Jumat, 23 Juni 2017 - WIB
Follow Us:

Top 10 Sukabumi

22 Tahun AQUA Ambil Air di Sukabumi Tanpa Izin
Tewas di Kolam Renang Cimalati, Pelajar SMA N 1 Parungkuda Kabupaten Sukabumi
Lapar Tak Ada Nasi, Bayi di Nyalindung Kabupaten Sukabumi Dilempar Ayah Kandung ke Tungku Api
Bertambah, Korban Jambret Payudara di Bojonggenteng Kabupaten Sukabumi
DPRD Kabupaten Sukabumi Rekomendasikan Penutupan Sementara Pabrik Aqua
Siapa Preman di Balik Kasus Pungli Naker di Pabrik GSI Kabupaten Sukabumi?
Kronologis Rusuh BBRP dan PP di Pamuruyan Kabupaten Sukabumi
Marak Aksi Jambret Payudara, Ini Kesaksian Dua Wanita Bojonggenteng Kabupaten Sukabumi
BBRP dan PP Perang di Pamuruyan Cibadak Kabupaten Sukabumi
Berdarah-darah, Buruh PT Monami Gunungguruh Kabupaten Sukabumi Meregang Nyawa


10 Fakta Kecamatan Cibadak Kabupaten Sukabumi

Rabu, 02 November 2016 - 07:01:15 WIB


10 Fakta Kecamatan Cibadak Kabupaten Sukabumi
© Fery Heryadi
Hidangan makanan

SUKABUMIUPDATE.COM – Jika awal tahun 2000an nama Cibadak disebut, yang ada dalam benak Anda mungkin Nayor, Stasiun Kereta Api, Terminal, dan pasar, Labora, Gunung Walat, Angkot, kemacetan, dan lain sebagainya.

Seperti kebanyakan nama kota di Jawa Barat yang memakai awalan kata "Ci" (Ci =Cai = air), Cibadak pun dilewati beberapa sungai cukup besar. Sedangkan kata "badak" diambil dari hewan yang sekarang hanya terdapat di Ujung Kulon, Provinsi Banten. Alkisah, hewan-hewan purba tersebut sering membuat kubangan lumpur agar terbebas dari kutu dan parasit penghisap darah. Karena orang zaman dulu mengikuti alur sungai sebagai patokan jalan, daerah Cibadak mulai dijadikan tempat transit pasukan Kerajaan Pajajaran. Setelah peradaban manusia masuk, badak-badak itu pun tersisihkan dan punah.

Versi lain bercerita, Raja Sunda Sri Jayabupati atau Prabu Detya Maharaja diketahui setelah Pleyte menulis “Maharaja Cri Jayabupathi Soendas Outdst Bekend Vorst”, dengan mengetengahkan transkip mengenai “Prasasti Cibadak” (RPMSJB, Buku Ketiga, hal 10). Prasasti ini terdiri dari empat batu bertulis ditemukan di Sungai Citatih, satu di Pangcalikan, tiga lainnya di Bantar Muncang. Menurut ahli sejarah, prasasti tersebut dibuat pada 11 Oktober 1030.

Hal unik lain mengenai kota dengan sebutan Kota Nayor ini, sukabumiupdate.com merangkumnya dalam “10 Fakta Kecamatan Cibadak” berikut:

1. Sejarah, Luas Wilayah, dan Jumlah Penduduk, dan Agama

Berada di Utara Kabupaten Sukabumi, luasnya 63.435,41 Ha (sawah 1,511.4 Ha, bukan sawah 3,316.5 Ha, lahan non pertanian 1,609.4 Ha), berada pada 0-500 meter di atas permukaan laut (dpl) (BPS 2014). Jumlah Penduduk Kecamatan Cibadak sekira 100.000 jiwa (50.800 laki-laki dan 49.000 perempuan), dengan kepadatan 1.064 jiwa/Km2, tersebar di Kelurahan Cibadak, Desa Batununggal, Ciheulang Tonggoh, Karangtengah, Neglasari, Pamuruyan, Sekarwangi, Sukasirna, Tenjojaya, dan Warnajati, sebagian besar pedesaan terletak di dataran dan lereng. Di Selatan, Gunung Walat paling mudah terlihat, merupakan sumber daya alam bahan utama semen, keramik, agribisnis, dan pariwisata.

Sekitar 90 persen masyarakat Cibadak memeluk Islam, sisanya pemeluk Katolik, Protestan, Budha dan Hindu. Antar pemeluk agama satu sama lain hidup rukun saling berdampingan, karena toleransi umat beragama di Cibadak terbilang baik. Toleransi ini bisa terlihat dari perayaan-perayaan hari-hari besar keagamaan selalu berjalan baik, semua umat beragama menjalankan peribadatannya dengan nyaman.  

2. Pendidikan dan Pekerjaan

Di sini banyak sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SM), seperti, untuk tingkat TK dan SD tercatat TKIT-SDIT Al-Ummah, SDIT Assyamsuriyah, SDN 1-12 Cibadak, SD Mardi Yuana, MI Kebonrandu, SDIT AD-Dawah, SLBN Handayani (SD, SMP dan SMA), SDN Pamuruyan, SDN Karangtengah dan lain-lain. Untuk tingkat sekolah menengah pertama (SMP) terdapat SMP Tamansiswa Cibadak, SMP PGRI Cibadak, SMP PGRI Batuasih, SMP Mardi Yuana, MTs Assyamsuriyah, Mts Pamuruyan, Mts Al-Hidayah, Mts Yayasan Lijamul Athfal, SMPN 1, SMPN 2 dan SMPN 3. Dan untuk tingkat SMA terdapat MA Assyamsuriyah, SMA Pesantren unggul Al-Bayan Sekarwangi, SMAN 1 Cibadak, dan SMA PGRI Cibadak, SMKN 1 Cibadak, SMK Taman Siswa, SMK Lodaya, MAN Cibadak, dan MA Al-Hidayah, dan lain-lain.

Walaupun banyak terdapat lembaga pendidikan, potensi utama kecamatan ini 1.540 Ha lahan pertanian, sehingga sektor ini menunjang pendapatan masyarakatnya. Potensi peternakan antara lain, domba dan kambing, dan ayam ras. Kota ini juga memiliki pasar di wilayah Kebonpala seluas 12.000 m2. Selain itu, delapan industri besar yang menyerap 24.000 tenaga kerja, 17 industri sedang  menyerap tenaga kerja sebanyak 11.924 tenaga kerja, dan industri rumah tangga mencapai 56 buah dengan 122 tenaga kerja.

3. Cuaca dan Curah Hujan

Suhu di Kota Cibadak berkisar antara 20 -26º Celcius, seperti halnya Sukabumi yang merupakan kota dengan curah hujan yang cukup signifikan. Bahkan di bulan terkering pun terdapat potensi hujan yang banyak. Menurut Köppen dan Geiger, iklim ini diklasifikasikan sebagai Af. Suhu di sini rata-rata 23.5°Celcius, dengan curah hujan rata-rata 2.806 mm. Pada musim penghujan seperti sekarang, drainase yang buruk bisa mengakibatkan jalanan berubah menjadi “sungai”.

4. Trotoar

Semua trotoar di Cibadak memang dipenuhi pedagang kaki lima (PKL). Namun khusus di area pusat perdagangan, banyak ruko (rumah toko) tidak memiliki lahan parkir. Bahkan trotoar pun seperti dimiliki oleh mereka. Bagaimana tidak, mulai lantai dua dan seterusnya, bangunan dibuat menjorok ke jalan, sehingga area yang harusnya menjadi hak pejalan kaki itu, tak beda dengan halaman depan pemilik ruko. Anehnya lagi, saat mereka membangun ulang rukonya, pemerintah daerah (Pemda) tidak pernah memaksa mereka untuk mendirikan bangunan mundur dari tempat sebelumnya.

5. Nayor

Moda transportasi tradisional khas Cibadak adalah Nayor, kereta kuda semacam Delman atau Dokar, yang eksistensinya mulai tersudut. Nayor sudah ada sejak zaman Belanda dan pernah berjaya sampai era 80an sebagai sarana transpotasi massal andalan warga setempat. Populasi kendaraan bermotor yang relatif masih sedikit pada waktu itu ditunjang oleh ruang terbuka hijau yang masih banyak ditemukan sebagai tempat ngangon kuda, sangat menunjang keberadaan Nayor. Nayor yang pernah menjadi primadona masyarakat Cibadak, keberadaannya kini seperti hidup segan mati tak mau. Bahkan setelah berpuluh tahun eksis, baru pada 2016 ini dibuatkan patung Nayor sebagai ikon Kota Cibadak.

6. Bahasa Gaul

Orang Cibadak memiliki bahasa gaul tersendiri, kata “garpu” berubah jadi urpaganung, “Cibadak” berubah jadi Paudakcibanang, “Selamet” berubah jadi umatselaneng, dan lain-lain. Uniknya, bahasa gaul Cibadak juga dipengaruhi bahasa Timur Tengah, sebagai contoh ketika Anda ditawari secangkir kopi, mereka akan menawari Anda dengan kata “gahwa?” Jika ditelusuri, gahwa berarti kahve dalam dialek Turki. Namun, saat menggunakan dialek Italia dibaca menjadi caffe, dan coffee dalam kosa kata bahasa Inggris. Namun Anda akan kebingungan jika kata-kata tersebut digabung dengan rumus bahasa gaul di atas, misalnya paubaljinang berarti “gunung“, uramhaning artinya “perempuan”, dan “nggak asyik” dengan pauradbaning. Tak diketahui sejak kapan rumus bahasa gaul tersebut ditularkan.

7. Labora

Era 80-90an, Labora adalah tempat favorit nongkrong anak-anak SMA sekitar Cibadak, asal bisa jongkok depan pertokoan, tapi serasa sudah gaul. Pemilik toko di sini multietnik, Sunda, Arab, Tionghoa, dan Minang. Dan alat tulis, salon kecantikan, kios buah, pakaian, mainan, dan alat musik, adalah umum dijual di sini. Selain Labora, pernah ada Toserba pertama di Cibadak yakni Tri M Paris, dan Irlin, sedangkan untuk Berkah Baru, hingga kini masih ada. Tri M dan Berkah berada di Cibadak kota, sedangkan Irlin di Jalan Primer, arah ke Pelabuhan Ratu. Kini, tidak jauh dari Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Sekarwangi, juga telah berdiri Cibadak Mal, Ramayana Dept. Store, dan Robinson.

8. Wisata Kuliner Murmer

Sebagai daerah transit dari arah Kota Sukabumi, Pajampangan, dan Palabuhanratu menuju Kota Bogor atau Jakarta, Cibadak adalah kota kecil yang tidak pernah mati. Sehingga wajar jika di sini banyak ditemui jajanan kuliner kaki lima dan buka hingga tengah malam. Walaupun jajanan kaki lima, namun soal rasa, berani ngadu. Di sini, Anda bisa menikmati bubur ayam 24 jam, martabak, gorengan, putu mayang, ayam goreng kampung, manisan, candil, dan bandros kelapa muda Mang Yayat di sekitar Labora, Ayam Geprek di belakang Ruko Kantor Pos, Nasi Uduk Firmansyah, dan Ayam Bakar Kaindra tidak jauh dari pertigaan Nagrak, dan banyak lagi lainnya. Soal harga, dijamin murah meriah.

9. Budaya Minum Kopi

Tidak hanya Indonesia, budaya minum kopi menjadi ritual rutin bagi warga Cibadak. Bedanya, mereka menyebutnya dengan istilah gahwa. Tidak heran jika kemudian banyak bermunculan kedai-kedai kopi di kota kecil ini, salah satunya Kopi Onk. Bukan hanya karena hommy and friendly yang menjadikan kedai ini banyak dikunjungi penikmat gahwa, tetapi juga fasilitas free hotspot dan sajian kuliner beragam. Aneka jenis gahwa bisa Anda nikmati di café berlokasi tidak jauh dari stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Ongkrak, Desa Pamuruyan ini, termasuk live music pada setiap akhir pekan.

10. Komunitas Musik

Anak muda Cibadak termasuk getol mengadakan aktivitas musik, tercatat beberapa komunitas musik yang pernah ada, di antaranya Post Production, Gabungam Musisi Cibadak (GMC), Ikatan Musisi Cibadak (IMC), dan Komunitas Under Ground. Satu di antaranya masih bisa terlihat eksistensinya dan mulai melakukan pergerakan kembali setelah menyadari pentingnya menghidupkan kembali geliat musik di Kota Nayor tersebut. Rental studio musik yang pernah ada di kota ini adalah Bill Studio, Kartika Studio, Q-noise Studio, Boy Studio, Risris Rap GBT Studio, dan lainnya. Terakhir, digelar Najor City Music Fest di Cibadak (NJMF) 2016, Sabtu (29/10).

Redaktur: DANANG HAMID
E-mail Redaksi: sukabumiupdateredaksi@gmail.com
E-mail Marketing: marketingsukabumiupdate@gmail.com




TOPIK:

Berikan Komentar