung ke domain tertentu, maka WannaCry akan berhenti bekerja sementara. Tetapi apabila tidak melakukan koneksi langsung, WannaCry akan tetap bekerja.

 

Sumber: Tempo

E-mail Redaksi: sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing: marketingsukabumiupdate@gmail.com




TOPIK: SAINSTEK

Berikan Komentar